Sabtu, 09 Maret 2013

Abdullah bin Abbas RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW, Kyai (Habar)-nya Ummat (Muhammad) ini

            Abdullah bin Abbas masih sepupu Nabi SAW sendiri walaupun usianya jauh berbeda, ia adalah putra dari Abbas bin Abdul Muthalib. Sejak masih dalam dari kandungan ibunya, Ummu Fadhl, Rasulullah SAW telah ‘meramalkan’ akan keutamaan dirinya. Suatu ketika di tahun 9 atau 10 dari kenabian, Ummu Fadhl yang telah memeluk Islam tetapi menyembunyikan keislamannya, datang menemui Nabi SAW. Tiba-tiba beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau sedang mengandung, jika engkau telah melahirkan, datanglah kepadaku dengan membawa anak itu!!”
            Beberapa bulan kemudian Ummu Fadhl melahirkan seorang anak lelaki, dan ia membawa putranya tersebut kepada Nabi SAW. Maka beliau melantunkan adzan di telinga kanan bayi tersebut, dan iqamah di telinga kirinya. Kemudian Rasulullah SAW meneteskan keringat beliau ke mulut sang bayi dan bersabda kepada Ummu Fadhl, “Namakanlah anak ini Abdullah, sekarang pulanglah engkau bersama bapaknya para khalifah!!”
            Walau keheranan dengan perkataan Nabi SAW, tetapi Ummu Fadhl pulang tanpa bertanya apa maksud ucapan beliau itu. Sampai di rumah, ia menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW kepada suaminya, maka Abbas segera berpakaian dan berangkat ke tempat kediaman Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, apa yang engkau katakan (kepada istriku) itu??”
            Nabi SAW bersabda, “Seperti yang diceritakan istrimu itu, dia adalah bapak dari para khalifah. Di antara mereka ada yang disebut As Saffah, Al Mahdi, dan ada pula yang akan menjadi imam shalat dari Isa bin Maryam!!”
            Di kemudian hari, anak-anak keturunan Ibnu Abbas ini memang memegang jabatan kekhalifahan dalam kurun waktu cukup, yang kemudian dinisbahkan kepada nama ayahnya, Abbas, yakni Daulah Abbasiah.
Abdullah bin Abbas hidup dan bergaul bersama Rasulullah SAW ketika masih anak-anak. Ia berhijrah ke Madinah pada tahun 5 hijriah ketika berusia 8 tahun. Ia berangkat bersama kakaknya, Fadhl bin Abbas dan seorang budaknya, Abu Rafi. Mereka sempat tersesat di Rakubah sebelum akhirnya sampai di kediaman Bani Amr bin Auf dan masuk ke Madinah.
Suatu ketika Nabi SAW menariknya mendekat, menepuk-nepuk bahunya dan berdoa untuknya, "Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam, ajarkanlah kepadanya ta'wil (yakni, ilmu tentang tafsir Al Qur’an) ." (Allahumma, faqqihuu fiddiin, wa 'allimuu fit ta'wiil).
Doa ini diulangi beberapa kali oleh Nabi SAW ketika bertemu Ibnu Abbas, dalam beberapa kesempatan yang berbeda. Tentu saja doa beliau ini dikabulkan Allah, dan ia benar-benar menjadi orang yang sangat mendalam ilmu-ilmu agama (Keislaman) dan menjadi ahli tafsir Al Qur'an, dalam usianya yang masih sangat muda.
Abdullah bin Abbas memang selalu menghadiri majelis pengajaran Nabi SAW, dan menghafalkan apa yang beliau sampaikan. Ketika berusia 10 tahun, yakni setelah bergaul dengan Rasulullah SAW selama dua tahun, ia telah mampu menghafal Al Qur'an hingga manzil (yang diturunkan) terakhir. Ketika Rasulullah wafat, ia berusia 13 tahun dan saat itu ia telah menjadi seorang ahli tafsir Al Qur'an yang diakui oleh para sahabat lainnya. Namun demikian ia tidak berhenti menggali dan mencari ilmu dari para sahabat-sahabat Nabi SAW yang terdahulu. Ia tidak segan memacu tunggangannya mengarungi padang pasir menemui seorang sahabat, yang tidak terkenal sekalipun, bila didengarnya ia pernah memperoleh pengajaran (atau suatu hadits) langsung dari Nabi SAW. Sungguh, kehausannya akan ilmu agama, apalagi yang bersangkutan dengan al Qur’an dan hadits Nabi SAW seakan tak pernah terpuaskan.
Tidak jarang untuk satu masalah yang baru diketahuinya setelah Nabi SAW wafat, Ibnu Abbas bertanya pada beberapa orang sahabat yang berbeda, walau jawaban mereka lebih kurang sama. Bahkan ia pernah berkata, “Sesungguhnya aku pernah menanyakan satu masalah kepada tiga puluh orang sahabat yang mendengar langsung dari Rasulullah SAW!!”
Ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, ia selalu membawa serta pemuda belasan tahun itu (yakni Abdullah bin Abbas) dalam majelis permusyawaratan yang dihadiri oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Perang Badar (Ahlul Badar). Tidak jarang dalam suatu masalah yang sangat pelik, Umar meminta pendapatnya dan memakai pemikirannya sebagai jalan keluar.
Suatu ketika Ibnu Abbas melihat Nabi SAW sedang shalat sunnah, segera saja ia berdiri di belakang beliau dan mengikuti beliau shalat. Melihat atau merasakan kehadirannya, beliau menarik tangannya hingga berdiri sejajar, kemudian meneruskan shalatnya. Tetapi Abdullah bin Abbas mundur selangkah sambil tetap meneruskan shalat. Setelah selesai shalat, Nabi SAW menanyakan kenapa ia mundur lagi ke belakang, Ibnu Abbas berkata, "Wahai Rasulullah, engkau adalah pesuruh Allah, bagaimana mungkin saya dapat berdiri sejajar denganmu."
Rasulullah SAW tersenyum, dan kembali mendoakannya seperti sebelumnya, yakni : Allahumma faqqihuu fiddiin, wa 'allimuu fit ta'wiil.
Dengan berbagai semangatnya dalam menggali dan mengamalkan Al Qur’an, serta ajaran Islam lainnya tersebut, tidak heran kalah Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya dia (Ibnu Abbas) adalah Kyai (Habar)-nya umat ini!!”
            Seusai perang Hunain, Nabi SAW menyatakan bahwa sepeninggal beliau kelak, orang-orang Anshar akan mengalami perlakuan pilih kasih dari pihak yang berkuasa, hal ini terekam kuat dalam ingatannya walau saat itu ia masih kecil. Hal itu memunculkan tekad dalam hatinya untuk membela orang-orang Anshar jika saat itu tiba.
Pada masa khalifah Umar atau Utsman (perawi Abu Zinad ragu antara Umar atau Utsman, tetapi kemungkinan besar adalah masa Utsman, karena Umar terkenal sangat adil dan berhati-hati dalam memperlakukan umat Islam), sekelompok sahabat, di antaranya Hasan bin Tsabit al Anshari dan Abdullah bin Abbas, mewakili orang-orang Anshar meminta kepada khalifah agar memenuhi hajat kebutuhan mereka. Beberapa sahabat berdiri mengutarakan keutamaan orang-orang Anshar dan jasa-jasa mereka saat bersama Nabi SAW, dengan harapan khalifah bisa memenuhinya.
Kebutuhan orang-orang Anshar yang diperjuangkan saat itu memang nilainya cukup besar, sehingga khalifah tidak bersedia memberikannya dengan berbagai argumen dan alasan. Beberapa orang sahabat akhirnya menerima alasan khalifah, termasuk sebagian sahabat Anshar, karena memang masuk akal. Tetapi ternyata Ibnu Abbas tidak mau menyerah begitu saja, selalu terngiang-ngiang “ramalan” Rasulullah SAW tentang ketidak-adilan yang akan dialami kaum Anshar. Ia akan merasa sangat bersalah jika ia melihat sisi ketidak-adilan tersebut muncul, dan ia tidak berbuat apa-apa untuk melawannya.
Tiba-tiba Ibnu Abbas berdiri dan dengan tegas ia mendebat semua argumentasi khalifah. Doa Nabi SAW,  "Allahumma faqqihuu fid diin wa 'allimuu fit ta'wiil" benar-benar mewujud dalam dirinya. Semua argumen dan alasan itu dapat dipatahkannya sehingga mau tidak mau khalifah memenuhi kebutuhan para sahabat Anshar tersebut. Ini bukan sikap menang-menangan, tetapi bagaimana mendudukkan masalah sehingga khalifah terhindar dari sikap pilih kasih, dan tetap berdiri di atas keadilan. Dan khalifah sendiri akhirnya menyadari, bukannya marah tetapi justru ia berterima kasih atas nasehat yang diberikan Abdullah bin Abbas.
Hassan bin Tsabit, yang digelari sebagai ‘Penyair dan Pembela Rasulullah SAW’, berkata kepada para sahabat yang bersama-sama menghadap khalifah, "Demi Allah! Sesungguhnya ia (Ibnu Abbas RA) adalah yang paling utama di antara kalian, karena ia adalah sisa kenabian dan pewaris Ahmad SAW. Kesamaan ras dan kemiripan wataknya memberi petunjuk kepadanya."
Begitu juga yang terjadi dengan sahabat Abu Ayyub al Anshari. Sahabat Anshar ini menyediakan rumahnya untuk ditempati Nabi SAW ketika beliau pertama kali tiba di Madinah. Selama berbulan-bulan beliau tinggal di rumahnya sampai kaum muslimin selesai membangun Masjid Nabawi, dan rumah tinggal beliau di serambi masjid tersebut. Pada masa khalifah Muawiyah, ia mengalami masalah keuangan dan terlilit hutang. Ketika menghadap khalifah dan menyampaikan permasalahannya, ia tidak memperoleh apapun kecuali “nasehat” untuk bersabar, sebagaimana diramalkan Rasulullah SAW. Akhirnya ia berkunjung kepada Abdullah bin Abbas di Bashrah.
Ibnu Abbas menyambut kehadiran Abu Ayyub al Anshari dengan hangat. Ia membiarkan rumahnya ditempati Abu Ayyub dan semua kebutuhannya dipenuhi sehingga bisa menyelesaikan masalah hutangnya, bahkan masih banyak kelebihannya. Ibnu Abbas berkata kepada Abu Ayyub, "Aku akan berbuat baik kepadamu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada Rasulullah SAW. Aku dan keluargaku pindah dari rumah ini agar engkau bisa menempatinya, sebagaimana engkau dan keluargamu telah mengosongkan rumahmu untuk bisa ditinggali oleh Rasulullah SAW."
Pada masa tuanya, Ibnu Abbas menjadi buta. Suatu ketika ia masuk ke Masjidil Haram dengan dituntun oleh Wahab bin Munabbih. Ketika didengarnya beberapa orang bertengkar dengan suara keras, ia meminta Wahab membawanya ke sana. Ia memberi salam dan meminta ijin duduk. Setelah duduk, ia berkata, "Apakah kamu tidak mengetahui hamba-hamba Allah yang sebenarnya? Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata karena takut kepada Allah, padahal ia tidak bisu bahkan sangat fasih tutur bahasanya. Mereka bersikap seperti itu karena selalu sibuk memuji Allah dan mereka tidak dapat berkata yang sia-sia. Pada tingkat keimanan yang seperti itu, mereka selalu bersegera berbuat kebaikan, mengapa kalian menyimpang dari jalan itu?"
Mereka yang sedang bertengkar atau berdebat tersebut menjadi reda emosinya, dan meminta nasehat lebih banyak kepada Abdullah bin Abbas.
Abdullah bin Abbas sempat mengalami masa-masa fitnah, ketika terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sebenarnya ia lebih suka kalau terjadi perdamaian daripada peperangan antara dua kelompok kaum muslimin tersebut. Tetapi tidak bisa tidak, pertentangan dan pertempuran terjadi juga, maka Ibnu Abbas bediri di pihak Ali. Ketika akhirnya Ali ‘dikalahkan’ secara curang dalam peristiwa tahkim, Ibnu Abbas memilih untuk pergi ke Makkah dan tinggal di sana beberapa waktu lamanya, tidak lagi melibatkan diri dalam pertentangan antara dua kubu kaum muslimin saat itu.
Ketika Husein bin Ali, cucu Rasulullah SAW dan keluarganya berniat berangkat ke Kufah, beberapa orang sahabat mencegahnya, termasuk Abdullah bin Abbas. Kufah adalah tempat para pendukung Ali bin Abi Thalib, dan penduduknya meminta Husein datang dan tinggal di sana. Ibnu Abbas, dengan pandangan hatinya yang tajam berkata kepada Husein, “Janganlah engkau lakukan itu!! Sesungguhnya aku mempunyai firasat bahwa engkau akan dibunuh di tengah-tengah istri dan anak-anak perempuanmu, sebagaimana Utsman (bin Affan) dibunuh!!”
Tetapi mungkin sudah menjadi jalannya takdir Allah, Husein berkeras untuk berangkat. Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah dan beberapa sahabat lainnya mengiringi kepergiannya dengan uraian air mata. Ketika mereka telah sampai di wilayah Irak, tetapi belum sampai di Kufah, tepatnya di padang Karbala, mereka dicegat oleh pasukan yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad atas perintah sang khalifah, Yazid bin Muawiyah. Dan sungguh biadab, empat ribu pasukan itu menyerang dan membantai rombongan Husein bin Ali yang hanya berjumlah delapan puluhan orang, yang sebagiannya adalah wanita dan anak-anak. Peristiwa mengenaskan yang tepat seperti ‘dilihat’ Abdullah bin Abbas itu terjadi pada hari Asyura, tanggal 10 Muharam.
Sebagian riwayat menyebutkan, Abdullah bin Abbas memilih untuk menghabiskan masa hidupnya di Thaif, dan bukannya di Tanah Haram Makkah, walaupun sebenarnya ibadah atau kebaikan yang dilakukan di sana dilipat-gandakan sebanyak seratus ribu kali. Tetapi yang menjadi alasannya untuk tidak tinggal di Makkah, adalah sikap hati-hati dan rasa takutnya (khauf) kepada Allah SWT. Dalam pemikiran dan penafsiran Ibnu Abbas, orang-orang yang baru tersirat dan berniat saja untuk berbuat keburukan dan berada di Tanah Haram (Makkah dan Madinah), ia sudah jatuh dalam keburukan dan berdosa, bahkan bisa jadi dosanya sudah berganda sesuatu tingkat kekuatan niatnya. Padahal kalau di tanah halal, yakni di luar Makkah dan Madinah, niat saja belum jatuh dalam keburukan dan berdosa, jika ia belum merealisasikan niatnya tersebut. Bahkan bisa jadi ia memperoleh pahala jika ia membatalkan niatnya tersebut.
Sungguh suatu sikap hati-hati (wara’) dan takut kepada Allah SWT (khauf) yang tiada taranya. Padahal seorang sahabat “selevel” Ibnu Abbas, yang telah didoakan kebaikan oleh Nabi SAW, apa masih mungkin tersirat suatu niat untuk berbuat keburukan?? Tetapi itulah memang ciri khas para sahabat Nabi SAW, walaupun kebaikan dan jaminan keselamatan dari Nabi SAW telah mereka terima dari sabda-sabda beliau, tetapi mereka masih merasa 'tidak aman' dengan Makar Allah, sungguh suatu sikap tawadhu' yang patut diteladani.
            Beberapa waktu lamanya setelah tinggal di Thaif, kematian menjemputnya pada usianya yang ke 71 tahun. Saat itu kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, satu berada di tangan Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah atas ba’iat para sahabat utama Nabi SAW yang masih hidup. Sedangkan di Syam, kekhalifahan Bani Umayyah dipegang oleh Abdul Malik bin Marwan.

Jumat, 08 Februari 2013

Abdullah bin Mas'ud RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Muhajirin dari Bani Zahrah, termasuk dalam sahabat as sabiqunal awwalin, sahabat yang memeluk Islam pada masa awal didakwahkan. Perawakan tubuhnya pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Qur’an, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya. Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah SAW.
Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas'ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu'aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi SAW. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah SAW dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu. Tetapi karena hanya melaksanakan amanah mengembalakan, Abdullah bin Mas'ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah SAW meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.
            Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi SAW, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas'ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu, Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas'ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah SAW. Setelah selesai minum, beliau berkata, "Mengempislah!!"
            Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.
            Ibnu Mas'ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah SAW dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Nabi SAW tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas'ud memeluk Islam.
            Nabi SAW memandang cukup intens kepadanya, kemudian bersabda, "Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!"
            Tentu saja Ibnu Mas'ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAW, apalagi saat itu ia hanyalah seorang anak miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi SAW yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni ayat-ayat Al Qur’an.
            Suatu ketika Rasullullah SAW ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur'an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas'ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi SAW mengkhawatirkan keselamatannya, beliau menginginkan orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yakni yang bisa  memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas'ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, "Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”
            Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka'bah, dan Nabi SAW membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Qur'an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, "Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?"
            Ibnu Ummi Abdin adalah nama gelaran Abdullah bin Mas’ud. Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.
            Tetapi salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, "Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!"
            Segera saja mereka bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi SAW dan para sahabat berkumpul.  Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, "Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!"
            Tetapi dengan tegar Ibnu Mas'ud berkata, "Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…"
            Mereka berkata, "Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!"
            Nabi SAW hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabat-sahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.
            Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah SAW, ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Qur'an dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Qur'an.
            Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah SAW, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Qur'an langsung dari mulut Rasulullah SAW, dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi SAW. Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surah-surah Al Qur'an. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Qur'an, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.
            Tentang kemampuannya di bidang Al Qur'an, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin mendengar Al Qur'an tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar  bacaan Al Qur'an Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas'ud). Barang siapa ingin membaca Al Qur'an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…"             Beliau juga pernah bersabda, "Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…"
            Bahkan tak jarang Nabi SAW memerintahkan Abdullah bin Mas'ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya. Beliau seolah dibawa "bernostalgia" dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti saat ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan, yakni ketika dibacakan oleh Malaikat Jibril.
            Pada mulanya Ibnu Mas’ud memang berkeberatan dan heran ketika Nabi SAW meminta dia membacakan suatu ayat atau surah Al Qur’an untuk beliau. Ia berkata, “Saya membacakan al Qur’an untuk engkau? Bukankah Al Qur’an diturunkan kepada engkau, ya Rasulullah??”
            Nabi SAW bersabda, “Benar, tetapi aku ingin mendengarnya dari orang lain!!”
            Maka Abdullah bin Mas’ud membaca Surat An Nisa dengan apa adanya yang ia mampu, sementara Nabi SAW tampak begitu terhanyut dengan bacaannya. Ketika ia sampai pada ayat ke 41, yaitu : Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
            Tiba-tiba Nabi SAW berurai air mata dan bersabda, “Cukuplah, wahai Ibnu Mas’ud!!”
            Mungkin terbayang pada Nabi SAW akan keadaan di hari kiamat nanti, dan beliau merasa bahwa tidak mudah bagi umat beliau, khususnya yang hidup di zaman akhir seperti kita ini, untuk menghadapi huru hara pada hari pembalasan itu. Berapa banyak yang akan celaka karena tidak mau mengikuti sunnah dan jejak langkah beliau. Padahal beliau menginginkan, kalau bisa, tidak satu orangpun dari umat beliau yang akan celaka dan masuk neraka.
            Pada kesempatan lainnya, Nabi SAW pernah bersabda, yang mengukuhkan kemampuan dirinya dalam hal Al Qur’an, “Ambilah (berpeganglah) pada empat orang dalam hal membaca Al Qur’an, yaitu : Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim, maula Abu Hudzaifah!!”
Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas'ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi SAW. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, "Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas'ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya  lebih berat daripada gunung Uhud…."
            Abdullah bin Mas'ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah SAW, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.
            Ketika perang Badar usai, Nabi SAW ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas'ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau  telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu'adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku  telah membunuh Abu Jahal. Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan  mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.
            Ibnu Mas'ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas'ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar sedang terkapar. Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, "Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!"
            "Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…"
            Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas'ud yang masih menginjak lehernya, "Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing…."
            Ibnu Mas'ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Nabi SAW.  Sampai di hadapan beliau, ia berkata, "Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!"
            "Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia," Kata Nabi SAW sampai tiga kali, kemudian beliau bersabda lagi, "Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang  telah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…"
            Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Nabi SAW, Abu Bakar dan  Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Nabi SAW berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, "Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!"
            Nabi SAW menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo'a, "Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia oleh-Mu..!!"
            Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas'ud berkata,  "Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu…."
            Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada tahun 32 hijriah, yakni pada masa khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

Abdullah bin Amr bin Ash RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

Abdullah bin Amr bin Ash RA adalah putra dari seorang ahli strategy perang dan negarawan ulung, Amr bin Ash,  tetapi ia lebih dahulu memeluk Islam daripada bapaknya itu. Ia seorang yang saleh, banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah, kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah. Ketika menyandang senjata untuk mempertahankan dan meninggikan kalimat-kalimat Allah,  ia akan berada di barisan terdepan karena sangat merindukan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan.
Dalam usianya yang masih muda, aktivitas ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, malam dihabiskan dengan tahajud dan membaca Al Qur'an sehingga ia mampu mengkhatamkannya dalam sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan masalah duniawiah sejak ia berba'iat kepada Nabi SAW, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan bangsawan dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya datang mengunjungi dan bertemu istrinya. Amr bin Ash berkata, “Bagaimana keadaan kalian?”
Istrinya berkata, “Sungguh aku tidak mencela akhlak dan kesalehannya, tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan seorang wanita di sisinya!!”
Amr bin Ash menatap tidak mengerti, tetapi kemudian ia mendapat penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali belum menyentuhnya dalam beberapa hari setelah menikah itu. Ia begitu intens beribadah seperti biasanya, sehingga tidak ada sedikitpun waktu untuk istrinya. Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kepada Rasululah SAW, sehingga  beliau campur tangan untuk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, "Ya Rasulullah, ijinkanlah saya menggunakan sepenuh tenaga saya untuk beribadah kepada Allah?"
Nabi SAW bersabda, "Jika engkau melakukan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit karena tidak tidur semalaman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hak, dan para tamupun punya hak atas dirimu…!"
Maka terjadilah "tawar-menawar" antara Abdullah dan Rasulullah SAW dalam soal ibadahnya. Kalau umumnya manusia akan meminta ijin beribadah seringan dan sesedikit mungkin, maka Abdullah meminta ijin untuk beribadah sebanyak dan seberat mungkin. Dalam soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya agar berpuasa tiga hari dalam sebulan, tetapi Abdullah minta tambahan, diberi dua hari dalam seminggu, masih minta tambahan lagi, akhirnya ditetapkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka, yakni puasanya Nabi Dawud AS.
Begitu juga dalam soal mengkhatamkan Al Qur'an, pertama Nabi SAW menyarankannya untuk khatam sebulan sekali saja. Abdullah melakukan penawaran, sehingga Nabi SAW menetapkan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekali, dan seminggu sekali. Tetapi Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, akhirnya Nabi SAW menetapkannya untuk khatam Al Qur’an setiap tiga hari sekali (dalam riwayat lain, lima hari sekali). Begitu juga soal shalat malam, beliau melarang Abdullah menghabiskan waktu malam untuk shalat sunnah terus-menerus, harus ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur, dan mempergauli istrinya.
Walau telah dinasehati langsung oleh Nabi SAW, semangatnya untuk beribadah tidak segera mengendor begitu saja, tetapi ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dengan intensitas tinggi masih saja berlangsung tanpa bisa dihalangi lagi. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW akhirnya bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi Allah akan memanjangkan umurmu...!!"
Benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak mampu menyangga tubuhnya dalam waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqomah yang telah "dijanjikannya" kepada Nabi SAW di masa mudanya. Ia jadi menyesal mengapa tidak menerima nasehat beliau saat mudanya itu. Ia seringkali berkata, "Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak aku ikuti keringanan yang diberikan Rasulullah SAW…!!"
Abdullah bin Amr mempunyai kebiasaan mencatat apapun yang disabdakan Nabi SAW, dalam sebuah catatan yang disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan agar ia mudah menghafalkannya. Rasulullah SAW memang pernah melarang para sahabat untuk mencatat sabda-sabda beliau karena dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Al Qur'an. Tetapi kemudian Nabi SAW secara khusus menugaskan beberapa orang sahabat untuk mencatat firman-firman Allah tersebut, dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk di dalamnya sehingga beliau membiarkannya.
Beberapa sahabat juga berkata, "Rasulullah SAW juga manusia biasa, terkadang beliau marah, dan dalam marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. Begitu juga terkadang beliau hanya bercanda dalam ucapannya itu. Karena itu jangan engkau mencatat apapun yang beliau sabdakan!!"
Karena nasehat mereka ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Tetapi tampaknya ia merasa ‘gatal’ jika sesaat saja tidak ‘merekam’ apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Karena itu ia bertanya kepada Nabi SAW tentang apa yang dilakukannya, termasuk nasehat beberapa orang sahabat, maka beliau bersabda, "Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dalam keadaan marah, ataupun senang."
Abu Hurairah juga pernah berkomentar atas kebiasaan Abdullah bin Amr ini, "Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits Nabi SAW, kecuali Ibnu Amr bin Ash, karena dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan Nabi SAW, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja."
Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sesungguhnya ia tidak ingin berpihak kepada kedua kelompok sebagaimana dianut beberapa sahabat seperti Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan beberapa sahabat lainnya. Tetapi menjelang terjadinya perang Shiffin, ayahnya, Amr bin Ash yang berpihak kepada Muawiyah mendatanginya dan mengajaknya berperang di pihaknya. Abdullah bin Amr  berkata, "Bagaimana mungkin? Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku untuk tidak menaruh pedangku di leher seorang muslim untuk selama-lamanya…..!!"
Bukan Amr bin Ash namanya kalau tidak mampu bersiasat, ia mengemukakan berbagai alasan, terutama menyangkut "menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan". Setelah beberapa argumen ayahnya mampu dipatahkannya, akhirnya Amr bin Ash berkata, "Ingatkah engkau wahai Abdullah wasiat terakhir Nabi SAW, beliau mengambil tanganmu dan meletakkan di atas tanganku, dan memerintahkan engkau untuk taat kepada ayahmu ini? Dan sekarang saya menghendaki engkau turut bersama kami, berperang bersama kami….!!"
Mendengar argumen ini, Abdullah bin Amr dilanda kebimbangan yang amat sangat. Jauh di dalam hatinya, kebenaran yang sangat diyakininya, ia tidak ingin terlibat dalam pertikaian itu. Tetapi ia seakan tidak punya kekuatan menolak ketika diingatkan akan pesan Nabi SAW dan janjinya untuk melaksanakannya. Akhirnya ia mengikuti pertempuran tersebut dengan setengah hati dan berada di pihak Muawiyah. Ia mengetahui bahwa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali, dan masih jelas terngiang nubuwat Nabi SAW tentang kematian Ammar bin Yasir di tangan para pendurhaka. Ia hadir juga dalam penggalian parit khandaq ketika Nabi SAW menyabdakan hal itu.
Sebagian riwayat menyebutkan, ia tidak pernah mengangkat senjatanya walau ia berada di antara personal pasukan Muawiyah. Tetapi begitu ia mendengar kabar bahwa Ammar bin Yasir telah terbunuh, ia langsung berteriak keras, "Apa? Ammar telah terbunuh, dan kalian pembunuhnya? Kalau demikian kalianlah kaum pendurhaka itu, kalian berperang di jalan yang salah…..!!"
Abdullah bin Amr berjalan berkeliling sambil meneriakkan kata-kata tersebut sehingga melemahkan semangat pasukan Muawiyah. Ketika hal itu dilaporkan kepada Muawiyah, ia memanggil Amr bin Ash dan anaknya tersebut, dan berkata  kepada Amr bin Ash, "Kenapa tidak engkau bungkam anakmu yang gila ini..!!"
Amr bin Ash hanya diam, tetapi justru Abdullah berkata dengan tegas tanpa ketakutan sedikitpun, "Aku tidak gila, tetapi aku telah mendengar Nabi SAW bersabda kepada Ammar, bahwa ia akan dibunuh oleh kaum yang durhaka atau aniaya…!!"
"Kalau begitu, kenapa engkau ikut bersama kami??" Tanya Muawiyah.
"Tidak, " Kata Abdullah bin Amr, "Aku hanya mengikuti wasiat Nabi SAW untuk taat kepada ayahku, dan aku  telah menaatinya dengan pergi kesini, tetapi aku tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!"
Di tengah pembicaraan tersebut, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr langsung berkata, "Suruhlah dia masuk, dan sampaikan kabar gembira kepadanya, dia akan menjadi umpan api neraka…!!"
Muawiyah menjadi murka mendengar perkataannya tersebut, tetapi Abdullah bin Amr tetap bertahan dengan perkataannya tersebut, bahwa pembunuh Ammar bin Yasir adalah kaum yang durhaka dan berperang di jalan yang salah, begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun-tahun sebelumnya, dan ia meyakini akan kebenarannya. Ia berpaling kepada ayahnya dan berkata, "Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjalanan ayah ke sini, dan kini saya telah memenuhi wasiat beliau…"
Setelah itu Abdullah bin Amr kembali ke Madinah dan mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis-habisnya menyesali keterlibatannya di perang Shiffin dan berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis dan mengeluh, "Wahai, apa perlunya aku ke Shiffin…apa perlunya aku memerangi kaum muslimin…!!!"
Suatu hari ia duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat, lewatlah Husein bin Ali. Setelah menyampaikan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata, "Tahukah kalian penduduk bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yang baru saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara denganku…Sungguh, ridhanya kepadaku lebih aku sukai daripada barang berharga apapun juga…!!"
Ia meminta tolong kepada sahabat Abu Sa'id al Khudri untuk bisa bertemu dengan Husein, dan mereka diijinkan untuk berkunjung ke rumah cucu kesayangan Rasulullah SAW itu. Terjadilah berbagai macam pembicaraan, sampai akhirnya Husein bertanya, "Apa yang membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?"
Abdullah bin Amr berkata, "Ayahku pernah mengadukan aku kepada Rasulullah karena berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam dan mengkhatamkan al Qur'an setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kepadaku, 'Hai Abdullah puasalah dan berbuka, shalatlah malam dan tidurlah, bacalah Qur'an dan berhentilah, dan taatilah ayahmu…' Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendatangiku dan memaksaku mengikutinya dengan membawa wasiat Nabi SAW tersebut…tetapi demi Allah, aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut…."
Abdullah bin Amr juga menjelaskan apa yang dilakukannya terhadap Muawiyah setelah terbunuhnya Ammar bin Yasir, dan sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein akhirnya ridha kepadanya setelah semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru.
            Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 tahun di mushalla rumahnya, ketika itu ia baru selesai menjalankan shalat dan sedang bermunajat kepada Allah. Sungguh saat akhir yang amat indah (khusnul khotimah) yang amat dirindukan oleh semua kaum muslimin.

Kamis, 27 Desember 2012

Anas bin Malik RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Anas bin Malik RA, siapapun yang sedang membaca atau mempelajari kitab-kitab Hadist Nabi SAW, pastilah akan menemukan nama sahabat yang satu ini, karena ia termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau. Tidak heran, karena sejak awal Nabi SAW menginjakkan kakinya di Madinah, ibunya, Ummu Sulaim (Rumaisha binti Milhan) menyerahkan anaknya yang masih berusia 10 tahun tersebut (riwayat lainnya, usianya belum sampai 10 tahun) untuk menjadi pelayan Nabi SAW, dan beliau menerimanya dengan gembira. Dan Anas bin Malik terus menjadi pelayan Nabi SAW hingga beliau berpulang ke Rahmatullah.
Sebelum kehadiran Islam di Madinah, keluarga Anas bin Malik diliputi kebahagiaan, kedua orang tuanya, Rumaisha binti Milhan dan Malik bin Nadhar termasuk pasangan yang ideal walaupun mereka masih saudara sepupu, hidupnya rukun tanpa diwarnai pertengkaran. Tetapi ketika cahaya Islam mulai menyinari Madinah, saat itu Nabi SAW belum berhijrah dan Agama Islam didakwahkan oleh utusan beliau, Mush'ab bin Umair dengan didampingi salah satu tokoh Madinah, As'ad bin Zurarah, rumah tangga orang tuanya mulai goncang. Ibunya, yang lebih dikenal  dengan nama Ummu Sulaim ternyata mengikuti dakwah dua orang tersebut dan memeluk Islam tanpa diketahui oleh suaminya.
Ketika Malik bin Nadhar mengetahui keislaman istrinya, ia sangat marah, tetapi keyakinan Ummu Sulaim sudah sangat menguat. Suaminya berkata, "Apakah engkau sudah murtad?"   
"Aku tidak murtad, tetapi justru aku telah beriman…!!" Kata Ummu Sulaim.
Saat itu Ummu Sulaim sedang bersama putra kesayangannya, Anas, yang segera saja ia merengkuhnya dan berkata, "Wahai Anas, ucapkanlah : Asyhadu an laa ilaaha illallaah…!!" 
Anas mengikuti perintah ibunya mengucap syahadat tersebut dengan lancar. Ayahnya berkata, "Janganlah engkau merusak keyakinan anakku!!"
"Aku tidak merusaknya," Kata Ummu Sulaim, "Bahkan aku telah mengajar dan mendidik dirinya dengan kebenaran…!"
Kemudian Ummu Sulaim berpaling lagi kepada putranya dan berkata, "Ucapkanlah : Asyhadu anna muhammadar rasulullah…!!"
Sekali lagi Anas mengikuti perintah ibunya dan mengulang ucapan tersebut dengan lancar. Ayahnya makin marah melihat sikap ibunya tersebut, dan ia mengancam akan meninggalkannya. Tetapi keyakinan Ummu Sulaim seakan tidak bergeming, bahkan ia terus mengajari Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut berulang-ulang. Kemarahan Malik bin Nadhar makin memuncak dan akhirnya meninggalkan rumah, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sebagian riwayat menyebutkan ia pergi ke Syam dan meninggal di sana, dan riwayat lain menyatakan, ketika keluar tersebut ia bertemu dengan musuh lamanya dan terbunuh dalam suatu perkelahian. 
Tentu ada kesedihan pada diri Ummu Sulaim dan anak-anaknya, terutama pada diri Anas yang masih kecil, kehilangan ayah yang menjadi pilar keluarganya, dan juga kebahagiaan keluarganya yang dahulu dinikmatinya. Apalagi kemudian mereka mendapat kabar kalau ayahnya telah meninggal. Tetapi sesungguhnya tidak ada kenikmatan yang lebih baik dan lebih utama daripada kenikmatan merasakan manisnya keimanan, mungkin itu yang dirasakan Ummu Sulaim, dan itu membuatnya tetap tegar menjalani kehidupan. 
Ketika Nabi SAW telah hijrah dan tinggal di Madinah, Ummu Sulaim menemui beliau dan menawarkan anak kesayangannya, Anas bin Malik menjadi pelayan beliau, dan beliau menerimanya dengan senang hati. Beliau juga berdoa untuk Anas atas permintaan ibunya, "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan juga anak-anaknya, serta berkahilah ia di dalamnya…!!"
Doa Nabi SAW ini dikabulkan Allah, Anas berumur panjang dan hartanya melimpah ruah, tetapi ia tetap hidup dalam kezuhudan sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW. Beberapa orang anak dan cucunya telah meninggal sementara ia tetap dalam keadaan sehat dan selalu dalam kesalehannya.
Anas bin Malik memang bukan satu-satunya pelayan Nabi SAW, ada beberapa sahabat lainnya yang membaktikan hidupnya untuk melayani Rasulullah SAW seperti Bilal bin Rabah, Rabi'ah bin Ka'b, dan lain-lainnya. Tetapi ia memiliki kebiasaan unik, ia selalu bergegas menampung dan mengambil air bekas mandi Rasulullah SAW, lalu air tersebut digunakannya sendiri untuk mandi. Ia juga selalu mengumpulkan rambut-rambut Rasulullah yang terjatuh/ rontok, sebagaimana beberapa sahabat lainnya melakukannya, termasuk Khalid bin Walid, kemudian berpesan kepada orang-orang di sekitarnya agar rambut-rambut beliau tersebut disertakan/dimasukkan ke dalam kafannya kalau ia telah meninggal dan akan dikuburkan, termasuk surban Rasulullah SAW.
Sepanjang masa kanak-kanak hingga remajanya ia tinggal bersama Rasulullah SAW,  hal ini membuat dirinya bisa mengingat dan merekam banyak hal tentang beliau. Apalagi Nabi SAW memperlakukan dirinya seperti putra beliau sendiri. Dalam konteks sekarang ini, sejak SD hingga lulus SMA, Anas bin Malik hanya menerima satu pelajaran dari satu guru saja, yakni pelajaran keislaman dengan berbagai seginya, dari guru yang pertama dan utama, yakni Rasulullah SAW. Tidak ada hal lain yang harus dikerjakannya dan menyibukkannya, kecuali melayani beliau sehingga tak heran, setelah Nabi SAW wafat, ia menjadi rujukan pertanyaan para sahabat tentang kehidupan beliau sehari-harinya, baik dalam hal akhlak maupun ibadah. Padahal usianya masih sangat muda.
Abu Hurairah pernah berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang shalatnya lebih mirip dengan shalatnya Rasulullah SAW kecuali shalatnya putra Ummu Sulaim (yakni, Anas bin Malik)…"
Anas bin Malik juga terjun dalam berbagai medan jihad bersama Rasulullah SAW, tentunya tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai pelayan beliau. Setelah wafatnya Nabi SAW, barulah ia bisa terjun dengan maksimal di medan jihad, di samping ia memang sudah cukup dewasa. Di masa Umar bin Khatthab, ketika ia mengikuti pasukan yang mengepung benteng Tustar, seolah-olah  ia berada di ujung tanduk, sudah dekat sekali dengan pintu kematiannya. Tetapi karena Rasulullah SAW telah mendoakannya untuk berusia panjang, maka ada saja jalan yang menyelamatkannya.
Pasukan Persia yang mempertahankan kota Tustar menggunakan besi panas berkait untuk menyerang pasukan muslim yang mengepungnya. Tentara muslim yang terkena kaitan akan diangkat ke atas benteng dan dibunuh. Saat itu Anas bin Malik terkena kaitan besi panas tersebut dan mulai ditarik ke atas. Melihat keadaan tersebut, saudara Anas, Barra' bin Malik, yang memang bertubuh kecil tetapi mempunyai semangat dan kekuatan jihad yang luar biasa, meminta beberapa orang untuk melemparkannya ke arah kaitan besi panas yang membawa saudaranya tersebut. Gambarannya mungkin seperti aksi cheerleader yang melemparkan salah satu temannya pada struktur teratas. Barra' berhasil merengkuh kaitan besi, walau tangannya melepuh tidak diperdulikannya lagi. Ia berhasil melepaskan Anas dari kaitan tersebut dan menjatuhkan diri di kumpulan pasukan muslim, dan mereka berdua selamat.
Dengan usianya yang panjang, Anas menjadi salah satu ‘sumber’ pengetahuan keislaman bagi ulama-ulama tabi’in. Khalifah demi khalifah berganti, berbagai konflik dan gejolak tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam yang wilayahnya makin meluas, tetapi Anas bin Malik tetap menjadi salah satu sumber rujukan utama ketika mereka ingin mengetahui berbagai hal tentang Rasulullah SAW.  
Anas bin Malik pernah didatangi seorang lelaki yang memberitahukan kalau daerahnya dilanda kekeringan  dan tanahnya sangat gersang. Ia mendatangi daerah tersebut, kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di suatu tanah lapang yang tandus, kemudian memanjatkan doa. Atas ijin Allah, beberapa saat kemudian awan datang berarak dan turun hujan di tempat itu. Padahal saat itu adalah musim panas.
Hal yang paling berkesan baginya tentang Nabi SAW, diungkapkan dalam perkataannya, "Selama sepuluh tahun saya berkhidmad kepada Rasulullah SAW, saya tidak pernah melihat beliau memukul seorang pelayan ataupun seorang wanita. Beliau juga tidak pernah menegur (atau mempertanyakan) : Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau lakukan? Mengapa engkau tidak lakukan ini? Mengapa engkau tidak tinggalkan itu?"
            Anas bin Malik meninggal dalam usia sekitar 100 tahun, yakni pada tahun 90-an hijriah, pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Karena kewafatannya ini, para ulama pada masa itu berkata, "Telah hilang dari kita separuh dari ilmu…!!"

Abu Hurairah RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Abu Hurairah, atau nama aslinya Abdu Syamsi bin Sakher hanyalah seorang buruh upahan penggembala kambing dari keluarga Busrah bin Ghazwan, salah satu pemuka dari kabilah Bani Daus di Yaman. Tetapi sepertinya Allah menghendaki akan meningkatkan derajadnya setinggi mungkin, dengan jalan membawanya kepada hidayah Islam.     
            Ketika salah satu pemuka Bani Daus, yakni Thufail bin Amr ad Dausi melaksanakan ibadah haji ke Makkah (tentunya sebagai ritual ibadah jahiliah) pada tahun ke sebelas dari kenabian, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebenarnya kaum kafir Quraisy telah ‘menasehati’ dirinya agar tidak bertemu Nabi SAW, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali ia diingatkan. Tetapi justru karena intensitas peringatan itu yang membuatnya penasaran dan tergelitik untuk menemui Nabi SAW, dan akhirnya memeluk Islam. Sepulangnya ke Yaman, ia mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Pada mulanya hanya sedikit saja orang yang menanggapi seruannya, yang salah satunya adalah Abu Hurairah tersebut.
            Pada awal tahun 7 hijriah, Nabi SAW berencana menggerakkan pasukan untuk menyerang kaum Yahudi di Khaibar. Kabar ini sampai juga ke Yaman, maka Thufail bin Amr mengajak kaum muslimin dari kabilahnya, Bani Daus untuk berhijrah ke Madinah dan menyertai Nabi SAW dalam medan jihad tersebut. Walau dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta yang mencukupi, Abu Hurairah turut juga menyambut seruannya, dan bergabung dalam rombongan hijrah ini.
            Setibanya di Madinah, ternyata Nabi SAW dan sebagian besar sahabat baru saja berangkat ke Khaibar. Rombongan Bani Daus tersebut langsung menyusul ke Khaibar untuk bergabung dengan pasukan Nabi SAW, tetapi Abu Hurairah tertinggal di Madinah karena tidak memiliki  kendaraan dan perbekalan. Usai shalat subuh keesokan harinya, Abu Hurairah bertemu shahabat yang ditunjuk menjadi wakil Nabi SAW di Madinah, yakni Siba' bin Urfuthah al Ghifary (atau sebagian riwayat menyebutkan Numailah bin Abdullah al Laitsy), ia memberi Abu Hurairah kendaraan dan perbekalan untuk bisa menyusul ke Khaibar. Ia berhasil menjumpai Nabi SAW, dan beliau menyuruhnya langsung bergabung dengan pasukan yang telah siap bertempur.
            Dalam pertemuan pertama itu, Nabi SAW bersabda kepadanya, “Siapakah namamu?”
            Abu Hurairah berkata, “Abdu Syamsi!!”
            Abdu Syamsi artinya adalah hamba atau budaknya matahari. Tampaknya Rasulullah SAW kurang berkenan dengan namanya itu, maka beliau bersabda, “Bukankah engkau Abdur Rahman!!”
            Maksud Nabi SAW adalah ia dan manusia semua itu adalah hamba Allah Ar-Rahman, maka dengan gembira Abu Hurairah berkata, “Benar, ya Rasulullah, saya adalah Abdurrahman!!”
            Sejak itu namanya berganti dari Abdu Syamsi bin Sakher menjadi Abdurrahman bin Sakher, sesuai dengan pemberian Nabi SAW. Sedangkan nama gelaran Abu Hurairah yang berarti ‘bapaknya kucing (betina)’, berawal ketika ia menemukan seekor anak kucing yang terlantar, maka ia mengambil dan merawatnya. Setelah itu ia selalu membawa anak kucing itu dalam lengan jubahnya kemanapun ia pergi, sehingga orang-orang memanggilnya dengan Abu Hurairah. Ketika Nabi SAW mendengar kisah tentang nama gelarannya itu, beliau terkadang memanggilnya dengan nama ‘Abul Hirr”, yang artinya adalah : bapaknya kucing (jantan).
            Sepulangnya dari Khaibar, sebagaimana sahabat pendatang (Muhajirin) miskin lainnya, Nabi SAW menempatkan Abu Hurairah di serambi masjid yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah, yang berarti menjadi tetangga Nabi SAW. Mereka tidak makan kecuali apa yang diberikan Nabi SAW, sehingga mereka sering mengalami hal-hal yang bersifat mu'jizat dalam hal ini. Misalnya Nabi SAW mendapat hadiah segantang susu, beliau akan menyuruh Abu Hurairah memanggil seluruh penghuni Ahlus Shuffah yang berjumlah sekitar 70 orang (sebagian riwayat, 40 orang) untuk menikmati susu  tersebut, dan mencukupi. Kadang hanya sepanci masakan daging, atau setangkup kurma, atau sedikit makanan lainnya, tetapi mencukupi untuk mengenyangkan keluarga Nabi SAW dan para penghuni Ahlus Shuffah.
            Sebagai buruh gembala kambing, Abu Hurairah juga seorang yang buta huruf (ummi). Tetapi kalau Allah SWT memang telah berkehendak akan memberikan kemuliaan kepada seseorang, mudah sekali ‘jalannya’ walau mungkin ia memiliki banyak kekurangan, bahkan derajad yang rendah  dalam pandangan manusia. Seperti halnya terjadi pada Bilal bin Rabah, ternyata Allah SWT mengaruniakan kelebihan lain pada Abu Hurairah, yakni otak yang sangat jenius sehingga mempunyai kemampuan menghafal yang tidak ada bandingannya. Dengan karunia Allah ini, akhirnya ia menjadi seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.
            Kemampuan Abu Hurairah tersebut ternyata didukung dengan berkah yang diperolehnya dari Nabi SAW. Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda pada beberapa sahabat, "Siapa yang membentangkan surbannya di depanku hingga selesai pembicaraanku, kemudian meraihnya atau menangkupkan ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan sesuatu apapun yang didengarnya dari diriku…"
            Abu Hurairah bereaksi cepat mendahului para sahabat lainnya membentangkan surbannya di depan Nabi SAW.  Setelah beliau selesai berbicara, ia segera menangkupkan surbannya tersebut ke dirinya.
            Dalam peristiwa lainnya, Abu Hurairah bersama dua orang sahabat lainnya tengah berdzikir dan berdoa. Tiba-tiba Nabi SAW datang sehingga mereka menghentikan aktivitasnya untuk menghormati, tetapi beliau bersabda, “Lanjutkanlah doa kalian!!”
            Maka salah seorang sahabat melanjutkan berdoa, dan setelah ia selesai berdoa, Nabi SAW mengaminkannya. Sahabat satunya ganti berdoa, dan setelah selesai Nabi SAW mengaminkan doanya. Giliran Abu Hurairah, ia berdoa, “Wahai Allah, aku memohon kepadamu, apa yang dimohonkan oleh dua sahabatku ini, dan aku juga bermohon kepada-Mu karuniakanlah kepadaku ilmu yang tidak akan dapat aku lupakan!!”
            Nabi SAW tersenyum mendengar doa Abu Hurairah itu dan mengaminkannya pula.
            Setelah kejadian itu, ia tidak pernah terlupa apapun yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Ia pernah berkata tentang kemampuannya itu, walau bukan bermaksud menyombongkan dirinya,  "Tidak ada sahabat Nabi SAW yang lebih hafal daripada aku akan hadits-hadits beliau, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia mendengar dan menuliskannya, sedangkan aku mendengar dan menghafalkannya."
            Sebenarnyalah cukup banyak sahabat yang mempertanyakan bagaimana mungkin ia tahu begitu banyak hadits-hadits Nabi SAW padahal ia tidak termasuk sahabat yang memeluk Islam dan bergaul langsung dengan beliau sejak awal. Tetapi sebenarnya mudah dipahami dengan melihat kondisi  yang ada. Walaupun hanya sekitar empat tahun hidup bersama Nabi SAW, tetapi ia hampir selalu bersama-sama beliau, kecuali ketika beliau sedang bersama istri-istri beliau. Ia tidak memiliki perniagaan untuk dijalankannya sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin. Ia juga tidak memiliki tanah pertanian dan perkebunan yang menyibukkannya seperti kebanyakan kaum Anshar. Di waktu-waktu senggangnya, kadang Nabi SAW menceritakan berbagai hal dan peristiwa sebelum keislamannya, atau terkadang Abu Hurairah yang menanyakannya kepada beliau. Jadi, pantaslah ia lebih banyak mengetahuinya daripada kebanyakan sahabat lainnya.
            Pada masa khalifah Muawiyah, sang khalifah pernah mengetes kemampuan hafalannya, walau tanpa sepengetahuannya. Abu Hurairah dipanggil menghadap Muawiyah, kemudian diperintahkan menyebutkan semua hadits yang ia dengar dari Nabi SAW. Diam-diam Muawiyah menyiapkan beberapa penulis di tempat tersembunyi untuk mencatat semua hadits yang disampaikan Abu Hurairah itu secara berurutan. Setahun kemudian, Abu Hurairah dihadapkan kembali kepada Muawiyah dan disuruh menyebutkan hadits-hadits tersebut, dan diam-diam juga, Muawiyah memerintahkan para pencatat itu untuk mengecek kebenarannya.
            Setelah Abu Hurairah berlalu, para penulis hadits tersebut mengatakan pada Muawiyah bahwa yang disampaikannya tersebut seratus persen persis sama dengan setahun sebelumnya, termasuk urut-urutannya, bahkan tidak ada satu hurufpun yang terlewat atau berbeda. Muawiyah hanya geleng-geleng kepala seolah tidak percaya, tetapi ini memang nyata.
            Lebih dari seribu enamratus hadits yang diriwayatkan dari jalan sahabat Abu Hurairah. Tidak akan mencukupi jika semua kisah yang menyangkut dirinya dalam riwayat-riwayat tersebut dijabarkan dalam halaman ini. 
            Sepeninggal Nabi SAW, Abu Hurairah selalu mengisi sisa waktu hidupnya dengan ibadah dan berjihad di jalan Allah. Ia mempunyai kantung yang berisi biji-biji kurma untuk menghitung dzikirnya, ia mengeluarkannya satu persatu dari kantung, setelah habis ia memasukkannya lagi satu persatu. Secara istiqamah, ia mengisi malam hari di rumahnya dengan beribadah secara bergantian dengan istri dan anaknya (atau pelayannya pada riwayat lainnya), masing-masing sepertiga malam. Kadang ia pada sepertiga malam pertama, atau sepertiga pertengahan dan terkadang pada sepertiga malam akhirnya yang merupakan saat mustajabah. Sehingga malam hari di keluarganya selalu terisi penuh dengan ibadah.
            Pada masa khalifah Umar, ia sempat diangkat menjadi amir di Bahrain. Seperti kebanyakan sahabat pilihan Nabi SAW lainnya, ia menggunakan gaji atau tunjangan yang diterima dari jabatannya untuk menyantuni dan membantu orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kehidupannya, ia mempunyai kuda yang diternakkannya, dan dan ternyata berkembang sangat cepat sehingga ia menjadi lumayan kaya dibanding umumnya sahabat lainnya.  Apalagi banyak juga orang-orang yang belajar hadits dari dirinya, dan seringkali mereka memberikan hadiah sebagai  bentuk terima kasih dan penghargaan kepadanya.
            Ketika Umar mengetahui Abu Hurairah memiliki kekayaan yang melebihi penghasilannya, ia memanggilnya menghadap ke Madinah untuk mempertanggung-jawabkan hartanya tersebut. Begitu tiba di Madinah dan menghadap, Umar langsung menyemprotnya dengan pedas, "Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?"
            Abu Hurairah yang sangat mengenal watak dan karakter Umar, dan juga mengetahui sabda Nabi SAW bahwa Umar adalah "kunci/gemboknya fitnah", dengan tenang berkata, "Aku bukan musuh Allah SWT, dan juga bukan musuh kitab-Nya, tetapi aku hanyalah orang yang memusuhi orang yang menjadi musuh keduanya, dan aku bukan orang yang mencuri harta Allah…!"
            "Darimana kauperoleh harta kekayaanmu tersebut?"
            Abu Hurairah menjelaskan asal muasal hartanya, yang tentu saja dari jalan halal. Tetapi Umar berkata lagi, "Kembalikan harta itu ke baitul mal..!!"
            Abu Hurairah adalah didikan Nabi SAW yang bersikap zuhud dan tidak cinta duniawiah. Walau bisa saja ia berargumentasi untuk mempertahankan harta miliknya, tetapi ia tidak melakukannya. Karena itu tanpa banyak pertanyaan dan protes, ia menyerahkan hartanya tersebut kepada Umar, setelah itu ia mengangkat tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin Umar…!!"
            Beberapa waktu kemudian, Umar ingin mengangkatnya menjadi amir di suatu daerah lain. Dengan meminta maaf, Abu Hurairah menolak penawaran tersebut. Ketika Umar menanyakan alasannya, Abu Hurairah menjawab, "Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, dan punggungku tidak dipukul…"
            Beberapa saat berhenti, ia meneruskan lagi seakan ingin memberi nasehat kepada Umar, "Dan aku takut menghukum tanpa ilmu, dan bicara tanpa belas kasih…"
            Umar pun tak berkutik dan tidak bisa memaksa lagi seperti biasanya.
            Pada masa kekhalifahan selanjutnya, Abu Hurairah selalu mendapat penghargaan yang tinggi berkat kedekatannya bersama Nabi SAW dan periwayatan hadits-hadits beliau, sehingga secara materi sebenarnya ia tidak pernah kekurangan, sebagaimana masa kecilnya atau masa-masa bersama Rasulullah SAW. Tetapi dalam kelimpahan harta dan ketenaran ini, Abu Hurairah tetap bersikap zuhud dan sederhana dalam kehidupannya, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.
            Pernah suatu kali di masa khalifah Muawiyah, ia mendapat kiriman uang seribu dinar dari Marwan bin Hakam, tetapi keesokan harinya utusan Marwan datang menyatakan kalau kiriman itu salah alamat. Dengan tercengang ia berkata, “Uang itu telah habis kubelanjakan di jalan Allah, satu dinar-pun tidak ada yang bermalam di rumahku. Bila hakku dari baitul mal keluar, ambillah sebagai gantinya!!”
            Abu Hurairah wafat pada tahun 59 hijriah dalam usia 78 tahun, pada masa khalifah Muawiyah. Ia memang pernah berdoa, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tahun enampuluhan, dan dari masa kepemimpinan anak-anak!!”
            Pada tahun enampuluhan hijriah itu memang masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, yang bersikap seperti anak-anak, yakni semaunya sendiri. Dan terjadi berbagai peristiwa yang bisa dikatakan sebagai ‘masa kelam’ dalam sejarah Islam, seperti Peristiwa Karbala, Peristiwa al Harrah, dan Penyerbuan Masjidil Haram.
            Ketika ia sakit menjelang kewafatannya, tampak ia amat sedih dan menangis, sehingga orang-orang menanyakan sebab kesedihannya tersebut. Abu Hurairah berkata, “Aku menangis bukan karena sedih akan berpisah dengan dunia ini. Aku menangis karena perjalananku masih jauh, perbekalanku sedikit, dan aku berada di persimpangan jalan menuju ke neraka atau surga, dan aku tidak tahu di jalan mana aku berada??”
            Ketika banyak sahabat yang menjenguknya dan mendoakan kesembuhan baginya, segera saja Abu Hurairah berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah rindu bertemu dengan-Mu, semoga demikian juga dengan Engkau….!!”
            Tidak lama kemudian nyawanya terbang kembali ke hadirat Ilahi, dan jasadnya dimakamkan di Baqi, di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW lain yang telah mendahuluinya.

Sabtu, 08 Desember 2012

Haritsah bin Suraqah RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda dari kalangan sahabat Anshar. Suatu pagi ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau bersabda, "Wahai Haritsah, bagaimana keadaanmu pagi ini?"
"Pagi hari ini saya benar-benar menjadi seorang mukmin, Ya Rasulullah!" Kata Haritsah.
"Perhatikanlah perkataanmu, wahai Haritsah," Kata Nabi SAW, "Setiap kata yang engkau ucapkan itu harus  ada bukti sebenarnya…!!"
Maka Haritsah berkata menjelaskan, "Wahai Rasulullah, jiwaku jemu dengan dunia, sehingga saya bangun di malam hari (untuk ibadah) dan puasa di siang harinya. Sekarang ini saya seolah-olah berhadapan dengan Arsy Allah, dan saya melihat ahli surga saling kunjung-mengunjungi satu sama lainnya, dan juga ahli neraka sedang menjerit-jerit di dalamnya…!!"
Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Haritsah, seolah gembira dengan "pencapaian" rohaniah pemuda Anshar tersebut. Beliau bersabda, "Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (istiqomahlah)!!"
Haritsah berkata lagi, "Ya Rasulullah, doakanlah saya agar bisa memperoleh syahid!!"
Nabi SAW-pun mendoakan Haritsah seperti permintaannya, dan tentu saja doa beliau pasti akan terkabul.
Tibalah saatnya perang Badar, dan Haritsah tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebenarnya Rasulullah SAW ‘tidak mewajibkan’ kaum muslimin, khususnya kaum Anshar untuk bergabung dalam pasukan itu karena tujuan utamanya hanya untuk menghadang kafilah dagang Makkah, tetapi kaum Anshar yang mengikuti justru lebih banyak, termasuk Haritsah. Bagi kaum Muhajirin, mereka hanya ‘mengambil ganti’ harta kekayaan mereka yang ditinggalkan di Makkah dan dirampas secara sepihak oleh kaum kafir Quraisy. Tetapi ternyata Abu Sufyan bin Harb beserta kafilah dagangnya berhasil lolos, dan pasukan kaum muslimin harus berhadapan dengan pasukan perang kaum kafir Makkah yang dipimpin Abu Jahal.
Walau menyadari persiapan yang kurang dan kekuatan yang jauh lebih kecil, kaum Muhajirin dan Anshar tidak jadi melemah semangatnya, termasuk Haritsah. Ia berjuang dengan perkasa menyerang kaum kafir Quraisy yang jauh lebih banyak jumlahnya. Akhirnya sebuah anak panah, yang tidak diketahui  siapa yang melepaskannya, mengenai tubuhnya dan ia tewas menemui syahid seperti yang didoakan Nabi SAW.
Ketika pasukan muslim kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan, ibu Haritsah, Ummu Rubayyi' binti Bara', yang telah memperoleh berita kalau anaknya tewas dalam perang Badar tersebut, bergegas menemui Nabi SAW, dan berkata, "Wahai Rasulullah, maukah engkau memberitahukan tentang putraku, Haritsah! Jika ia di surga, aku tidak  akan menangis atau menyesal. Tetapi jika tidak seperti itu, aku akan menangis selama sisa hidupku di dunia ini!!"
Maka Nabi SAW berkata, seakan menenangkan sang ibu yang kehilangan putranya tersebut, "Wahai Ummi Haritsah, bukan hanya satu surga, tetapi surga di dalam surga-surga. Dan kini Haritsah telah mencapai firdaus yang tertinggi…!!"
Mendengar penjelasan tersebut, Ummu Rubayyi' kembali ke rumah dengan gembira dan tertawa, sambil berkata, "Beruntung sekali engkau, Haritsah!! Beruntung sekali engkau, Haritsah!!"
Sungguh jauh sekali dari gambaran seorang ibu yang anaknya baru saja tewas dalam pertempuran. Hanya keimanan yang kokoh tertanam di dalam dada yang bisa membuat Ummu Rubayyi' bersikap seperti itu.

Auf bin Harits al Afra RA, Sahabat yang Syahid di Perang Badar

Auf bin Harits bin Rifaah adalah seorang pemuda dari kalangan Anshar dan saudara kandung dari Muawwidz bin Harits al Afra, salah satu dari dua pemuda Anshar yang membunuh Abu Jahal di Perang Badar. Nama al Afra dinisbahkan kepada ibunya, karena itu Auf bin Harits terkadang dikenali dengan nama Auf bin Harits al Afra, atau Auf bin Afra saja.
Auf bin Harits merupakan orang Yatsrib (nama Madinah sebelum Islam) yang mula-mula memeluk Islam, bahkan bisa dikatakan sebagai ‘pioner’ dari tersebarnya Islam di kotanya itu. Saat itu tahun ke sebelas dari kenabian, bersama lima orang temannya yang masih sama-sama muda, ia melaksanakan ibadah haji. Mereka berenam ini memang terkenal sebagai pemuda yang cerdas dan cukup berpengaruh di kabilahnya masing-masing. Suatu malam, usai melaksanakan seluruh ritual haji (tentunya dengan cara jahiliah), mereka duduk-duduk di Aqabah, Mina sambil mengobrol. Tiba-tiba muncul tiga orang, yang salah satunya berkata, “Siapakah kalian ini?”
Auf dan teman-temannya berkata, “Kami orang-orang Khazraj dari Yatsrib!!”
“Sekutu dari orang-orang Yahudi??” Tanya lelaki itu.
“Benar!!”
Lelaki itu berkata dengan sopannya, “Bolehkan kami duduk sebentar bersama kalian dan memperbincangkan sesuatu!!”
Penampilan tiga orang itu memang sangat menarik, terutama lelaki yang berbicara tersebut, wajahnya sangat cerah layaknya bulan purnama bersinar, pandangan mata dan ucapannya sangat menyejukkan hati. Tentu saja, karena lelaki tersebut tidak lain adalah Rasulullah SAW, dan dua orang yang menemani beliau adalah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Karena itu mereka mempersilahkannya.
Nabi SAW kemudian menceritakan tentang risalah kenabian beliau dan seluk-beluk tentang keislaman. Usai beliau bercerita, ke enam orang tersebut saling berpandangan, kemudian salah satunya berkata, “Demi Allah, kalian semua mengetahui bahwa dia (yakni Rasulullah SAW) benar-benar seorang nabi, yang ciri-cirinya sering disebut-sebut oleh orang-orang Yahudi. Karena itu jangan sampai mereka mendahului kalian, dan marilah kita mengikuti seruannya memeluk Islam!!”
Memang, dalam pergaulannya dengan orang-orang Yahudi Yatsrib selama ini, telah santer terdengar berita kalau mereka tengah menunggu kehadiran seorang nabi yang muncul pada masa itu, dan menyebutkan ciri-cirinya. Bahkan orang-orang Yahudi itu, yang termasuk minoritas dan lemah dibanding penduduk asli Yatsrib, sering membangga-banggakan kalau telah mengikuti nabi tersebut, mereka akan menjadi kuat dan mampu memerangi Khazraj dan Aus dan menghancur-leburkannya, sebagaimana di masa lalu kaum Ad dan Iram dihancurleburkan dengan pertolongan Allah.
Auf dan ke lima temannya tampaknya memang sependapat tentang kebenaran kenabian Rasulullah SAW itu. Apalagi dengan penjelasan beliau tentang Risalah Islamiah, mereka berharapan besar akan bisa menyatukan dua suku, Khazraj dan Aus, yang telah terlibat perang saudara selama bertahun-tahun lamanya, dan melenyapkan permusuhan yang berlarut-larut rasanya.
Satu persatu mereka menjabat tangan Rasulullah SAW dan menyatakan diri memeluk Islam. Setelah keislamannya, Auf berkata, “Kami tidak akan membiarkan kaum kami (yakni Khazraj) dan kaum lainnya (yakni Aus) terus-menerus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah akan menyatukan mereka dengan kehadiran engkau. Sepulangnya nanti, kami akan mengajak mereka untuk memeluk agama engkau, dan jika mereka bisa bersatu , maka sungguh tidak ada yang lebih mulia di mata kami kecuali engkau!!”
Nabi SAW sangat gembira dengan niat Auf dan kawan-kawannya untuk mendakwahkan Islam kepada orang-orang Yatsrib, dan beliau mendoakan mereka dengan kebaikan. Dan ternyata benar, seruan mereka memperoleh sambutan luar biasa dari kaumnya termasuk dari ‘musuhnya’, kaum Aus. Segera saja nama Nabi Muhammad SAW menjadi ‘buah bibir’ di masyarakat Yatsrib dan banyak sekali yang memeluk Islam.
Pada tahun haji berikutnya, yakni tahun ke duabelas dari kenabian, lima dari enam pemuda tersebut termasuk Auf bin Harits al Afra, berikut tujuh orang tokoh-tokoh dari berbagai kabilah termasuk dari suku Aus, bertemu dan menghadap Nabi SAW di Aqabah, Mina untuk meneguhkan keislaman mereka, mewakili sebagian besar dari kaumnya yang telah memeluk Islam. Peristiwa ini dalam tarikh Islam disebut sebagai Bai’atul Aqabah Pertama, dan menjadi salah satu tonggak perkembangan Islam.
Karena peristiwa itu, tidak heran kalau Auf bin Harits menjadi salah satu pemuda yang disayang dan diperhatikan khusus oleh Rasulullah SAW.
Pada awal perang Badar, tiga orang penunggang kuda yang handal dari kaum kafir Quraisy menantang duel. Mereka bertiga masih bersaudara, yakni Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah, saudara kandung dari Hindun binti Utbah. Mendapat tantangan duel ini, tiga orang pemuda Anshar langsung maju menyambutnya, yakni Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah. Tetapi tiga tokoh Quraisy tersebut tampaknya tidak berkenan, salah satu dari mereka berkata, "Siapakah kalian ini?"
"Kami adalah orang-orang Anshar!!" Kata ketiga pemuda tersebut.
"Kami hanya menginginkan orang-orang yang terpandang (untuk menerima tantangan kami), kami tidak memerlukan kalian. Kami hanya menginginkan kerabat pamanku..!!"
Sebagian dari kaum kafir Quraisy juga ada yang berkata, "Hai Muhammad, keluarkanlah orang-orang yang terpandang yang berasal dari kalangan kami!!"
Para pemuda Anshar tersebut tampaknya marah dan tersinggung dengan sikap yang meremehkan itu, tetapi Nabi SAW memanggil mereka untuk kembali. Kemudian beliau memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib untuk menghadapi mereka, dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Tetapi Ubaidah terluka parah dalam duel tersebut, yang menghantarnya memperoleh syahid dalam pangkuan Rasulullah SAW.
Auf bin Harits cukup kecewa karena gagal berduel dengan tokoh Quraisy. Karena itu, setelah peperangan mulai berlangsung, ia mendatangi Nabi SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyebabkan Rabb (Allah) tersenyum terhadap hamba-Nya??"
Nabi SAW tersenyum melihat semangatnya. Beliau memang seorang motivator yang hebat, yang memahami benar bagaimana perasaan pemuda Anshar ini akibat peristiwa yang dialami sebelumnya. Beliau bersabda, "Kalau Dia melihat hamba-Nya menerjunkan diri menyerang musuh tanpa memakai baju besi!!"
Mendengar sabda beliau ini, Auf segera melepaskan baju besi yang dipakainya, kemudian menghambur menyerang musuh dengan pedangnya. Benarlah yang dikatakan Rasulullah SAW, dengan tanpa memakai baju besi, ia jadi lebih leluasa bergerak dan lebih maksimal dalam "menumpahkan" semangatnya untuk membela panji-panji keislaman. Tetapi tak ayal, tubuhnya-pun menjadi serangan empuk dari berbagai macam senjata musuh dan akhirnya ia menemui syahidnya.
Bukanlah penyesalan, karena kesyahidan itulah yang sebenarnya banyak diinginkan oleh para sahabat Nabi SAW. Bahkan Khalid bin Walid sempat "menyesal" ia tidak bisa menemui syahidnya di medan pertempuran tetapi hanya ‘syahid’ di atas tempat tidurnya, karena ia selalu memenangkan berbagai pertempuran yang diterjuninya, berkat doa Nabi SAW, yang kemudian menggelarinya sebagai Syaifullah, Si Pedang Allah.
            Bagi Auf bin al Afra sendiri, kesyahidannya  seolah melengkapi kemuliaan keluarganya, karena saudaranya Muawwidz bin al Afra, setelah berhasil membunuh Abu Jahal juga menemui syahidnya di perang Badar tersebut. Sedangkan saudara kandungnya yang lain, Mu’adz bin Harits al Afra tetap dalam keadaan hidup walau mengalami banyak luka-luka. Tetapi sebagian riwayat menyebutkan, Mu’adz juga meninggal beberapa hari atau minggu setelah perang Badar tersebut.