Kamis, 20 Oktober 2016

Sa'd bin Rabi' RA, Sahabat yang Syahid di Perang Uhud



            Sa’d bin Rabi’ RA adalah seorang sahabat Anshar. Pada masa awal hijrah ke Madinah, oleh Nabi SAW ia dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf. Mendengar keputusan Nabi SAW itu, segera saja ia berkata kepada Ibnu Auf, "Aku adalah orang Anshar yang paling kaya, aku bagi dua hartaku dan separuhnya untukmu. Lihatlah istri-istriku, mana yang engkau sukai akan aku ceraikan. Setelah usai iddahnya, engkau bisa menikahinya…"
Abdurrahman bin Auf berterima kasih atas tawarannya tersebut, tetapi ia tidak mau menerimanya. Ia minta ditunjukkan pasar dan keesokan harinya ia berdagang di Pasar Qainuqa.
Pada perang Uhud, Sa'd bin Rabi' mengalami sekitar tujuh puluh luka, baik karena pedang, tombak ataupun anak panah. Dalam keadaan sekarat dimana nafasnya tinggal satu-satu, datanglah Zaid bin Tsabit yang memang  diperintahkan Rasulullah untuk mencarinya. Zaid berkata, "Wahai Sa'd, sungguh aku diperintah Rasulullah SAW mencarimu, dan beliau mengirim salam untukmu. Dan beliau bertanya kepadamu, bagaimana keadaanmu?"
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Sa'd berkata,                                                                         
            "Kesejahteraan bagi Rasulullah dan bagimu juga. Katakan pada beliau, 'Wahai Rasulullah, aku telah mencium baunya jannah.' Dan katakan kepada kaumku, orang-orang Anshar, 'Kalian tidak mempunyai alasan apapun untuk melepaskan diri dari Rasulullah, walaupun kalian hanya bisa menggerakkan alis kalian…'."
Setelah itu, Sa'd meninggal sebagai syahid dalam perang Uhud tersebut.
Sa’d wafat dengan meninggalkan dua anak perempuan. Seperti kebiasaan jahiliah, saudara dari Sa'd mengambil seluruh harta peninggalan Sa'd. Istri Sa'd, Amrah binti Hizam datang kepada Nabi SAW dengan membawa putrinya, dan berkata,        "Ya Rasulullah, dua anak wanita ini adalah putri Sa'd bin Rabi, yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan syahid disana. Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya tanpa meninggalkan sedikitpun bagi keduanya. Padahal ia akan sulit mendapatkan jodohnya jika tidak memiliki harta."
Atas pernyataan Amrah ini, Nabi SAW bersabda, "Allah akan memutuskan hukumNya."
Tidak lama berselang, turunlah ayat tentang hukum waris, yakni Surah an Nisa ayat 11-12, dimana salah satunya mengatur hak anak perempuan atas warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Inilah salah satu wujud penghargaan Islam kepada wanita dan menghapuskan kebiasaan jahiliah yang “menafikan” seorang anak wanita dalam hal harta warisan.

Kamis, 20 Agustus 2015

Hanzhalah bin Rahib RA (Ghasilul Malaikat), Sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Hanzhalah bin Rahib adalah seorang sahabat Anshar dari suku Aus. Ia memeluk Islam sejak awal Islam didakwahkan di Madinah oleh utusan Nabi SAW, Mush’ab bin Umair. Tetapi keputusannya itu harus dibayar mahal, yakni perpisahan dengan ayahnya yang menentang keras dan sangat tidak setuju dengan kehadiran Islam di Madinah. Hal itu berbeda sekali dengan sikap mayoritas penduduk Madinah, baik dari suku Khazraj ataupun Aus, termasuk pemuka-pemukanya.
Ayah Hanzhalah, Abd Amr bin Shaify merupakan salah satu pemuka suku Aus. Ia lebih dikenal dengan nama Abu Amir, dan lebih sering lagi dipanggil dengan nama Rahib. Ketika Nabi SAW telah hijrah ke Madinah, dengan terang-terangan ia memusuhi beliau. Kemenangan kaum muslimin di Perang Badar tidak membuat Abu Amir luluh hatinya untuk memeluk Islam, justru ia meninggalkan Madinah dan pindah ke Makkah, di sana ia terus menghasut dan memberi semangat kaum Quraisy untuk membalas kekalahan dengan menyerang Madinah, hingga terjadilah Perang Uhud, dan ia bersama pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid.
Dalam Perang Uhud, Hanzhalah mengetahui kalau ayahnya berada di pihak musuh, karena itu ia berusaha sebisa mungkin tidak bentrok langsung dengan ayahnya. Bagaimanapun juga masih tersisa penghargaan dan penghormatan terhadap ayahnya itu sehingga tidak mungkin ia akan mengayunkan pedang kepadanya. 
Dalam suatu kesempatan, Hanzhalah berhasil berhadapan dengan Abu Sufyan bin Harb, pimpinan utama pasukan Quraisy. Semangatnya memuncak, karena kalau ia berhasil membunuh pucuk pimpinannya, pengaruhnya akan besar sekali dalam melemahkan semangat pasukan musuh. Ia bertempur dengan garangnya dan menguasai keadaan, ketika posisinya di atas siap melakukan serangan terakhir untuk membunuh Abu Sufyan, tiba-tiba muncul Syaddad bin Aus (Ibnu Syu'ub) yang ketika itu masih kafir, dari arah belakangnya, yang langsung menikamnya sehingga ia tewas, gugur bersimbah darah menjemput kesyahidannya.
Usai pertempuran, seperti para syuhada lainnya, ia akan dimakamkan dengan pakaian yang dikenakan tanpa dimandikan lagi. Tetapi ketika tiba giliran akan dimakamkan, para sahabat kehilangan jenazahnya. Merekapun mencari-carinya, dan ditemukan di tempat agak tinggi, dan tampak masih basah dan ada sisa air di tanah. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW bersabda, "Saudara kalian ini dimandikan oleh para malaikat, coba tanyakan kepada keluarganya mengapa ini terjadi?"
Beberapa sahabat mendatangi istri Hanzhalah, Jamilah binti Ubay bin Salul, saudari dari tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi dia seorang muslimah yang baik. Ternyata mereka berdua ini masih pengantin baru. Ketika perang Uhud tersebut terjadi, sebenarnya mereka masih dalam masa bulan madu. Para sahabat mengabarkan tentang kesyahidan suaminya, dan peristiwa yang terjadi pada jenazahnya, serta perintah Nabi SAW untuk menanyakan sebabnya. Jamilah berkata, "Ketika mendengar seruan untuk jihad, ia seketika meninggalkan kamar pengantin kami, tetapi ia dalam keadaan junub (berhadats besar)…."
Ketika hal ini disampaikan kepada Nabi SAW, beliau bersabda, "Itulah yang menyebabkan malaikat memandikan jenazahnya…"
Karena itulah Hanzhalah bin Rahib mendapat gelaran "Ghasilul malaikat" (Orang yang dimandikan malaikat)  dan ia menjadi salah satu kebanggaan kaum Anshar, karena ‘karamah’ (kemuliaan) yang diperolehnya.

Note:sn363

Tsabit bin ad Dahdahak RA, Sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Tsabit bin ad Dahdahak, atau dalam beberapa riwayat lain disebut Tsabit bin ad Dahdah, adalah seorang sahabat Anshar. Pada perang Uhud, ketika terjadi kekacauan dan kebingungan pasukan muslim karena berhembusnya berita bahwa Nabi SAW telah terbunuh, Tsabit berteriak keras, "Wahai orang-orang Anshar, mendekatlah kepadaku! Aku adalah Tsabit bin ad Dahdahak, sekiranya Muhammad SAW telah tewas, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan mati. Karena itu berperanglah semata-mata untuk agama kalian. Sungguh Allah akan memenangkan dan memberikan pertolongan kepada kalian…"
Beberapa sahabat Anshar lainnya bergabung dengan Tsabit, mereka menyerang pasukan musyrik dengan garangnya. Sekelompok pasukan Quraisy bersenjata lengkap, antara lain Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, Dhirar bin Khaththab dan lain-lainnya lagi menghadapi para sahabat Anshar ini. Akhirnya Khalid bin Walid melepaskan tombaknya dan mengenai Tsabit sampai tembus dan tewas seketika. Para sahabat Anshar yang mengikutinya pada akhirnya menemui syahid juga.
Menurut sebagian riwayat, para sahabat Anshar ini merupakan orang-orang yang terakhir menemui syahidnya di Perang Uhud. Riwayat lainnya menyebutkan, tujuh orang sahabat Anshar di sekitar Nabi SAW, yang terakhir Umarah bin Yazid bin as Sakan, yang menjadi syahid-syahid terakhir di peperangan itu. Atau bisa jadi menjadi syahid dalam waktu yang hampir bersamaan karena keadaan pasukan muslim saat itu terpecah-pecah dan porak poranda. Setelah itu keadaan berbalik, pasukan muslim kembali menyusun kekuatan, setelah tahu dan yakin bahwa Nabi SAW masih hidup walaupun dalam keadaan terluka. Dan akhirnya mereka berhasil mengusir pasukan kafir Quraisy. 

Note:sn345

Harits bin Suwaid RA, Sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Pasukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW dalam Perang Uhud tidak semuanya dari kaum muslimin (kaum Muhajirin atau Anshar), tetapi ada juga orang-orang Madinah yang masih musyrik, orang Yahudi, termasuk kaum Munafiqin yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Tetapi keikutsertaan mereka dalam pertempuran tersebut ada juga yang membawa berkah dan hidayah, yakni memeluk Islam dan kemudian syahid, padahal belum ada ibadah yang dilakukannya dalam Islam, kecuali membaca dua kalimat Syahadat saja, salah satu di antara mereka adalah Harits bin Suwaid.
Harits bin Suwaid adalah putra dari Suwaid bin Shamit, seorang sahabat Nabi SAW yang telah memeluk Islam dan menjumpai syahidnya ketika Islam belum didakwahkan di Madinah. Suwaid merupakan orang yang terkemuka dari kaumnya, bernasab mulia dan mempunyai kedudukan tinggi, serta seorang penyair yang cerdas sehingga memperoleh gelar Al Kamil (Sang Sempurna) dari penduduk Yatsrib. Ketika terjadi Perang Bu’ats, perang saudara  antara suku Aus dan Khazraj, ia tewas di tangan Abdullah bin Ziyad, atau dikenal dengan Al Mujadzdzir. Karena itulah Harits menyimpan rasa dendam kepada pembunuh ayahnya tersebut. Tetapi ia tidak berani ‘menantang’ langsung, karena Al Mujadzdzir seorang yang berwatak kasar dan pemberani. Gelar atau nama Al Mujadzdzir, yang artinya Sang Pembongkar Urat, disematkan kepadanya karena wataknya tersebut, khususnya di masa jahiliahnya. Ketika telah memeluk Islam, berangsur wataknya tersebut berangsur berkurang.
Ketika berangkat ke Uhud, Harits bin Suwaid belum memeluk Islam, ia hanya ‘ikut-ikutan’ saja, karena kebanyakan dari kaumnya yang tinggal di Madinah adalah kaum wanita dan anak-anak, serta orang-orang tua dan lemah. Ketika bertempur dalam kubu yang sama melawan kaum kafir Quraisy, entah mengapa Harits berprasangka bahwa Al Mujadzdzir akan membunuhnya jika mereka telah kembali ke Madinah, apalagi saat itu ia belum memeluk Islam. Perasaan itu begitu menghantuinya, sehingga pada suatu kesempatan, ketika Al Mujadzdzir sibuk berperang dengan orang kafir, Harits menikamnya sehingga tewas.
Ternyata setelah menewaskan ‘pembunuh’ ayahnya tersebut, perasaaanya bukannya jadi tenang, justru timbul penyesalan yang luar biasa. Ia segera menghadap Nabi SAW menunjukkan penyesalannya, sekaligus menyatakan dirinya memeluk Islam. Kemudian ia kembali ke medan pertempuran dan akhirnya gugur sebagai syahid.  

Note:spr174

Suwaid bin Shamit RA

Suwaid bin Shamit adalah penduduk Yatsrib (Nama kota Madinah di masa jahiliah), ia merupakan orang yang terkemuka dari kaumnya, suku Aus, bernasab mulia dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia juga seorang penyair yang cerdas sehingga memperoleh gelar Al Kamil (Sang Sempurna) dari penduduk Yatsrib. Ia termasuk sahabat yang memeluk Islam pada masa awal, yakni ketika beliau masih berada di Makkah, dan Islam belum didakwahkan di Madinah. Sayangnya ia tidak sempat bergaul dengan Nabi SAW dan mengalami masa masa perjuangan dan keemasan Islam di Madinah.
Ketika Suwaid sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah (tentunya dengan cara dan tradisi lama, yakni kebiasaan jahiliah), Nabi SAW mendatangi dirinya dan mengajaknya memeluk Islam. Sebagai seorang yang cerdas dan memiliki pengetahuan luas, Suwaid justru berkata, “Boleh jadi apa yang ada padamu itu sama dengan yang ada padaku…!!"
Nabi SAW bersabda, "Apa yang ada padamu?"
"Hikmah al Luqman!!" Kata Suwaid.
"Tunjukkan padaku!!" Kata beliau.
Suwaid mulai melantunkan apa yang dimiliki dan diketahuinya dengan rangkaian syair-syair yang sangat indah  dan memikat perhatian. Setelah ia selesai, Nabi SAW berkata, "Sungguh suatu kata-kata yang baik, namun yang ada padaku jauh lebih baik dan utama dari kata-katamu itu. Ini adalah Al Qur'an yang diturunkan Allah kepadaku, petunjuk dan cahaya…"
Kemudian Nabi SAW mulai membacakan beberapa ayat-ayat Al Qur'an kepada Suwaid. Ia tampak sangat terpesona dan khusyu' mendengar bacaan beliau. Sebagai seorang ahli syair yang cerdas, Suwaid tahu betul bahwa rangkaian kata dan kalimat seperti itu tidak mungkin disusun dan dibuat oleh manusia, sehebat apapun kemampuan  dan kecerdasannya. Setelah Nabi SAW selesai membacakan Al Qur'an, Suwaid berkata, "Ini adalah kata-kata yang benar-benar bagus..!!"
Setelah itu Suwaid menjabat tangan Nabi SAW dan berba'iat memeluk Islam. Suwaid pulang ke Yatsrib, dan tak lama setelah itu terjadi perang Bu'ats, perang saudara antara Suku Aus dan Khazraj, dan ia terbunuh dalam peperangan tersebut di tangan Abdullah bin Ziyad, atau yang lebih dikenal dengan nama Al Mujadzdzir. Riwayat lain menyebutkan, pembunuhan Suwaid bin Shamit oleh Al Mujadzdzir itulah yang memicu terjadinya Perang Bu’ats.

Minggu, 09 November 2014

Umarah bin Yazid RA dan Enam Sahabat Anshar, Sahabat-sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Setelah pasukan berkuda Khalid bin Walid mematahkan perlawanan Ibnu Jubair dan sembilan temannya yang tetap bertahan di atas bukit, kemudian menyerang kaum muslimin dari belakang, pasukan muslimin benar-benar centang-perenang. Ditambah lagi serangan dari pasukan inti Quraisy yang telah kembali ke arena pertempuran, pasukan muslimin jadi terpecah belah tidak karuan, bahkan banyak yang melarikan diri dan juga menyerah meletakkan senjatanya di tanah. Mereka yang masih mencoba bertahan juga diserang kepanikan karena keadaan yang begitu cepat berubah, sehingga ada yang secara tidak sengaja menyerang dan membunuh sesama muslim, seperti yang terjadi pada Al Yaman, ayah dari sahabat Hudzaifah.
Beberapa orang sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan beberapa lainnya yang telah terlanjur jauh di depan, berusaha untuk mundur karena pikiran mereka tertuju pada keselamatan Nabi SAW. Tetapi untuk itu mereka juga harus menyibak jalan dengan bertempur, karena pasukan Quraisy sepertinya ada di mana-mana. Apalagi mereka juga tidak tahu pasti dimana keberadaan beliau setelah keadaan menjadi kacau balau seperti itu.
Nabi SAW sendiri terpecil hanya dengan sembilan orang sahabat, tetapi keberadaan beliau belum diketahui oleh pasukan Quraisy karena beliau memakai baju besi, termasuk yang menutupi wajah beliau. Dua sahabat Muhajirin, yakni Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’d bin Abi Waqqash, serta tujuh sahabat Anshar, di antaranya Umarah bin Yazid bin Sakan, yang jadi benteng terakhir beliau saat itu. Kalau saja keberadaan Nabi SAW tetap tidak diketahui, peperangan mungkin akan merata di segala lini, tetapi melihat keadaan pasukan muslimin yang seperti itu, beliau berseru keras, “Wahai kaum muslimin, kemarilah, aku adalah Rasulullah!!”
Dampak dari seruan itu ternyata luar biasa, kaum muslimin menyibak jalan pertempuran untuk bisa sampai ke sana, tetapi pada saat yang sama, kaum Quraisy memusatkan serangan ke tempat beliau berada. Melihat gelombang serangan yang begitu hebat, Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang melindungi aku, dia akan masuk surga dan menjadi pendampingku di surga!!”
Sembilan orang sahabat itu langsung bersiaga, salah satu dari sahabat Anshar langsung merangsek maju menghambat laju serangan kaum Quraisy. Setelah ia menemui syahidnya, salah seorang Anshar lainnya ganti menyerang untuk menghambat gerak pasukan Quraisy. Begitu seterusnya, satu persatu maju, hingga orang Anshar ke tujuh, Umarah bin Yazid bin Sakan. Ketika Umarah melakukan perlawanan, pasukan Quraisy telah sangat dekat dengan Nabi SAW. Thalhah dan Sa’d dengan susah payah menghalau panah dan lembing yang mengarah kepada Nabi SAW. Ketika Umarah akhirnya tewas terkapar menemui syahidnya, pipinya teregeletak di kaki Nabi SAW.
Setelah tewasnya Umarah inilah serangan kaum kafir Quraisy makin menjadi-jadi. Utbah bin Abi Waqqash, saudara dari Sa’d, berhasil menyerang Nabi SAW dengan batu hingga melukai lambung, gigi seri dan bibir beliau. Abdullah bin Syihab berhasil memukul dan melukai kening beliau. Dan akhirnya Abdullah bin Qami’ah berhasil memukul bahu dan pipi beliau hingga beliau jatuh terjerembab ke dalam suatu lubang, dan dua potongan besi menancap di pipi beliau. Dua sahabat Muhajirin yang tersisa itu hampir tidak mampu lagi bertahan, tetapi tiba-tiba Sa’d melihat dua orang berpakaian putih yang bertempur di sisi Rasulullah SAW, yang ia belum pernah melihat ‘orang’ itu, baik sebelum atau sesudah pertempuran itu. Dalam suatu riwayat, Nabi SAW menjelaskan bahwa dua orang itu adalah malaikat Jibril dan Mikail.
Ketika pada akhirnya Thalhah roboh, dua orang sahabat berhasil mencapai tempat Nabi SAW, yakni Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Kemudian beberapa orang menyusul seperti Abu Dujanah, Ali bin Abi Thalib, Sahl bin Hanif, Malik bin Sinan, seorang wanita Anshar, Nasibah (Nusaibah) binti Ka’ab al Maziniyah, atau yang lebih dikenal dengan Ummu Ammarah, Umar bin Khaththab, Qatadah bin Nu’man, Hathib bin Abi Balthaah, dan Abu Thalhah.     
    
Note:sn346347

Abdullah Bin Jubair RA dan Sembilan Pemanah di Bukit, Sahabat-sahabat yang Syahid di Perang Uhud

Ketika berlangsungnya Perang Uhud, Nabi SAW menerapkan strategi bertahan (defensif). Tidak hanya karena jumlah pasukannya yang lebih kecil daripada kaum Quraisy, tetapi terlebih karena pasukan muslimin baru saja mengalami ‘hantaman psikologis’ karena Abdullah bin Ubay bersama 300 pengikutnya tiba-tiba mundur (desersi), kembali ke Madinah, setelah melihat pasukan Quraisy yang berkekuatan 3.000 orang. Sisa 700 pasukan muslimin yang sempat terguncang akhirnya kembali tegar, apalagi dengan turunnya firman Allah, QS Ali Imran ayat 121-125, yang memerintahkan mereka untuk tidak bergantung kepada manusia, tetapi lebih tawakkal kepada Allah, seperti ketika terjadinya Perang Badar.
Nabi SAW menempatkan satu pasukan di sayap kanan yang dipimpin oleh Mundzir bin Amr. Di sayap kiri ada dua pasukan yang dipimpin Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad, dan bertugas menghadang laju pasukan berkuda (kavaleri) Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid. Sedangkan pada barisan terdepan terdapat para tokoh pemberani dari kaum Muhajirin dan Anshar, seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Umar bin Khaththab, Ali Bin Abi Thalib, Abu Dujanah, Sa’d bin Muadz, Usaid bin Hudhair, dan lain-lainnya.
Di belakang pasukan muslimin adalah gunung Uhud, dan di suatu bukit yang (di kemudian hari) disebut Jabal Rumat, Nabi SAW menempatkan 50 orang pemanah ulung yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair bin Nu’man al Anshary al Ausy. Beliau berpesan, “Lindungilah kami dengan anak panah kalian, agar musuh tidak menyerang kami dari belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita menang (di atas angin) ataupun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu!!”
Sekali lagi beliau menegaskan perintahnya, “Lindungilah punggung kami, jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami tengah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabuing bersama kami!!”
Seolah-olah Nabi SAW telah memperoleh gambaran akan apa yang akan terjadi dalam pertempuran itu, sehingga beliau begitu menekankan perintah tersebut. Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa beliau bersabda, “Jika kalian melihat kami sedang disambar burung sekalipun, janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali jika ada utusanku yang datang menjemput kalian. Jika kalian melihat kami telah mengalahkan musuh sekalipun, tetaplah di sana, janganlah meninggalkan tempat itu, hingga ada utusanku yang datang kepada kalian!!
Strategi bertahan yang diterapkan Nabi SAW terbukti ampuh. Begitu pecah peperangan, pasukan berkuda Quraisy yang terkenal handal, yang dipimpin seorang ahli startegi pertempuran, Khalid bin Khalid mencoba merangsek dari sayap kiri, tetapi mengalami kegagalan. Mereka tidak mampu menembus dua pasukan yang dipimpin Zubair dan Miqdad, karena pada saat yang sama, Ibnu Jubair dan pasukannya di atas bukit menghujani dengan anak panah.
Dengan keadaan yang kokoh, dimana pasukan muslimin tidak bisa dimasuki musuh dari arah manapun sehingga tetap menyatu, pasukan musyrik mengalami kekalahan telak. Mereka lari tunggang-langgang dari arena peperangan, termasuk pasukan Khalid bin Walid, dan meninggalkan harta dan barang bawaannya berserak di arena pertempuran demi menyelamatkan nyawanya. Panji pertempuran mereka tergeletak setelah sepuluh atau sebelas kali pembawanya yang mencoba tetap mengibarkannya tewas terbunuh. Tentunya semua itu tidak terlepas dari pertolongan Allah SWT, di samping strategi dan kedisiplinan yang dijalankan oleh seluruh pasukan muslimin.
Ketika pertempuran hampir usai dan kemenangan hampir pasti di tangan, Nabi SAW tetap saja memerintahkan agar pasukan bersiaga di tempatnya masing-masing. Tetapi beberapa orang pemanah di atas bukit, yang area pemandangannya memang lebih luas, tiba-tiba berteriak, “Harta rampasan, harta rampasan!! Teman-teman, kita ini telah menang, apalagi yang kita tunggu!!”
Mungkin memang tidak salah apa yang dikatakannya bahwa mereka telah menang, tetapi yang dilupakan, mereka harus disiplin dan taat pada perintah komandannya. Abdullah bin Jubair dengan tegas berkata, “Apakah kalian telah lupa apa yang dipesankan Rasulullah kepada kalian??”
Tetapi mayoritas dari mereka tidak memperdulikan peringatan itu. Tampaknya perasaan cinta duniawiah (hubbud dunya) masih ada di hatinya. Mereka berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan bergabung dengan mereka (pasukan inti) agar kami mendapatkan bagian dari rampasan perang ini…!”
Empatpuluh orang segera beranjak pergi meninggalkan bukit. Ibnu Jubair dengan sembilan temannya yang tersisa berusaha keras menahannya tetapi tetap saja mereka pergi, sehingga hanya tinggal mereka saja yang bertahan. Keadaan itu ternyata tidak lepas dari pengamatan Khalid bin Walid, walau sebenarnya ia dan bala tentara Quraisy lainnya telah cukup jauh meninggalkan arena pertempuran. Ia memerintahkan pasukan berkudanya kembali ke arah Uhud, mengambil jalan memutar hingga langsung berhadapan dengan pasukan panah Ibnu Jubair, yang tentu saja tidak mampu menahan laju serangan seperti sebelumnya. Satu persatu mereka terkapar bersimbah darah menemui syahidnya, demi mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap bertahan di atas bukit, apapun yang terjadi.
Kemudian Khalid bin Walid menyerang pasukan muslimin dari arah belakang hingga mereka porak poranda. Pergerakan ini ternyata diikuti oleh pasukan Quraisy lainnya, yang segera kembali ke arena pertempuran dan memborbardir kaum muslimin dengan serangan dari segala arah. Seorang wanita Quraisy bernama Amrah binti Alqamah al Haritsiyah segera mengambil panji pertempuran Quraisy dan mengibarkannya sehingga semangat mereka kembali menyala. Kemenangan kaum muslimin yang tinggal sedikit saja diraih, berbalik menjadi kekalahan hanya karena ketidak-disiplinan dan ketidak patuhan 40 orang pemanah di bukit terhadap perintah Rasulullah SAW.  

Note:sn341344