Sabtu, 08 Desember 2012

Auf bin Harits al Afra RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Auf bin Harits bin Rifaah adalah seorang pemuda dari kalangan Anshar dan saudara kandung dari Muawwidz bin Harits al Afra, salah satu dari dua pemuda Anshar yang membunuh Abu Jahal di Perang Badar. Nama al Afra dinisbahkan kepada ibunya, karena itu Auf bin Harits terkadang dikenali dengan nama Auf bin Harits al Afra, atau Auf bin Afra saja.
Auf bin Harits merupakan orang Yatsrib (nama Madinah sebelum Islam) yang mula-mula memeluk Islam, bahkan bisa dikatakan sebagai ‘pioner’ dari tersebarnya Islam di kotanya itu. Saat itu tahun ke sebelas dari kenabian, bersama lima orang temannya yang masih sama-sama muda, ia melaksanakan ibadah haji. Mereka berenam ini memang terkenal sebagai pemuda yang cerdas dan cukup berpengaruh di kabilahnya masing-masing. Suatu malam, usai melaksanakan seluruh ritual haji (tentunya dengan cara jahiliah), mereka duduk-duduk di Aqabah, Mina sambil mengobrol. Tiba-tiba muncul tiga orang, yang salah satunya berkata, “Siapakah kalian ini?”
Auf dan teman-temannya berkata, “Kami orang-orang Khazraj dari Yatsrib!!”
“Sekutu dari orang-orang Yahudi??” Tanya lelaki itu.
“Benar!!”
Lelaki itu berkata dengan sopannya, “Bolehkan kami duduk sebentar bersama kalian dan memperbincangkan sesuatu!!”
Penampilan tiga orang itu memang sangat menarik, terutama lelaki yang berbicara tersebut, wajahnya sangat cerah layaknya bulan purnama bersinar, pandangan mata dan ucapannya sangat menyejukkan hati. Tentu saja, karena lelaki tersebut tidak lain adalah Rasulullah SAW, dan dua orang yang menemani beliau adalah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Karena itu mereka mempersilahkannya.
Nabi SAW kemudian menceritakan tentang risalah kenabian beliau dan seluk-beluk tentang keislaman. Usai beliau bercerita, ke enam orang tersebut saling berpandangan, kemudian salah satunya berkata, “Demi Allah, kalian semua mengetahui bahwa dia (yakni Rasulullah SAW) benar-benar seorang nabi, yang ciri-cirinya sering disebut-sebut oleh orang-orang Yahudi. Karena itu jangan sampai mereka mendahului kalian, dan marilah kita mengikuti seruannya memeluk Islam!!”
Memang, dalam pergaulannya dengan orang-orang Yahudi Yatsrib selama ini, telah santer terdengar berita kalau mereka tengah menunggu kehadiran seorang nabi yang muncul pada masa itu, dan menyebutkan ciri-cirinya. Bahkan orang-orang Yahudi itu, yang termasuk minoritas dan lemah dibanding penduduk asli Yatsrib, sering membangga-banggakan kalau telah mengikuti nabi tersebut, mereka akan menjadi kuat dan mampu memerangi Khazraj dan Aus dan menghancur-leburkannya, sebagaimana di masa lalu kaum Ad dan Iram dihancurleburkan dengan pertolongan Allah.
Auf dan ke lima temannya tampaknya memang sependapat tentang kebenaran kenabian Rasulullah SAW itu. Apalagi dengan penjelasan beliau tentang Risalah Islamiah, mereka berharapan besar akan bisa menyatukan dua suku, Khazraj dan Aus, yang telah terlibat perang saudara selama bertahun-tahun lamanya, dan melenyapkan permusuhan yang berlarut-larut rasanya.
Satu persatu mereka menjabat tangan Rasulullah SAW dan menyatakan diri memeluk Islam. Setelah keislamannya, Auf berkata, “Kami tidak akan membiarkan kaum kami (yakni Khazraj) dan kaum lainnya (yakni Aus) terus-menerus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah akan menyatukan mereka dengan kehadiran engkau. Sepulangnya nanti, kami akan mengajak mereka untuk memeluk agama engkau, dan jika mereka bisa bersatu , maka sungguh tidak ada yang lebih mulia di mata kami kecuali engkau!!”
Nabi SAW sangat gembira dengan niat Auf dan kawan-kawannya untuk mendakwahkan Islam kepada orang-orang Yatsrib, dan beliau mendoakan mereka dengan kebaikan. Dan ternyata benar, seruan mereka memperoleh sambutan luar biasa dari kaumnya termasuk dari ‘musuhnya’, kaum Aus. Segera saja nama Nabi Muhammad SAW menjadi ‘buah bibir’ di masyarakat Yatsrib dan banyak sekali yang memeluk Islam.
Pada tahun haji berikutnya, yakni tahun ke duabelas dari kenabian, lima dari enam pemuda tersebut termasuk Auf bin Harits al Afra, berikut tujuh orang tokoh-tokoh dari berbagai kabilah termasuk dari suku Aus, bertemu dan menghadap Nabi SAW di Aqabah, Mina untuk meneguhkan keislaman mereka, mewakili sebagian besar dari kaumnya yang telah memeluk Islam. Peristiwa ini dalam tarikh Islam disebut sebagai Bai’atul Aqabah Pertama, dan menjadi salah satu tonggak perkembangan Islam.
Karena peristiwa itu, tidak heran kalau Auf bin Harits menjadi salah satu pemuda yang disayang dan diperhatikan khusus oleh Rasulullah SAW.
Pada awal perang Badar, tiga orang penunggang kuda yang handal dari kaum kafir Quraisy menantang duel. Mereka bertiga masih bersaudara, yakni Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah, saudara kandung dari Hindun binti Utbah. Mendapat tantangan duel ini, tiga orang pemuda Anshar langsung maju menyambutnya, yakni Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah. Tetapi tiga tokoh Quraisy tersebut tampaknya tidak berkenan, salah satu dari mereka berkata, "Siapakah kalian ini?"
"Kami adalah orang-orang Anshar!!" Kata ketiga pemuda tersebut.
"Kami hanya menginginkan orang-orang yang terpandang (untuk menerima tantangan kami), kami tidak memerlukan kalian. Kami hanya menginginkan kerabat pamanku..!!"
Sebagian dari kaum kafir Quraisy juga ada yang berkata, "Hai Muhammad, keluarkanlah orang-orang yang terpandang yang berasal dari kalangan kami!!"
Para pemuda Anshar tersebut tampaknya marah dan tersinggung dengan sikap yang meremehkan itu, tetapi Nabi SAW memanggil mereka untuk kembali. Kemudian beliau memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib untuk menghadapi mereka, dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Tetapi Ubaidah terluka parah dalam duel tersebut, yang menghantarnya memperoleh syahid dalam pangkuan Rasulullah SAW.
Auf bin Harits cukup kecewa karena gagal berduel dengan tokoh Quraisy. Karena itu, setelah peperangan mulai berlangsung, ia mendatangi Nabi SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyebabkan Rabb (Allah) tersenyum terhadap hamba-Nya??"
Nabi SAW tersenyum melihat semangatnya. Beliau memang seorang motivator yang hebat, yang memahami benar bagaimana perasaan pemuda Anshar ini akibat peristiwa yang dialami sebelumnya. Beliau bersabda, "Kalau Dia melihat hamba-Nya menerjunkan diri menyerang musuh tanpa memakai baju besi!!"
Mendengar sabda beliau ini, Auf segera melepaskan baju besi yang dipakainya, kemudian menghambur menyerang musuh dengan pedangnya. Benarlah yang dikatakan Rasulullah SAW, dengan tanpa memakai baju besi, ia jadi lebih leluasa bergerak dan lebih maksimal dalam "menumpahkan" semangatnya untuk membela panji-panji keislaman. Tetapi tak ayal, tubuhnya-pun menjadi serangan empuk dari berbagai macam senjata musuh dan akhirnya ia menemui syahidnya.
Bukanlah penyesalan, karena kesyahidan itulah yang sebenarnya banyak diinginkan oleh para sahabat Nabi SAW. Bahkan Khalid bin Walid sempat "menyesal" ia tidak bisa menemui syahidnya di medan pertempuran tetapi hanya ‘syahid’ di atas tempat tidurnya, karena ia selalu memenangkan berbagai pertempuran yang diterjuninya, berkat doa Nabi SAW, yang kemudian menggelarinya sebagai Syaifullah, Si Pedang Allah.
            Bagi Auf bin al Afra sendiri, kesyahidannya  seolah melengkapi kemuliaan keluarganya, karena saudaranya Muawwidz bin al Afra, setelah berhasil membunuh Abu Jahal juga menemui syahidnya di perang Badar tersebut. Sedangkan saudara kandungnya yang lain, Mu’adz bin Harits al Afra tetap dalam keadaan hidup walau mengalami banyak luka-luka. Tetapi sebagian riwayat menyebutkan, Mu’adz juga meninggal beberapa hari atau minggu setelah perang Badar tersebut.

Sabtu, 10 November 2012

Sawad bin Ghaziyyah RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Sawad bin Ghaziyyah RA adalah salah seorang Ahli Badar, dan termasuk dari sedikit sahabat yang menemui syahidnya di medan Perang Badar itu. Pada hari berlangsungnya pertempuran ketika sedang persiapan pasukan, Nabi SAW mengatur barisan dan meluruskannya, seperti ketika meluruskan shaf-shaf shalat. Saat tiba di tempat Sawad, beliau melihat kalau posisinya agar bergeser, tidak lurus dengan anggota pasukan lainnya. Beliau memukul perut Sawad dengan anak panah sambil bersabda, "Luruskan barisanmu, wahai Sawad…!!"
Tetapi tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalasmu (meng-qishash-mu)..!!"
Para sahabat terkejut, dan sebagian besar marah dengan ucapan Sawad ini, apalagi Umar bin Khaththab. Nabi SAW sendiri sebenarnya terkejut dengan sikapnya itu, tetapi beliau menenangkan mereka. Sambil menyerahkan anak panah yang dipakai memukul, beliau bersabda, "Kalau begitu, balaslah wahai Sawad…!!"
Sambil menerima anak panah dari tangan Nabi SAW, Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau memukulku di perut yang tidak tertutup kain, karena itu hendaklah engkau singkapkan baju engkau..!!"
Para sahabat makin marah dengan sikap dan kemauan Sawad yang tidak sepatutnya ini. Tetapi Nabi SAW tetap menenangkan mereka dan memenuhi permintaan Sawad. Setelah beliau menyingkapkan baju beliau, Sawad segera melemparkan anak panah tersebut dan memeluk perut Nabi SAW dengan erat sambil menangis bahagia,  sekaligus meminta maaf kepada beliau. Sekali lagi Nabi SAW dibuat terkejut dengan tindakan Sawad yang tidak tersangka-sangka ini. Beliau berkata, "Apa-apaan engkau ini, Sawad….??"
Sawad berkata, "Inilah yang aku inginkan, ya Rasulullah, telah lama aku berharap kulitku yang hina ini bisa bersentuhan dengan kulit engkau yang mulia, dan aku bersyukur bisa melakukannya, semoga ini menjadi saat-saat terakhir dalam hidupku bersama engkau….!!"
Nabi SAW tersenyum mendengar jawaban Sawad ini, karena apa yang dilakukannya adalah ekspresi kecintaannya kepada Nabi SAW. Segera saja beliau mendoakan kebaikan dan ampunan bagi Sawad.
            Ketika pertempuran mulai berkobar, Sawad segera menghambur ke barisan kaum musyrikin yang jumlahnya jauh lebih besar, yakni lebih dari tiga kali lipat banyaknya. Dengan semangat jihad yang begitu menggelora dan keinginan untuk mencapai syahid di jalan Allah, ia menyerang musuh tanpa sedikitpun rasa takut. Luka tikaman dan sayatan senjata tidak langsung menghentikan langkahnya untuk menghadang serangan kaum musyrikin. Sawad baru berhenti berjuang ketika kakinya tidak lagi mampu menyangga tubuhnya, tangannya tak lagi mampu menggerakkan pedang akibat terlalu banyaknya luka-luka dan darah yang mengucur dari tubuhnya. Namun demikian mulutnya tampak tersenyum ketika tubuhnya roboh ke tanah, karena ruhnya langsung disambut para malaikat yang langsung mengantarnya ke hadirat Allah.

Sa’d bin Khaitsamah RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Sa'd bin Khaitsamah adalah seorang sahabat Anshar yang memeluk Islam pada masa awal, yakni ketika Ba'iatul Aqabah kedua. Ia juga ditunjuk sebagai salah satu dari duabelas pemimpin kaumnya di Madinah, yakni salah satu kabilah dari suku Aus.
Ketika Nabi SAW menggerakkan pasukan ke Badar, yang saat itu tujuan utamanya untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, Sa'd dan ayahnya, Khaitsamah bin Harits mendatangi Nabi SAW untuk mengikutinya. Tetapi Nabi SAW menolak jika mereka berdua yang mengikutinya, dan hanya salah satu saja yang diijinkan. Khaitsamah berkata kepada anaknya, "Tidak bisa tidak, salah seorang dari kita harus tinggal, karena itu tinggallah kamu bersama istri-istrimu!"
Tetapi Sa'd menolak perintah ayahnya tersebut. Untuk membaktikan diri kepada Nabi SAW dan Islam, ia tidak ingin mengalah begitu saja. ia berkata, "Jika tidak karena jannah, aku akan mendahulukan ayah untuk berangkat. Sesungguhnya aku menginginkan syahid di tempat yang kutuju ini."
Karena tidak ada yang mengalah dan masing-masing bertahan dengan argumentasinya, maka Nabi SAW menyarankan mereka untuk melakukan undian. Ternyata Sa'd yang menang dan terpilih ke Badar mengikuti pasukan yang dibentuk Rasulullah SAW.
Tujuan utama untuk menghadang kafilah itu mengalami kegagalan karena Abu Sufyan bin Harb yang menjadi pimpinan kafilah itu sangat hati-hati dan waspada. Dari mata-mata yang dikirimkannya ia mengetahui tujuan Nabi SAW, maka ia segera mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan. Ia juga membelokkan arah kafilahnya menghindari Badar, jalur utama yang biasanya dilalui kafilahnya, dan mengambil jalan memutar melewati pesisir pantai.
Pasukan musyrikin Makkah yang berjumlah seribu orang dan dipimpin sendiri oleh Abu Jahal segera berangkat ke Badar, dan pertempuran dengan kaum muslimin yang hanya berjumlah 314 orang (termasuk Nabi SAW) tidak bisa dihindari. Setelah beberapa duel berlangsung, pertempuran mulai pecah, dan Sa’d bin Khaitsamah langsung berhadapan dengan ‘algojo’ Quraisy yang bertubuh tinggi besar, Amr bin Abdu Wudd, pahlawan Quraisy yang tidak terkalahkan.
Sa’d menyadari bahwa ia bukan tandingan yang sepadan bagi Ibnu Abdu Wudd, tetapi semangatnya sama sekali tidak menyurut. Sejak awal ia ‘mendaftarkan diri’ mengikuti pasukan Rasulullah SAW, seolah-olah ia telah mendapat bayangan akan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan. Karena itulah ia rela meninggalkan istri-istri dan anak-anaknya, bahkan tidak mau digantikan ayahnya karena Nabi SAW hanya membolehkan salah satu dari mereka yang berangkat. Dengan dorongan semangat yang seperti itu, Sa’d menyerang algojo Quraisy itu dengan hebatnya, sehingga membutuhkan kerja keras dan waktu cukup lama bagi Amr bin Abdu Wudd untuk bisa mematahkan serangannya. Ibnu Abdu Wudd memenangkan pertempuran dan membunuh Sa’d, tetapi sesungguhnya Sa’d bin Khaitsamah-lah yang ‘menang’, karena hal itu mengantarkannya ke surga yang sangat dirindukannya.        
Pada tahun berikutnya, ketika Nabi SAW sedang mempersiapkan pasukan untuk Perang Uhud, Khaitsamah bin Harits mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi bertemu dengan anakku, Sa’d bin Khaitsamah dalam keadaan yang seindah-indahnya. Ia menikmati hidup yang nyaman di surga. Ia berkata kepadaku : Wahai ayah, apa yang dijanjikan Tuhanku benar adanya, maka segeralah engkau menemui aku untuk bercengkerama di surga. Pagi harinya waktu bangun, aku sungguh merasa sangat rindu untuk menemani anakku dan bertemu Tuhanku. Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dikaruniai ‘rezeqi’ mati syahid…!!”
            Nabi SAW tersenyum mendengar cerita Khaitsamah tersebut dan mendoakan seperti yang dimintanya. Ketika perang Uhud berlangsung, ia langsung menerjunkan diri dalam kancah pertempuran dan akhirnya menemui syahid seperti yang dirindukannya.

Umair bin Hammam al Anshari RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Umair bin Hammam RA adalah seorang sahabat Anshar dan seorang Ahli Badar, dan termasuk dalam sedikit sahabat yang memperoleh syahid dalam pertempuran tersebut. Ketika memacu semangat pasukan muslim, Umair mendengar Nabi SAW bersabda, “Demi diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seseorang di antara mereka yang berperang pada hari ini dengan sabar, mengharap keridhaan Allah, maju terus pantang mundur, melainkan Allah akan memasukkannya ke surga…!!”
Umair begitu terkesan dengan seruan Nabi SAW tersebut. Kemudian Nabi SAW bersabda lagi, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi..!!”
"Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi??" Kata Umair seolah tak percaya.
Nabi SAW bersabda, “Benar!!”
Umair berkata, “Bakhin! Bakhin!!”
Mendengar ucapannya itu, beliau bersabda, “Wahai Umair, apa yang membuatmu berkata : Bakhin, bakhin?”
“Tidak lain, ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi salah satu penghuninya."
"Engkau adalah salah satu dari penguni surga itu!!" Kata Nabi SAW menegaskan. 
Mendengar sabda Nabi SAW mata Umair jadi berbinar-binar penuh kegembiraan. Saat itu ia telah mengambil kurma dari wadahnya untuk dimakan, tiba-tiba ia mengembalikannya, dan berkata, "Untuk hidup hingga menghabiskan kurma-kurma ini rasanya terlalu lama."
Diletakkannya kurma itu dan Umair segera terjun ke medan pertempuran. Ia berperang dengan perkasa memporak-porandakan kaum kafir Quraisy hingga menemui syahidnya.
            Sebagian riwayat lain menyebutkan, peristiwa tersebut menjadi asbabun nuzul dari Surah Al Baqarah 154. Riwayat lainnya menyebutkan, sahabat yang gugur tersebut adalah Tamim bin Hammam, saudaranya, bukan Umair bin Hammam.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Mu'awwidz bin Harits al Afra RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

            Mu’awwid bin Harits bin Rifaah al Afra, atau lebih dikenal dengan nama Mu’awwid bin Afra, adalah seorang pemuda dari kalangan Anshar yang memeluk Islam sejak awal Islam didakwahkan di Madinah. Ia berasal dari kabilah Bani Najjar, termasuk suku Khazraj. Dalam perang Badar, ia menerjunkan diri bersama dua saudara kandungnya, Auf bin Harits al Afra dan Mu’adz bin Harits al Afra.
            Pada awal perang Badar, tiga orang tokoh kafir Quraisy mengajukan tantangan duel terhadap pasukan muslim. Segera saja Mu’awwidz bersama saudaranya Auf dan seorang sahabat Anshar lainnya, Abdullah bin Rawahah menyambut tantangan tersebut. Tetapi mereka menolak berduel dengan para sahabat Anshar tersebut dan menginginkan tokoh Quraisy untuk menghadapinya, maka Nabi SAW memanggil mundur mereka. Walau kecewa karena tidak bisa segera membaktikan diri pada pertarungan pertama, mereka patuh dengan perintah Nabi SAW.
Ketika perang Badar mulai berkecamuk dengan sengitnya, Mu’awwwid bersama sahabat Anshar lainnya, Mu’adz bin Amr bin Jamuh merangsek maju ke posisi terdepan. Mereka menghampiri Abdurrahman bin Auf yang berada di ujung tombak pasukan, dan bertanya, "Wahai paman, tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?"           
Abdurrahman bin Auf sempat heran dengan semangat dan keberanian dua pemuda itu, yang masuk begitu jauh ke jantung pasukan musuh. Ia menanyakan keperluannya dengan Abu Jahal, maka Mu'adz bin Amr dengan semangatnya menjawab, "Kudengar ia suka mencaci maki Rasulullah SAW, demi Allah yang diriku di tanganNya, jika aku sudah melihatnya, takkan kubiarkan ia lolos hingga siapakah di antara kami berdua yang terlebih dahulu mati..!"
Ibnu Auf melihat kepada pemuda satunya, maka Mu'awidz bin Afra juga menegaskan pernyataan yang sama seperti Mu’adz. Abdurrahman bin Auf  memandang berkeliling mencari keberadaan Abu Jahal.
Ketika ia telah menunjukkan sosok tokoh kafir Quraisy tersebut, dua pemuda ini langsung menghambur ke arah Abu Jahal. Saat itu Abu Jahal tengah naik kuda, Mu'awwidz menyabet kaki kudanya hingga jatuh, dan Mu'adz menebas kaki Abu Jahal hingga putus. Tetapi kemudian Ikrimah bin Abu Jahal datang, ia menyerang Mu'adz dan mengenai pundaknya hingga hampir putus, sementara Mu'awidz menyerang Abu Jahal dengan gencarnya hingga ia sekarat. Mu'adz sendiri sibuk bertempur melawan Ikrimah dengan satu lengan hampir putus, dan karena terganggu dengan keadaan lengannya itu, sekalian saja ia memotongnya. Setelah jatuhnya (sekaratnya) Abu Jahal, Muawwidz membatu Mu’adz melawan Ikrimah hingga ia lari tunggang langgang.
Setelah robohnya Abu Jahal, mereka berdua menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang mereka lakukan terhadap Abu Jahal. Masing-masing mengaku sebagai pembunuh Abu Jahal, karena itu beliau meminta mereka menunjukkan pedangnya. Setelah memeriksa pedang-pedang mereka itu, beliau bersabda, "Kalian berdua telah membunuh Abu Jahal..!"
Mereka sangat gembira karena ‘misi’ untuk membunuh orang yang selama ini sangat memusuhi dan menyakiti Nabi SAW telah berhasil. Mereka kembali terjun ke medan pertempuran, dan akhirnya Mu’awwidz menemui syahidnya.
            Usai peperangan, Nabi SAW memerintahkan para sahabat mencari Abu Jahal. Akhirnya Abdullah bin Mas'ud yang berhasil menemukannya tengah sekarat dan tak lama kemudian mati. Ia memotong kepalanya dan membawanya kepada Rasulullah SAW. Semua harta rampasan perang milik Abu Jahal diserahkan kepada Mu'adz bin Amr karena Mu'awidz telah syahid dalam perang Badar tersebut.

Umair bin Abi Waqqash RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

            Umair bin Abi Waqqash RA telah memeluk Islam pada masa permulaan, sebagaimana kakaknya Sa'ad bin Waqqash, hanya saja ketika itu ia masih anak-anak. Usia yang masih sangat belia tidak menghalangi semangatnya untuk terus memperkokoh keimanan dan keislamannya. Justru karena itu, pengajaran Nabi SAW menjadi sangat lekat dalam pikirannya, nilai-nilai keimanan seakan menjadi ‘warna’ perkembangan kejiwaannya sehingga ia menjadi seorang muslim yang ‘militan’.
            Umair ikut berhijrah ke Madinah ketika usianya belasan tahun, begitu juga ketika Perang Badar berlangsung. Ketika pasukan muslim siap diberangkatkan ke Badar, ia berlarian kesana kemari di antara anggota pasukan lainnya. Sa'ad sangat heran melihat kelakuan adiknya ini, dan ia menanyakan sebabnya berbuat seperti itu. Umair berkata, "Saya khawatir, jika Rasulullah SAW mengetahui keberadaan saya di sini, beliau akan melarang saya ikut dalam pertempuran ini, karena saya masih sangat muda. Padahal saya sangat berharap bisa menyertainya, dan saya juga berharap akan memperoleh syahid…!"
Belum sempat Sa’d berkomentar, kekhawatirannya menjadi kenyataan, Rasulullah SAW mengetahui keberadaannya, dan beliau langsung melarangnya ikut karena masih terlalu muda. Umair menangis sesenggukan, penuh dengan kepiluan, padahal semangatnya telah memuncak untuk bisa bertempur membela panji-panji keislaman dan keimanan, sesuai dengan tuntutan jiwanya.
Dengan tangis kesedihan yang tidak bisa ditahan, ia memohon dengan sangat kepada Nabi SAW agar beliau mengijinkannya ikut serta. Melihat semangat dan tangis kesedihannya, beliau tidak tega juga. Sesaat beliau memandang kepada Sa’d, yang tampaknya ikut terlarut dalam kesedihan adiknya itu, kemudian Nabi SAW mengijinkannya ikut bergabung dengan pasukan yang dipersiapkan untuk berangkat menuju Badar.
Tidak terkira kegembiraan yang dirasakan Umair mendengar sabda beliau tersebut. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada Nabi SAW, layaknya seseorang yang telah menerima anugerah dan hadiah yang sangat besar, sangat berharga bagi hidupnya. Kalau sekarang ini bisa digambarkan dengan kegembiraan seseorang yang mendapat hadiah satu milyar. Sa’d ikut terlarut dalam kegembiraan bersama adiknya, apalagi kemudian Nabi SAW mendoakan kebaikan untuk dirinya.
            Ketika perang mulai berkecamuk, tanpa ragu-ragu lagi Umair menerjunkan diri dalam kancah pertempuran. Sama sekali tidak tampak kalau ia baru pertama kalinya terjun dalam suatu pertempuran, karena semangatnya yang begitu membara. Setelah ia menerobos kepungan demi kepungan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya lebih dari tiga kali lipatnya itu, ia terjatuh karena terlalu banyaknya luka-luka yang dialaminya. Dan Allah mengabulkan harapannya untuk memperoleh syahid dalam peperangan Badar ini.

Ubaidah bin Harits RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

            Ubaidah bin Harits masih termasuk paman dari Rasululah SAW, saudara sepupu dari ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Tetapi tidak seperti kebanyakan paman-paman beliau lainnya, ia segera memenuhi seruan beliau untuk memeluk Islam.
Sebelum perang Badar mulai pecah dan dua pasukan sedang berhadapan, tampillah tiga orang pahlawan kafir Quraisy yang juga penunggang kuda yang handal menantang duel. Tiga orang itu masih bersaudara, yakni Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah. Tantangan mereka ini langsung disambut oleh tiga orang sahabat Anshar, yang dua di antaranya masih saudara kandung, Muawwidz bin Harits al Afra, Auf bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah.
Kaum Quraisy merupakan suku terpandang dan sangat dihormati di jazirah Arabia, terutama karena mereka yang ‘berkuasa’ dalam mengelola Tanah Haram Makkah, di mana Ka’bah telah menjadi tempat ziarah mereka selama ratusan tahun atau bahkan ribuah tahun. Karenanya tiga orang Quraisy itu memandang rendah kehadiran tiga sahabat Anshar tersebut, mereka berkata, “Siapa pula kalian ini? Kami tidak membutuhkan kalian (untuk berduel), kami hanya menginginkan orang-orang terpandang dari kerabat-kerabat kami (yakni sesama kaum Quraisy). Karena itu Nabi SAW meminta tiga sahabat Anshar tersebut mundur, kemudian memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib untuk menghadapinya.
Hamzah dan Ali dengan mudah dapat melumpuhkan dan membunuh lawannya, sedangkan Ubaidah yang menghadapi Utbah bin Rabiah (dalam riwayat lain, Walid bin Utbah), tampak seimbang. Mereka saling menyerang dan melukai, dan akhirnya sama-sama sekarat. Hamzah dan Ali akhirnya membantu Ubaidah membunuh Utbah.
Dalam riwayat lain disebutkan, pemimpin kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah, menantang duel satu persatu. Majulah putranya, Walid bin Utbah dan Ali bin Abi Thalib maju menghadapinya dan berhasil membunuhnya. Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah pula membunuh lawannya.
Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat. Maka Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi SAW yang sedang memimpin pasukan. 
Nabi SAW meletakkan kepala Ubaidah di kakinya, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut."
Ubaidah memang masih sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi SAW, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, "… (Kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri."
Nabi SAW tersenyum mendengar perkataannya tersebut, dan Ubaidah bertanya, "Apakah aku syahid, ya Rasulullah?"
"Ya," Kata beliau, "Dan aku akan menjadi saksi untukmu!!"
Ubaidah masih terus bertahan hidup hingga Perang Badar usai, walau ia harus menahan rasa sakit yang tidak terperikan. Empat atau lima hari kemudian ia meninggal dalam perjalanan pulang ke Madinah. Nabi SAW menguburkannya di Shafra', sebuah wadi antara Badar dan Madinah, dan beliau sendiri yang turun ke kuburnya untuk memakamkannya.