Senin, 08 April 2013

Abdullah bin Umar RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW, Peniru Nabi SAW yang (Hampir) Sempurna

Abdullah bin Umar adalah putra Umar bin Khaththab, dan ia telah memeluk Islam semenjak kanak-kanak ketika masih di Makkah. Ia bergaul dengan Rasulullah SAW sepanjang masa anak-anak dan remajanya. Pada saat terjadinya Perang Uhud, bersama beberapa orang pemuda/remaja lainnya ia menghadap Rasulullah SAW untuk ikut serta dalam pertempuran tersebut, tetapi beliau tidak mengijinkan mereka. Saat itu usianya memang belum genap 15 tahun.
Dalam usianya yang masih sangat muda, Ibnu Umar sangat mencintai Nabi SAW. Dalam setiap kesempatan yang dimilikinya, ia selalu mengamati dan mengikuti aktivitas Nabi SAW. Ia melihat ada seorang lelaki yang selalu mendatangi Nabi SAW untuk menceritakan mimpinya jika ia bermimpi. Karena itu ia sangat ingin bisa bermimpi, agar bisa menceritakan mimpinya kepada Nabi SAW seperti lelaki tersebut. 
Suatu ketika ia tidur di masjid, dan memimpikan sesuatu yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Ia merasa memegang suatu kain sutera, dan tidaklah tergerak di hatinya suatu tempat di surga, kecuali kain sutera itu akan menariknya (membawanya) terbang ke tempat tersebut. Tiba-tiba ada dua malaikat datang dan membawanya ke neraka. Di sana ia melihat bangunan seperti sumur yang mempunyai dua cabang, dan di dalam sumur tersebut banyak orang yang dikenalinya. Muncul kekhawatiran dalam dirinya, sehingga ia berkata, "Semoga Allah melindungiku dari neraka ini…!"
Kemudian datang malaikat yang lain, yang mengatakan agar ia tidak takut dengan neraka tersebut. Setelah itu ia terbangun dari tidurnya.
Walau keinginannya untuk bermimpi telah terpenuhi, ternyata Ibnu Umar tidak punya keberanian untuk menceritakan mimpinya tersebut kepada Nabi SAW seperti yang diinginkan sebelumnya. Karena itu ia menceritakannya kepada kakaknya yang juga istri Nabi SAW, Hafshah. Ketika Hafshah menceritakan mimpi tersebut kepada Nabi SAW, beliau bersabda, "Abdullah bin Umar adalah anak yang baik, saya berharap semoga ia selalu melaksanakan shalat malam."
Setelah Hafshah menyampaikan sabda Nabi SAW tersebut, Ibnu Umar selalu mengerjakan shalat malam, dan tidur hanya sebentar saja. 
Abdullah bin Umar dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meneladani Nabi SAW, dalam sikap dan perilaku beliau, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tak berarti. Ia selalu memperhatikan apa yang dilakukan Nabi SAW, dan kemudian menirunya dengan cermat dan teliti, agar semaksimal mungkin bisa sama. Misalnya ia melihat Nabi SAW shalat di suatu tempat, maka di tempat yang sama, ia akan melakukan shalat seperti beliau. Jika Nabi SAW berdoa dengan berdiri, ia juga akan berdoa dengan berdiri di tempat tersebut.
Pernah, di suatu tempat di Makkah, ia melihat Nabi SAW berputar dua kali dengan untanya sebelum turun dan shalat dua rakaat. Maka setiap kali ia melewati tempat itu, ia akan memutar untanya dua kali, kemudian turun dan shalat dua rakaat seperti yang pernah dilakukan Nabi SAW. Padahal bisa saja unta Nabi SAW itu memutar sekedar untuk mencari tempat yang tepat untuk berhenti dan beristirahat.
Begitulah kesetiaan Abdullah bin Umar dalam mengikuti jejak langkah Nabi SAW, sehingga Ummul Mukminin, Aisyah RA pernah berkata,  "Tak seorangpun mengikuti jejak Rasulullah SAW di tempat-tempat pemberhentian beliau, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar…."
Hampir tidak ada suatu perilaku Nabi SAW, yang diketahuinya yang tidak ditirunya. Setelah beberapa tahun berlalu sepeninggal Nabi SAW, ia ingat sesuatu yang ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh beliau dan ia belum menirunya. Waktu Fathul Makkah, beliau masuk ke dalam Ka'bah. Yang diketahuinya beliau menghancurkan berhala-berhala, setelah itu ia tidak tahu. Karenanya ia segera mencari Bilal bin Rabah yang saat itu mengikuti beliau masuk ke dalam Ka'bah untuk menanyakan hal tersebut. Atas pertanyaannya ini Bilal berkata, "Beliau berdiri di antara dua tiang Ka'bah dan shalat dua rakaat…."
Mendengar penjelasan ini Abdullah bin Umar menangis penuh penyesalan, beberapa kali ia mengunjungi dan masuk ke dalam Ka'bah, tetapi ia tidak pernah shalat dua rakaat seperti itu. Ia sangat sedih dan merasa telah gagal meneladani Nabi SAW, seolah-olah sekian banyak ibadah, jihad, kedermawanan dalam membelajakan hartanya di jalan Allah, dan berbagai amal kebaikan yang dilakukannya tidak bisa menebus kelalaiannya dalam mengamalkan dua rakaat yang dilakukan Nabi SAW di dalam Ka'bah tersebut.
Karena ‘kebiasaan uniknya’ tersebut, banyak sekali sahabat atau orang-orang yang tidak sempat bertemu Nabi SAW, berdoa, “Ya Allah, panjangkanlah usia Abdullah bin Umar selama Engkau menetapkanku untuk bisa meneladaninya. Karena sesungguhnya aku tidak mengetahui seseorang yang perilakunya paling menyerupai Rasulullah SAW selain dirinya!!”
Beberapa sahabat lainnya berkata, “Tidak ada seorangpun dari sahabat Nabi SAW yang sangat berhati-hati terhadap hadits, seperti hati-hatinya Abdullah bin Umar!!”
Dengan kesetiaannya meneladani Nabi SAW dan mengikuti pengajaran-pengajaran beliau, Abdullah bin Umar tumbuh menjadi seorang yang alim, abid dan zuhud, sebagaimana ayahnya, Umar bin Khaththab. Banyak sekali sahabat Nabi SAW mengakui ketaqwaannya, hingga ketika Umar hampir wafat, mereka mengusulkan agar putranya tersebut yang menjadi khalifah. Tetapi dengan tegas Umar berkata, “Cukuplah satu orang saja dari keluarga Umar yang akan dihisab (dituntut) dalam urusan (memimpin kaum muslimin) ini, yakni Umar…!!”
Begitu juga ketika Umar kesulitan mencari seseorang untuk menjabat gubernur Kufah, para sahabat mengusulkan Abdullah bin Umar karena kemampuan, kesalehan dan kealimannya. Tetapi lagi-lagi Umar menolak, walau ia yakin putranya tersebut mampu menjalankannya. Bukan berarti ia tidak sayang, justru karena sangat sayangnya kepada Abdullah bin Umar, maka sebisa mungkin ia menghindarkan putranya tersebut dari ‘lingkaran’ pemerintahan, agar langkahnya (hisabnya) di akhirat kelak menjadi ringan.
Saat Utsman bin Affan menjadi khalifah, ia menunjuk Ibnu Umar menjadi qadhi (hakim). Tetapi seperti pendidikan yang diberikan ayahnya, ia segera menolak jabatan tersebut. Ketika Utsman berkata, “Apakah engkau tidak taat kepadaku??”
Ibnu Umar berkata, “Bukan begitu, wahai Amirul Mukminin, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah SAW mengatakan, bahwa hakim itu terbagi tiga. Hakim yang memutuskan perkara dengan kebodohannya, maka ia masuk neraka. Hakim yang memutuskan perkara dengan hawa nafsunya, maka ia masuk neraka juga. Dan satu lagi hakim yang memutuskan dengan ijtihad, dan ijtihadnya itu benar, maka baginya tidak ada dosa dan tidak pula pahala baginya!!”
Ketika Utsman wafat terbunuh dan kaum muslimin mulai terpecah belah, beberapa orang sahabat mendatanginya dan berkata, “Wahai Ibnu Umar, engkau adalah pemimpin umat, dan putra dari pemimpin umat, keluarlah bersama kami, dan kami akan mengajak ummat untuk memba’iat engkau sebagai khalifah!!”
Tetapi seperti ketegasan dan keteguhan yang ditanamkan ayahnya, serta merta ia menolak tawaran tersebut, dan menyibukkan diri dengan ibadah demi ibadah kepada Allah.
Abdullah bin Umar berusia panjang hingga melewati masa-masa fitnah. Ketika terjadi pertentangan antara Ali dan Muawiyah, ia memilih untuk abstain, tidak memihak kepada ke dua belah pihak. Sebenarnya Ali bin Abi Thalib sendiri yang mendatanginya untuk bergabung, tetapi Ibnu Umar berkata, “Saya telah berjanji kepada Allah untuk tidak membunuh seseorang yang telah mengakui (bersyahadat, bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!!”
Setelah mengetahui penolakannya terhadap ajakan Ali, Muawiyah mengirim seorang utusan yang memintanya untuk bergabung dengannya. Tetapi Ibnu Umar menjawab dengan tegas dan lebih ‘pedas’ kepadanya, “Apa yang kamu harapkan daripadaku (yakni dukungan Ibnu Umar), adalah sesuatu yang menjadikan engkau seperti dirimu yang sekarang ini, bahkan lebih (yakni, ambisinya terhadap kekuasaan dan kesombongan). Aku tidak menyertai Ali bukan karena curiga kepadanya, demi Allah yang nyawaku di tangan-Nya, aku sama sekali tidak setaraf dengan Ali bin Abi Thalib (yakni, jauh lebih rendah), baik dalam keimanan, hijrah ataupun kedudukannya di sisi Rasulullah SAW, serta perjuangannya melawan kemusyrikan…. Akan tetapi apa yang terjadi sekarang ini belum terjadi di masa Nabi SAW, sehingga saya bersikap tidak memihak. Janganlah pernah mencoba untuk mempengaruhi saya lagi!!”
Setelah itu Abdullah bin Umar memilih menyendiri, sibuk beribadah serta melazimi sunnah dan perilaku Nabi SAW seperti yang selama ini banyak dilakukannya. Tetapi kondisi ‘politik’ dan kekuasaan Islam saat itu makin memanas setelah Ali bin Abi Thalib terbunuh. Para pemegang kekuasaan tidak lagi meneladani Nabi SAW dan para sahabat terdahulu, tetapi lebih seperti para Kaisar Romawi ataupun Kisra Persia, kedzaliman yang merajalela karena jabatannya. Banyak sekali peristiwa ‘hitam’ dalam sejarah Islam yang terjadi saat itu, sehingga membuat Ibnu Umar harus mengkritisi mereka. Mungkin tidak banyak berarti, tetapi setidaknya ia telah menyampaikan kebenaran yang diketahuinya dari Nabi SAW, dan itu adalah jihad yang sangat besar. Perkataan atau kalimat yang benar, yang disampaikan di hadapan penguasa yang dzalim.
Setelah meninggalnya khalifah Muawiyah bin Yazid pada tahun 64 hijriah, Marwan bin Hakam, salah seorang tokoh dan sesepuh Bani Umayyah, meminta Abdullah bin Umar untuk menjadi khalifah. Ibnu Umar memang bukan dari Bani Umayyah, tetapi salah satu keponakan (anak saudaranya) perempuannya ada yang dinikahi oleh putra Marwan, Abdul Azis bin Marwan. Atas dasar kedekatan hubungannya (dari perkawinan) inilah Ibnu Umar diminta untuk menjadi khalifah, yang tentu saja ditolaknya mentah-mentah. Apalagi ‘track record’ kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Muawiyah sangat buruk di kalangan para sahabat yang saleh-saleh.
Dengan tegas ia berkata kepada Marwan, “Siapa yang berseru : Mari kita shalat, maka aku akan menyambutnya. Siapa yang berseru : Mari kita mencapai kemenangan (di akhirat, hayya ‘alal falaah), maka aku menyambutnya. Tetapi siapa yang berseru : Mari kita membunuh saudara kita se-Islam, dan mengambil hartanya, maka aku akan berkata : Tidak!!”
         Setelah itu Ibnu Umar memisahkan diri dari dua kelompok kaum muslimin yang terus bertikai, semaksimal mungkin menghindarkan diri untuk tidak terjatuh dalam fitnah yang terus saja berkembang. Ia meninggal beberapa tahun kemudian pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Hanya saja ia sempat berkata sebelum ajal menjemputnya, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu dari dunia ini, kecuali penyesalanku karena tidak bergabung dengan Ali bin Abi Thalib dalam memerangi para pembangkang!!”

Jabir bin Abdullah al Anshari RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Jabir bin Abdullah adalah seorang sahabat Anshar yang cukup banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW. Ia putra salah seorang pahlawan Uhud yang syahid dalam pertempuran tersebut, yaitu Abdullah bin Amr bin Haram. Ketika menghimpun pasukan ke Uhud, ia sebenarnya ikut “mendaftarkan diri” menjadi mujahid dalam pertempuran tersebut bersama ayahnya, tetapi Nabi SAW hanya mengijinkan salah satunya. Akhirnya Jabir mengalah dan mendahulukan ayahnya untuk mengikuti Perang Uhud. 
            Sepulangnya dari perang Uhud, hanya semalam tinggal di Madinah, Nabi SAW kembali menghimpun pasukan untuk mengejar kaum musyrikin Makkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Cukup banyak yang ingin bergabung, termasuk sekitar tigaratus kaum munafiqin pimpinan Abdullah bin Ubay, yang dalam perang Uhud mereka “ngacir’ (pulang dahulu, desersi) sebelum pertempuran dimulai. Tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, "Yang boleh bergabung dalam pasukan ini, hanyalah orang-orang yang sebelumnya mengikuti perang Uhud." 
            Jabir datang kepada Nabi SAW dan meminta ijin untuk mengikuti pasukan tersebut, ia berkata, "Ya Rasulullah SAW, aku sangat senang bila senantiasa mengiringi engkau berjuang di jalan Allah. Tetapi kemarin itu ayahku meminta agar aku tinggal di rumah mengurusi saudara-saudaraku. Karena itu, ijinkanlah aku mengikuti peperangan kali ini, sebagai ganti ayahku yang telah syahid di medan Uhud."
            Sebenarnya Nabi SAW mengijinkan mereka yang dalam kesedihan karena kehilangan anggota keluarganya di Uhud untuk tetap tinggal di Madinah. Karena itu beliau menyarankan Jabir untuk tidak menyertai pasukan ini. Tetapi Jabir tetap memaksa sehingga beliau mengijinkannya ikut serta. Peperangan yang dikenal dengan nama Hamra'ul Asad ini, akhirnya tidak sampai terjadi kontak bersenjata, karena pasukan kaum Quraisy ketakutan, dan lebih memilih kembali ke Makkah.
            Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram atau dikenal dengan nama Abu Jabir, gugur di Uhud dengan meninggalkan hutang, maka Jabir datang kepada Nabi SAW untuk minta tolong membebaskan hutang-hutangnya. Beliau-pun menyampaikan permintaan Jabir tersebut, tetapi para pemberi hutang tersebut enggan untuk memenuhinya. Karena itu Nabi SAW bersabda pada Jabir, “Pergilah, atur kurmamu yang bermacam-macam itu, ajwah sebagian, azqa zaid sebagian, dan beberapa lainnya. Beritahukanlah kepadaku jika selesai!" 
            Jabir melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi SAW dan segera diberitahukan kepada Nabi SAW setelah selesai. Beliau memerintahkan Jabir untuk memanggil semua orang yang menghutangi ayahnya. Ketika mereka semua telah berkumpul, beliau duduk di atas atau di tengah-tengah kurma tersebut dan beliau bersabda kepada Jabir, "Takarlah, dan bayarkan kepada mereka yang berpiutang kepada ayahmu…!"
            Mereka yang menagih hutang ayahnya maju satu persatu, Jabir menakar dan memberi tambahan secukupnya, sehingga semua tanggungan ayahnya dapat diselesaikan, dan anehnya kurma-kurmanya yang berada di sekitar Nabi SAW duduk tidak berkurang sedikitpun. 
            Sungguh suatu peristiwa menakjubkan dimana mu’jizat Nabi SAW membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Jabir bin Abdullah. Ada satu peristiwa lagi, dimana mu’jizat Nabi SAW ikut “campur tangan” sehingga niat baik Jabir yang sebenarnya kecil dan sederhana saja, menjadi berdampak besar dan bermanfaat bagi banyak orang.
            Peristiwa ini terjadi saat penggalian parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, sebagai benteng pertahanan atas rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy Makkah dan sekutunya. Penggalian parit dengan panjang 30 km, sedalam 3 meter dan lebarnya 7 meter tersebut berlangsung selama hampir satu bulan. Tidak jarang para sahabat yang menegrjakan penggalian parit ini dilanda kelaparan karena keterbatasan makanan, termasuk juga Nabi SAW.
            Suatu ketika Jabir melihat Nabi SAW dalam keadaan sangat lapar. Memang, ia tidak melihat Nabi SAW memakan sesuatu dalam tiga hari terakhir, kecuali hanya air putih. Bahkan beliau telah mengganjal perut beliau dengan batu untuk mengurangi efek lapar. Jabir memiliki seekor kambing kecil yang tidak terlalu gemuk, dan ia ingin mempersembahkannya untuk Rasulullah SAW, karena itu ia diam-diam pulang. Ia menyembelih dan membakar kambing tersebut, dan menyuruh istrinya untuk membuat roti dari gandum. 
            Setelah makanan siap, dengan diam-diam ia mengundang Rasulullah SAW saja untuk datang ke rumahnya. Begitu menerima undangan Jabir, Beliau meminta seseorang mengumumkan undangan itu, "Pergilah kalian semua ke rumah Jabir."
            Jabir-pun terkejut dan menggumam, "Innalillahi wa innaa ilaihi rooji'un." 
            Tetapi ia tidak berkata apa-apa dan mengiringi Rasulullah SAW berjalan ke rumahnya, diikuti semua orang yang menggali parit. Istri Jabir begitu terkejut melihat rombongan besar itu dan bertanya kepada suaminya, tetapi Jabir berkata, “Rasulullah SAW lebih tahu apa yang beliau lakukan!!” 
            Istri Jabir segera menghidangkan roti dan daging yang tidak seberapa itu. Rasulullah SAW duduk menghadapi makanan, setelah berdoa dan membaca basmalah, beliau mulai menyantap. Setelah selesai, Nabi SAW menyuruh satu rombongan, sebanyak sepuluh orang, masuk untuk makan. Setelah mereka ini kenyang dan keluar rumah Jabir, satu rombongan lagi diperintahkan masuk untuk makan sekenyang-kenyangnya. Begitu seterusnya berulang-ulang hingga semua sahabat pekerja khandaq terobati rasa laparnya, dan memiliki tenaga baru untuk menggali parit pertahanan. Sungguh keberkahan karena doa Rasulullah SAW dan keikhlasan Jabir bin Abdullah.
            Jabir selalu menyertai Rasulullah SAW dalam berbagai pertempuran setelah Perang Uhud tersebut. Tidak jarang ia mengalami dan meyaksikan peristiwa luar biasa (mu’jizat) Rasulullah SAW seperti dalam perang Khandaq tersebut. Pernah dalam suatu perjalanan atau pertempuran, mereka masuk waktu shalat asar di tengah ‘belantara’ padang pasir yang gersang. Persediaan air yang ada hanya satu geriba, hanya mencukupi untuk berwudhu dan minum beberapa orang saja.  Beberapa sahabat pergi menyebar, tetapi tidak ditemukan sumber air untuk berwudhu ataupun minum.
            Akhirnya Nabi SAW memerintahkan agar air tersebut dituang ke dalam wadah (baskom), sambil berdoa beliau memasukkan tangan beliau ke dalam wadah tersebut dan membuka jari-jarinya. Dan sungguh mencengangkan, dari sela jari-jari beliau mengalir air sehingga air dalam wadah tersebut meluap. Beliau bersabda, “Marilah, siapa yang ingin berwudhu dan minum, ini adalah berkah dari Allah!!”
           Satu persatu para sahabat datang untuk berwudhu dan minum. Setelah semua selesai, mereka mengisi tempat-tempat air (geriba)-nya hingga penuh. Setelah tidak ada lagi yang mengambil airnya, Nabi SAW mengeluarkan tangan beliau dari wadah tersebut dan air-pun berhenti mengalir. Nabi SAW berwudhu dan minum dari wadah tersebut, dan Jabir yang memang berada di sebelah beliau yang menuangkannya.
           Sewaktu Jabir meriwayatkan peristiwa ini, ada yang menanyakan berapa jumlah sahabat yang ikut dalam pasukan tersebut. Jabir berkata, “Sekitar seribu empatratus orang sahabat!!”
           Jabir bin Abdullah berusia lanjut, dan sempat mengalami masa-masa fitnah, hanya saja tidak ada (atau, saya belum menemukan) penjelasan bagaimana sikap dan perannya saat itu. Bisa jadi ia memilih berada di luar wilayah pertikaian, karena sebagian besar sahabat Anshar seperti dirinya memang ‘terabaikan’ oleh pemerintahan muslim saat itu. Satu hal yang memang telah pernah ‘diramalkan’ jauh sebelumnya oleh Nabi SAW, yakni setelah selesainya Perang Hunain. Ia meninggal di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah. 

Sabtu, 09 Maret 2013

Abu Musa al Asy'ari RA (Abdullah bin Qais), Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

Abdullah bin Qais RA, atau lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Musa al Asy'ari telah memeluk Islam ketika Nabi SAW masih berada di Makkah. Abu Musa yang berasal dari kabilah Bani Asy’ari (Kaum Asy’ariyyiin) di Yaman ini, sejak awal memang tidak menyukai kebiasaan orang-orang Arab jahiliah menyembah berhala. Karena itu, setelah mendengar adanya seseorang yang menyeru kepada agama tauhid dan mencela berhala-berhala, ia segera memacu tunggangannya mengarungi padang pasir luas menuju Makkah.
Setelah bertemu dengan Nabi SAW dan mendengar penjelasan beliau tentang Risalah Islam yang beliau bawa, tanpa keraguan sedikitpun Abu Musa berba'iat memeluk Islam. Ia tinggal beberapa waktu di Makkah untuk memperoleh pengajaran Nabi SAW, kemudian beliau menyuruhnya kembali dahulu ke daerahnya, sampai nanti Islam telah memperoleh kemapanan. Akan berbahaya baginya kalau tetap tinggal di Makkah saat itu, karena kaum kafir Quraisy tidak henti-hentinya melakukan halangan dan penyiksaan kepada mereka yang mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah SAW.
Beberapa tahun berlalu, Abu Musa berhasil mendakwahkan Islam di kabilahnya di Yaman. Ia juga mendengar bahwa Nabi SAW dan kaum muslimin telah tinggal di Madinah dan memperoleh kemapanan di sana. Ketika ia mendengar Nabi SAW menghimpun pasukan untuk menyerang Khaibar, bersama limapuluh orang lebih, termasuk  dua saudara kandungnya, Abu Ruhum dan Abu Burdah, ia memutuskan berhijrah ke Madinah. Ia berharap bisa bergabung dan berjihad bersama beliau dalam peperangan tersebut.
Abu Musa dan kaum muslimin yang bersamanya, memutuskan melalui jalur lautan dengan perahu karena dianggapnya lebih cepat daripada harus mengarungi padang pasir. Tetapi perahu mereka terdampar di Habasyah karena mengalami kerusakan. Ja'far bin Abu Thalib yang masih tinggal di sana menjumpai rombongan tersebut di pesisir, ia berkata kepada Abu Musa, "Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kami tinggal di sini, maka menetaplah bersama kami di sini!"
Tidak ada pilihan lain bagi Abu Musa kecuali memenuhi tawaran Ja'far, sambil memperbaiki perahu mereka. Tetapi belum lama tinggal di sana, datang utusan Rasulullah SAW yang memerintahkan mereka agar segera berhijrah ke Madinah. Dua rombongan inipun kembali berperahu menyeberangi Laut Merah, kemudian menyeberang padang pasir menyusul Rasulullah SAW yang masih berada di Khaibar. Mereka berharap masih bisa ikut berjihad melawan kaum Yahudi di sana, tetapi ternyata mereka bertemu Nabi SAW ketika pasukan muslim telah menaklukan Khaibar. Beliau menyambut gembira dua rombongan muhajirin ini dan memberikan bagian ghanimah perang Khaibar kepada mereka.
Nabi SAW menggelari kelompok Abu Musa sebagai kaum Asy'ari atau Asy'ariyyin, dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Beliau memberi gambaran tentang mereka, "Kaum Asy'ariyyin ini, bila mereka ditimpa kekurangan makanan dalam pertempuran atau dilanda paceklik, mereka mengumpulkan semua makanan yang tersisa pada selembar kain, lalu mereka membagi rata. Mereka ini termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka…!!"
Suatu ketika Umar bin Khaththab mendatangi rumah putrinya yang juga istri Rasulullah SAW, Hafshah. Di sana ia bertemu dengan Asma binti Umais, yang ikut berhijrah ke Habasyah. Ia menanyakan kepada Hafshah siapa tamunya tersebut. Setelah dijelaskan sebagai Asma binti Umais, Umar berkata, "Apakah yang berhijrah ke Habasyah dan berlayar di lautan itu?"
Asma mengiyakan. Umar berkata lagi, "Kami telah mendahului kalian dalam berhijrah (ke Madinah), sehingga kami lebih berhak kepada Rasulullah SAW daripada kalian."
Asma binti Umais tidak terima dengan pernyataan Umar dan membantahnya. Ia juga berkata kepada Umar  bahwa akan mengadukan perkara ini kepada Nabi SAW. Tak lama setelah Umar pulang, Nabi SAW datang. Asma  menceritakan perbedaan pendapat antara dirinya dan Umar dengan lengkap dan terperinci. Beliau bersabda, "Umar tidak lebih berhak kepadaku daripada kalian, karena ia dan sahabat-sahabatnya hanya berhijrah sekali, sementara kalian turut serta dalam rombongan perahu dan berhijrah dua kali."
Ketika mendengar peristiwa Asma dan Umar tersebut, Abu Musa dan kaum Asy'ariyyin lainnya segera mendatangi Asma, dan memintanya menceritakan lagi berulang-ulang. Mereka ikut merasa bangga karena mereka bersama-sama dalam satu kapal dengan para sahabat yang berhijrah dari Habasyah.
Abu Musa al Asy'ary merupakan tipikal sahabat yang lengkap. Seorang yang saleh dan alim, rajin beribadah dan menuntut ilmu ketika sedang mukim (tidak sedang berjihad), dan seorang prajurit yang perkasa, cerdik dan arif  ketika sedang terjun dalam berbagai pertempuran, tanpa kehilangan keikhlasannya.
Allah memberikan karunia suara yang luar biasa kepada Abu Musa al Asy'ary. Kalau ia membaca Al Qur'an, suaranya akan mendayu menggetarkan hati. Para sahabat enggan meninggalkan masjid kalau ia sedang melantunkan kalam Ilahi, seakan ada magnit yang menahan mereka untuk mendengarkan bacaannya sampai selesai. Nabi SAW pernah bersabda tentang suaranya ini, "Sungguh, Abu Musa telah diberi Allah seruling dari seruling-seruling keluarga Daud…!!"
Nabi Daud AS memang seorang nabi yang dikaruniai Allah SWT suara yang luar biasa indahnya. Ketika beliau sedang mengaji (melantunkan bacaan) Zabur atau sedang berdzikir, pastilah burung-burung, gunung-gunung, dan berbagai binatang lainnya mendengarkan dan ikut serta bertasbih kepada Allah, mengiringi alunan suara beliau.
Ketika menjabat khalifah, Umar bin Khaththab seringkali memanggil Abu Musa dan berkata, "Bangkitkanlah kerinduan kami kepada Tuhan kami, wahai Abu Musa….!!"
Dari seorang hamba yang sedang khusyu' beribadah, bahkan terkadang ia menangis dalam tawajuh-tawajuhnya, tiba-tiba Abu Musa berubah menjadi prajurit tangguh di garis depan, ketika ia terjun dalam pertempuran. Sejak bergabung dengan Nabi SAW di Madinah, ia hampir selalu mengikuti berbagai pertempuran untuk menegakkan panji-panji Islam, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Sebagai gambaran bagaimana semangatnya dalam terjun di medan jihad ini, ia berkata, "Kami pernah mengikuti suatu pertempuran bersama Rasulullah SAW hingga terompah (sepatu) kami pecah dan berlobang, begitu juga dengan sepatuku, sehingga kuku jariku habis terkelupas. Terpaksa kami harus membalut telapak kaki-kaki kami dengan sobekan kain…!!"
Peristiwa yang dimaksudkan Abu Musa itu adalah perang Dzatur Riqa, yang terjadi pada tahun 7 hijriah. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan yang dirasakan para sahabat tersebut, apalagi dalam perjalanan di padang pasir yang panas menyengat. Mengenai kegigihan Abu Musa di medan jihad ini, Nabi SAW bersabda, "Pemimpin dari orang-orang yang berkuda (dalam pertempuran) adalah Abu Musa….!!"
Di masa khalifah Umar, Abu Musa diangkat sebagai pemimpin dari pasukan untuk membebaskan Isfahan dari belenggu tirani Persia. Setelah bertempur beberapa waktu lamanya dan pasukan Persia hampir kalah, mereka minta berdamai dan berjanji untuk membayar upeti, tetapi mereka meminta tempo waktu untuk mengumpulkan hartanya. Abu Musa memenuhi permintaan tersebut, namun demikian ia memerintahkan pasukannya untuk tetap siaga dan tidak menurunkan kewaspadaan. Ia mencium siasat busuk dalam permintaan damai pasukan Persia ini. Benarlah apa yang diperkirakan Abu Musa, pada waktu yang tidak terduga, pasukan Persia melakukan penyerangan mendadak terhadap pasukan muslim. Disangkanya pasukan muslim sedang terlena dan tidak bersiaga, tetapi mereka salah besar, dan akhirnya dengan mudah pasukan Persia dikalahkan, jatuhlah Isfahan ke pelukan Islam.
Di masa Khalifah Umar juga, Abu Musa ikut terjun dalam pasukan besar untuk menyerang Tustar, benteng terakhir imperium Persia. Setelah makin banyak wilayah Persia yang jatuh atau bergabung dengan Islam, seluruh pasukan Persia ditarik mundur ke kota Tustar. Kota yang dikelilingi dengan benteng ini dipertahankan habis-habisan oleh pasukan Persia yang dipimpin oleh Hurmuzan.
Pasukan muslim mengepung kota tersebut selama berhari-hari, tetapi tidak mudah untuk menerobos dan melumpuhkannya.  Ketika banyak cara yang dicoba untuk menerobos benteng Persia mengalami kegagalan, Abu Musa menyusun suatu siasat. Ia mengirim beberapa prajurit perintis yang menyamar sebagai pedagang, dan beberapa prajurit lainnya lagi sebagai pengembala. Dengan membawa duaratus ekor kuda dan beberapa domba, mereka mulai berjalan  dari tempat yang cukup jauh dari batas kota Tustar. Sementara itu pasukan induk bersembunyi di sekitar pintu gerbang benteng. Ketika sekelompok "pedagang dan penggembala" ini tiba di pintu gerbang, pasukan Persia membukakan pintu untuk mereka. Tetapi sebelum sempat mereka menutup kembali, pasukan perintis yang menyamar ini melakukan penyerangan, diikuti kemudian oleh pasukan induk yang menerobos pintu gerbang Kota Tustar. Terjadi pertempuran dahsyat antara kedua pasukan, sampai akhirnya pasukan Persia menyerah kalah.
Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali dan Muawiyah, yang kemudian berakhir dengan perang Shiffin, Abu Musa memilih untuk tidak terlibat dalam kedua belah pihak, sebagaimana sikap beberapa orang sahabat. Ia melihat, penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali telah berkembang menjadi pertentangan antara dua wilayah Islam, penduduk Syam yang mendukung Muawiyah dan penduduk Irak yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Memang, sejak diangkat menjadi khalifah, Ali memindahkan ibukota Islam dari Madinah ke Kufah di Irak.
Perang Shiffin berakhir dengan peristiwa Tahkim (lihat peristiwanya dalam kisah "Amr bin Ash RA"), Muawiyah mengirimkan Amr bin Ash sebagai wakilnya, dan Ali mengirimkan Abu Musa al Asy'ari untuk melakukan perundingan. Sebenarnya Ali ingin mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai wakilnya dalam perundingan, karena ia sangat mengenal tipikal Muawiyah dan Amr bin Ash yang suka sekali bersiasat, sementara Abu Musa adalah tipikal sahabat saleh yang tulus ikhlas dan tidak pernah berprasangka buruk kepada sesama muslim. Tetapi karena mayoritas pendukungnya memilih Abu Musa dalam tahkim tersebut, Ali menerimanya, walaupun ia bisa menduga kesudahannya.
Pada dasarnya Abu Musa mengetahui bahwa Ali berada di pihak yang benar, tetapi perkembangan situasi  mengarah pada perpecahan umat, karena itu ia menginginkan agar umat Islam kembali bersatu dan meninggalkan pertentangan antara Ali dan Muawiyah. Biarlah mereka memilih kembali pemimpinnya secara demokratis. Tetapi sebaliknya dengan Amr bin Ash, ia hanya punya tujuan agar Muawiyah tetap menjadi khalifah.
Dengan kelicinan siasatnya, Amr berhasil "memanfaatkan" kesalehan dan ketulusan Abu Musa untuk mencapai tujuannya tersebut. Wakil dari dua kubu tersebut, Abu Musa dan Amr bin Ash bersepakat bahwa Ali dan Muawiyah harus melepaskan jabatan masing-masing, setelah itu melakukan ‘pemilihan langsung’, siapakah khalifah yang dikehendaki oleh mayoritas. Amr bin Ash meminta Abu Musa untuk terlebih dahulu ‘melucuti’ jabatan Ali, baru dirinya ‘melucuti’ jabatan Muawiyah. Tetapi ternyata, setelah Abu Musa melakukannya, Amr bin Ash bukannya melucuti, bahkan menetapkan dan mengukuhkan Muawiyah sebagai khalifah kaum muslimin. Tentu saja Abu Musa tidak berkutik, dan tidak mungkin baginya ‘menjilat kembali’ perkataannya kepada kaum muslimin, walau dicurangi seperti itu.
Ia hanya bisa mendebat Amr bin Ash, tetapi tidak mungkin membalikkan keadaan. Inilah petikan apa yang dikatakan Abu Musa dalam peristiwa tahkim tersebut. Ketika Amr bin Ash berkata bahwa Muawiyah berhak atas kekhalifahan karena ia orang yang mulia, dan pewaris serta penuntut balas yang tepat atas terbunuhnya Khalifah Utsman, Abu Musa berkata, "Mengenai kemuliaan Muawiyah, kalau kekhalifahan bisa diperoleh karena kemuliaan, maka yang paling berhak adalah Abrahah bin Shabah, karena ia keturunan dari Raja-raja Yaman Attababiah, yang menguasai bagian barat dan timur dari bumi ini. Dan, apalah artinya kemuliaan Muawiyah dibandingkan dengan Ali bin Abi Thalib…Dan, mengenai Muawiyah sebagai wali Utsman, tentulah lebih utama puteranya sendiri, Amr bin Utsman…!!"
Abu Musa terus melakukan bantahan dan kata-kata sengit, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk diucapkannya, atau oleh kaum Asy'ariyyin lainnya yang berhati lembut, kepada Amr bin Ash. Setelah itu ia meninggalkan  tempat tersebut dan mengasingkan diri ke Makkah. Ia tinggal di dekat Masjidil Haram dan menghabiskan sisa usianya dengan ibadah demi ibadah hingga maut menjemputnya, masih di masa pemerintahan Muawiyah ini.
Di saat-saat terakhir kehidupannya, ia berpesan, “Jika aku telah meninggal, janganlah ada tangisan yang mengiringiku, dan dalamkanlah ruang kuburku!!”

Abdullah bin Abbas RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW, Kyai (Habar)-nya Ummat (Muhammad) ini

            Abdullah bin Abbas masih sepupu Nabi SAW sendiri walaupun usianya jauh berbeda, ia adalah putra dari Abbas bin Abdul Muthalib. Sejak masih dalam dari kandungan ibunya, Ummu Fadhl, Rasulullah SAW telah ‘meramalkan’ akan keutamaan dirinya. Suatu ketika di tahun 9 atau 10 dari kenabian, Ummu Fadhl yang telah memeluk Islam tetapi menyembunyikan keislamannya, datang menemui Nabi SAW. Tiba-tiba beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau sedang mengandung, jika engkau telah melahirkan, datanglah kepadaku dengan membawa anak itu!!”
            Beberapa bulan kemudian Ummu Fadhl melahirkan seorang anak lelaki, dan ia membawa putranya tersebut kepada Nabi SAW. Maka beliau melantunkan adzan di telinga kanan bayi tersebut, dan iqamah di telinga kirinya. Kemudian Rasulullah SAW meneteskan keringat beliau ke mulut sang bayi dan bersabda kepada Ummu Fadhl, “Namakanlah anak ini Abdullah, sekarang pulanglah engkau bersama bapaknya para khalifah!!”
            Walau keheranan dengan perkataan Nabi SAW, tetapi Ummu Fadhl pulang tanpa bertanya apa maksud ucapan beliau itu. Sampai di rumah, ia menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW kepada suaminya, maka Abbas segera berpakaian dan berangkat ke tempat kediaman Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, apa yang engkau katakan (kepada istriku) itu??”
            Nabi SAW bersabda, “Seperti yang diceritakan istrimu itu, dia adalah bapak dari para khalifah. Di antara mereka ada yang disebut As Saffah, Al Mahdi, dan ada pula yang akan menjadi imam shalat dari Isa bin Maryam!!”
            Di kemudian hari, anak-anak keturunan Ibnu Abbas ini memang memegang jabatan kekhalifahan dalam kurun waktu cukup, yang kemudian dinisbahkan kepada nama ayahnya, Abbas, yakni Daulah Abbasiah.
Abdullah bin Abbas hidup dan bergaul bersama Rasulullah SAW ketika masih anak-anak. Ia berhijrah ke Madinah pada tahun 5 hijriah ketika berusia 8 tahun. Ia berangkat bersama kakaknya, Fadhl bin Abbas dan seorang budaknya, Abu Rafi. Mereka sempat tersesat di Rakubah sebelum akhirnya sampai di kediaman Bani Amr bin Auf dan masuk ke Madinah.
Suatu ketika Nabi SAW menariknya mendekat, menepuk-nepuk bahunya dan berdoa untuknya, "Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam, ajarkanlah kepadanya ta'wil (yakni, ilmu tentang tafsir Al Qur’an) ." (Allahumma, faqqihuu fiddiin, wa 'allimuu fit ta'wiil).
Doa ini diulangi beberapa kali oleh Nabi SAW ketika bertemu Ibnu Abbas, dalam beberapa kesempatan yang berbeda. Tentu saja doa beliau ini dikabulkan Allah, dan ia benar-benar menjadi orang yang sangat mendalam ilmu-ilmu agama (Keislaman) dan menjadi ahli tafsir Al Qur'an, dalam usianya yang masih sangat muda.
Abdullah bin Abbas memang selalu menghadiri majelis pengajaran Nabi SAW, dan menghafalkan apa yang beliau sampaikan. Ketika berusia 10 tahun, yakni setelah bergaul dengan Rasulullah SAW selama dua tahun, ia telah mampu menghafal Al Qur'an hingga manzil (yang diturunkan) terakhir. Ketika Rasulullah wafat, ia berusia 13 tahun dan saat itu ia telah menjadi seorang ahli tafsir Al Qur'an yang diakui oleh para sahabat lainnya. Namun demikian ia tidak berhenti menggali dan mencari ilmu dari para sahabat-sahabat Nabi SAW yang terdahulu. Ia tidak segan memacu tunggangannya mengarungi padang pasir menemui seorang sahabat, yang tidak terkenal sekalipun, bila didengarnya ia pernah memperoleh pengajaran (atau suatu hadits) langsung dari Nabi SAW. Sungguh, kehausannya akan ilmu agama, apalagi yang bersangkutan dengan al Qur’an dan hadits Nabi SAW seakan tak pernah terpuaskan.
Tidak jarang untuk satu masalah yang baru diketahuinya setelah Nabi SAW wafat, Ibnu Abbas bertanya pada beberapa orang sahabat yang berbeda, walau jawaban mereka lebih kurang sama. Bahkan ia pernah berkata, “Sesungguhnya aku pernah menanyakan satu masalah kepada tiga puluh orang sahabat yang mendengar langsung dari Rasulullah SAW!!”
Ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, ia selalu membawa serta pemuda belasan tahun itu (yakni Abdullah bin Abbas) dalam majelis permusyawaratan yang dihadiri oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Perang Badar (Ahlul Badar). Tidak jarang dalam suatu masalah yang sangat pelik, Umar meminta pendapatnya dan memakai pemikirannya sebagai jalan keluar.
Suatu ketika Ibnu Abbas melihat Nabi SAW sedang shalat sunnah, segera saja ia berdiri di belakang beliau dan mengikuti beliau shalat. Melihat atau merasakan kehadirannya, beliau menarik tangannya hingga berdiri sejajar, kemudian meneruskan shalatnya. Tetapi Abdullah bin Abbas mundur selangkah sambil tetap meneruskan shalat. Setelah selesai shalat, Nabi SAW menanyakan kenapa ia mundur lagi ke belakang, Ibnu Abbas berkata, "Wahai Rasulullah, engkau adalah pesuruh Allah, bagaimana mungkin saya dapat berdiri sejajar denganmu."
Rasulullah SAW tersenyum, dan kembali mendoakannya seperti sebelumnya, yakni : Allahumma faqqihuu fiddiin, wa 'allimuu fit ta'wiil.
Dengan berbagai semangatnya dalam menggali dan mengamalkan Al Qur’an, serta ajaran Islam lainnya tersebut, tidak heran kalah Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya dia (Ibnu Abbas) adalah Kyai (Habar)-nya umat ini!!”
            Seusai perang Hunain, Nabi SAW menyatakan bahwa sepeninggal beliau kelak, orang-orang Anshar akan mengalami perlakuan pilih kasih dari pihak yang berkuasa, hal ini terekam kuat dalam ingatannya walau saat itu ia masih kecil. Hal itu memunculkan tekad dalam hatinya untuk membela orang-orang Anshar jika saat itu tiba.
Pada masa khalifah Umar atau Utsman (perawi Abu Zinad ragu antara Umar atau Utsman, tetapi kemungkinan besar adalah masa Utsman, karena Umar terkenal sangat adil dan berhati-hati dalam memperlakukan umat Islam), sekelompok sahabat, di antaranya Hasan bin Tsabit al Anshari dan Abdullah bin Abbas, mewakili orang-orang Anshar meminta kepada khalifah agar memenuhi hajat kebutuhan mereka. Beberapa sahabat berdiri mengutarakan keutamaan orang-orang Anshar dan jasa-jasa mereka saat bersama Nabi SAW, dengan harapan khalifah bisa memenuhinya.
Kebutuhan orang-orang Anshar yang diperjuangkan saat itu memang nilainya cukup besar, sehingga khalifah tidak bersedia memberikannya dengan berbagai argumen dan alasan. Beberapa orang sahabat akhirnya menerima alasan khalifah, termasuk sebagian sahabat Anshar, karena memang masuk akal. Tetapi ternyata Ibnu Abbas tidak mau menyerah begitu saja, selalu terngiang-ngiang “ramalan” Rasulullah SAW tentang ketidak-adilan yang akan dialami kaum Anshar. Ia akan merasa sangat bersalah jika ia melihat sisi ketidak-adilan tersebut muncul, dan ia tidak berbuat apa-apa untuk melawannya.
Tiba-tiba Ibnu Abbas berdiri dan dengan tegas ia mendebat semua argumentasi khalifah. Doa Nabi SAW,  "Allahumma faqqihuu fid diin wa 'allimuu fit ta'wiil" benar-benar mewujud dalam dirinya. Semua argumen dan alasan itu dapat dipatahkannya sehingga mau tidak mau khalifah memenuhi kebutuhan para sahabat Anshar tersebut. Ini bukan sikap menang-menangan, tetapi bagaimana mendudukkan masalah sehingga khalifah terhindar dari sikap pilih kasih, dan tetap berdiri di atas keadilan. Dan khalifah sendiri akhirnya menyadari, bukannya marah tetapi justru ia berterima kasih atas nasehat yang diberikan Abdullah bin Abbas.
Hassan bin Tsabit, yang digelari sebagai ‘Penyair dan Pembela Rasulullah SAW’, berkata kepada para sahabat yang bersama-sama menghadap khalifah, "Demi Allah! Sesungguhnya ia (Ibnu Abbas RA) adalah yang paling utama di antara kalian, karena ia adalah sisa kenabian dan pewaris Ahmad SAW. Kesamaan ras dan kemiripan wataknya memberi petunjuk kepadanya."
Begitu juga yang terjadi dengan sahabat Abu Ayyub al Anshari. Sahabat Anshar ini menyediakan rumahnya untuk ditempati Nabi SAW ketika beliau pertama kali tiba di Madinah. Selama berbulan-bulan beliau tinggal di rumahnya sampai kaum muslimin selesai membangun Masjid Nabawi, dan rumah tinggal beliau di serambi masjid tersebut. Pada masa khalifah Muawiyah, ia mengalami masalah keuangan dan terlilit hutang. Ketika menghadap khalifah dan menyampaikan permasalahannya, ia tidak memperoleh apapun kecuali “nasehat” untuk bersabar, sebagaimana diramalkan Rasulullah SAW. Akhirnya ia berkunjung kepada Abdullah bin Abbas di Bashrah.
Ibnu Abbas menyambut kehadiran Abu Ayyub al Anshari dengan hangat. Ia membiarkan rumahnya ditempati Abu Ayyub dan semua kebutuhannya dipenuhi sehingga bisa menyelesaikan masalah hutangnya, bahkan masih banyak kelebihannya. Ibnu Abbas berkata kepada Abu Ayyub, "Aku akan berbuat baik kepadamu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada Rasulullah SAW. Aku dan keluargaku pindah dari rumah ini agar engkau bisa menempatinya, sebagaimana engkau dan keluargamu telah mengosongkan rumahmu untuk bisa ditinggali oleh Rasulullah SAW."
Pada masa tuanya, Ibnu Abbas menjadi buta. Suatu ketika ia masuk ke Masjidil Haram dengan dituntun oleh Wahab bin Munabbih. Ketika didengarnya beberapa orang bertengkar dengan suara keras, ia meminta Wahab membawanya ke sana. Ia memberi salam dan meminta ijin duduk. Setelah duduk, ia berkata, "Apakah kamu tidak mengetahui hamba-hamba Allah yang sebenarnya? Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata karena takut kepada Allah, padahal ia tidak bisu bahkan sangat fasih tutur bahasanya. Mereka bersikap seperti itu karena selalu sibuk memuji Allah dan mereka tidak dapat berkata yang sia-sia. Pada tingkat keimanan yang seperti itu, mereka selalu bersegera berbuat kebaikan, mengapa kalian menyimpang dari jalan itu?"
Mereka yang sedang bertengkar atau berdebat tersebut menjadi reda emosinya, dan meminta nasehat lebih banyak kepada Abdullah bin Abbas.
Abdullah bin Abbas sempat mengalami masa-masa fitnah, ketika terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sebenarnya ia lebih suka kalau terjadi perdamaian daripada peperangan antara dua kelompok kaum muslimin tersebut. Tetapi tidak bisa tidak, pertentangan dan pertempuran terjadi juga, maka Ibnu Abbas bediri di pihak Ali. Ketika akhirnya Ali ‘dikalahkan’ secara curang dalam peristiwa tahkim, Ibnu Abbas memilih untuk pergi ke Makkah dan tinggal di sana beberapa waktu lamanya, tidak lagi melibatkan diri dalam pertentangan antara dua kubu kaum muslimin saat itu.
Ketika Husein bin Ali, cucu Rasulullah SAW dan keluarganya berniat berangkat ke Kufah, beberapa orang sahabat mencegahnya, termasuk Abdullah bin Abbas. Kufah adalah tempat para pendukung Ali bin Abi Thalib, dan penduduknya meminta Husein datang dan tinggal di sana. Ibnu Abbas, dengan pandangan hatinya yang tajam berkata kepada Husein, “Janganlah engkau lakukan itu!! Sesungguhnya aku mempunyai firasat bahwa engkau akan dibunuh di tengah-tengah istri dan anak-anak perempuanmu, sebagaimana Utsman (bin Affan) dibunuh!!”
Tetapi mungkin sudah menjadi jalannya takdir Allah, Husein berkeras untuk berangkat. Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah dan beberapa sahabat lainnya mengiringi kepergiannya dengan uraian air mata. Ketika mereka telah sampai di wilayah Irak, tetapi belum sampai di Kufah, tepatnya di padang Karbala, mereka dicegat oleh pasukan yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad atas perintah sang khalifah, Yazid bin Muawiyah. Dan sungguh biadab, empat ribu pasukan itu menyerang dan membantai rombongan Husein bin Ali yang hanya berjumlah delapan puluhan orang, yang sebagiannya adalah wanita dan anak-anak. Peristiwa mengenaskan yang tepat seperti ‘dilihat’ Abdullah bin Abbas itu terjadi pada hari Asyura, tanggal 10 Muharam.
Sebagian riwayat menyebutkan, Abdullah bin Abbas memilih untuk menghabiskan masa hidupnya di Thaif, dan bukannya di Tanah Haram Makkah, walaupun sebenarnya ibadah atau kebaikan yang dilakukan di sana dilipat-gandakan sebanyak seratus ribu kali. Tetapi yang menjadi alasannya untuk tidak tinggal di Makkah, adalah sikap hati-hati dan rasa takutnya (khauf) kepada Allah SWT. Dalam pemikiran dan penafsiran Ibnu Abbas, orang-orang yang baru tersirat dan berniat saja untuk berbuat keburukan dan berada di Tanah Haram (Makkah dan Madinah), ia sudah jatuh dalam keburukan dan berdosa, bahkan bisa jadi dosanya sudah berganda sesuatu tingkat kekuatan niatnya. Padahal kalau di tanah halal, yakni di luar Makkah dan Madinah, niat saja belum jatuh dalam keburukan dan berdosa, jika ia belum merealisasikan niatnya tersebut. Bahkan bisa jadi ia memperoleh pahala jika ia membatalkan niatnya tersebut.
Sungguh suatu sikap hati-hati (wara’) dan takut kepada Allah SWT (khauf) yang tiada taranya. Padahal seorang sahabat “selevel” Ibnu Abbas, yang telah didoakan kebaikan oleh Nabi SAW, apa masih mungkin tersirat suatu niat untuk berbuat keburukan?? Tetapi itulah memang ciri khas para sahabat Nabi SAW, walaupun kebaikan dan jaminan keselamatan dari Nabi SAW telah mereka terima dari sabda-sabda beliau, tetapi mereka masih merasa 'tidak aman' dengan Makar Allah, sungguh suatu sikap tawadhu' yang patut diteladani.
            Beberapa waktu lamanya setelah tinggal di Thaif, kematian menjemputnya pada usianya yang ke 71 tahun. Saat itu kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, satu berada di tangan Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah atas ba’iat para sahabat utama Nabi SAW yang masih hidup. Sedangkan di Syam, kekhalifahan Bani Umayyah dipegang oleh Abdul Malik bin Marwan.

Jumat, 08 Februari 2013

Abdullah bin Mas'ud RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Muhajirin dari Bani Zahrah, termasuk dalam sahabat as sabiqunal awwalin, sahabat yang memeluk Islam pada masa awal didakwahkan. Perawakan tubuhnya pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Qur’an, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya. Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah SAW.
Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas'ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu'aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi SAW. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah SAW dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu. Tetapi karena hanya melaksanakan amanah mengembalakan, Abdullah bin Mas'ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah SAW meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.
            Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi SAW, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas'ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu, Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas'ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah SAW. Setelah selesai minum, beliau berkata, "Mengempislah!!"
            Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.
            Ibnu Mas'ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah SAW dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Nabi SAW tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas'ud memeluk Islam.
            Nabi SAW memandang cukup intens kepadanya, kemudian bersabda, "Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!"
            Tentu saja Ibnu Mas'ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAW, apalagi saat itu ia hanyalah seorang anak miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi SAW yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni ayat-ayat Al Qur’an.
            Suatu ketika Rasullullah SAW ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur'an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas'ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi SAW mengkhawatirkan keselamatannya, beliau menginginkan orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yakni yang bisa  memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas'ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, "Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”
            Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka'bah, dan Nabi SAW membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Qur'an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, "Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?"
            Ibnu Ummi Abdin adalah nama gelaran Abdullah bin Mas’ud. Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.
            Tetapi salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, "Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!"
            Segera saja mereka bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi SAW dan para sahabat berkumpul.  Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, "Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!"
            Tetapi dengan tegar Ibnu Mas'ud berkata, "Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…"
            Mereka berkata, "Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!"
            Nabi SAW hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabat-sahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.
            Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah SAW, ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Qur'an dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Qur'an.
            Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah SAW, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Qur'an langsung dari mulut Rasulullah SAW, dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi SAW. Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surah-surah Al Qur'an. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Qur'an, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.
            Tentang kemampuannya di bidang Al Qur'an, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin mendengar Al Qur'an tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar  bacaan Al Qur'an Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas'ud). Barang siapa ingin membaca Al Qur'an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…"             Beliau juga pernah bersabda, "Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…"
            Bahkan tak jarang Nabi SAW memerintahkan Abdullah bin Mas'ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya. Beliau seolah dibawa "bernostalgia" dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti saat ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan, yakni ketika dibacakan oleh Malaikat Jibril.
            Pada mulanya Ibnu Mas’ud memang berkeberatan dan heran ketika Nabi SAW meminta dia membacakan suatu ayat atau surah Al Qur’an untuk beliau. Ia berkata, “Saya membacakan al Qur’an untuk engkau? Bukankah Al Qur’an diturunkan kepada engkau, ya Rasulullah??”
            Nabi SAW bersabda, “Benar, tetapi aku ingin mendengarnya dari orang lain!!”
            Maka Abdullah bin Mas’ud membaca Surat An Nisa dengan apa adanya yang ia mampu, sementara Nabi SAW tampak begitu terhanyut dengan bacaannya. Ketika ia sampai pada ayat ke 41, yaitu : Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
            Tiba-tiba Nabi SAW berurai air mata dan bersabda, “Cukuplah, wahai Ibnu Mas’ud!!”
            Mungkin terbayang pada Nabi SAW akan keadaan di hari kiamat nanti, dan beliau merasa bahwa tidak mudah bagi umat beliau, khususnya yang hidup di zaman akhir seperti kita ini, untuk menghadapi huru hara pada hari pembalasan itu. Berapa banyak yang akan celaka karena tidak mau mengikuti sunnah dan jejak langkah beliau. Padahal beliau menginginkan, kalau bisa, tidak satu orangpun dari umat beliau yang akan celaka dan masuk neraka.
            Pada kesempatan lainnya, Nabi SAW pernah bersabda, yang mengukuhkan kemampuan dirinya dalam hal Al Qur’an, “Ambilah (berpeganglah) pada empat orang dalam hal membaca Al Qur’an, yaitu : Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim, maula Abu Hudzaifah!!”
Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas'ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi SAW. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, "Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas'ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya  lebih berat daripada gunung Uhud…."
            Abdullah bin Mas'ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah SAW, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.
            Ketika perang Badar usai, Nabi SAW ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas'ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau  telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu'adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku  telah membunuh Abu Jahal. Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan  mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.
            Ibnu Mas'ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas'ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar sedang terkapar. Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, "Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!"
            "Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…"
            Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas'ud yang masih menginjak lehernya, "Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing…."
            Ibnu Mas'ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Nabi SAW.  Sampai di hadapan beliau, ia berkata, "Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!"
            "Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia," Kata Nabi SAW sampai tiga kali, kemudian beliau bersabda lagi, "Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang  telah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…"
            Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Nabi SAW, Abu Bakar dan  Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Nabi SAW berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, "Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!"
            Nabi SAW menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo'a, "Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia oleh-Mu..!!"
            Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas'ud berkata,  "Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu…."
            Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada tahun 32 hijriah, yakni pada masa khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

Abdullah bin Amr bin Ash RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

Abdullah bin Amr bin Ash RA adalah putra dari seorang ahli strategy perang dan negarawan ulung, Amr bin Ash,  tetapi ia lebih dahulu memeluk Islam daripada bapaknya itu. Ia seorang yang saleh, banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah, kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah. Ketika menyandang senjata untuk mempertahankan dan meninggikan kalimat-kalimat Allah,  ia akan berada di barisan terdepan karena sangat merindukan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan.
Dalam usianya yang masih muda, aktivitas ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, malam dihabiskan dengan tahajud dan membaca Al Qur'an sehingga ia mampu mengkhatamkannya dalam sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan masalah duniawiah sejak ia berba'iat kepada Nabi SAW, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan bangsawan dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya datang mengunjungi dan bertemu istrinya. Amr bin Ash berkata, “Bagaimana keadaan kalian?”
Istrinya berkata, “Sungguh aku tidak mencela akhlak dan kesalehannya, tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan seorang wanita di sisinya!!”
Amr bin Ash menatap tidak mengerti, tetapi kemudian ia mendapat penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali belum menyentuhnya dalam beberapa hari setelah menikah itu. Ia begitu intens beribadah seperti biasanya, sehingga tidak ada sedikitpun waktu untuk istrinya. Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kepada Rasululah SAW, sehingga  beliau campur tangan untuk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, "Ya Rasulullah, ijinkanlah saya menggunakan sepenuh tenaga saya untuk beribadah kepada Allah?"
Nabi SAW bersabda, "Jika engkau melakukan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit karena tidak tidur semalaman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hak, dan para tamupun punya hak atas dirimu…!"
Maka terjadilah "tawar-menawar" antara Abdullah dan Rasulullah SAW dalam soal ibadahnya. Kalau umumnya manusia akan meminta ijin beribadah seringan dan sesedikit mungkin, maka Abdullah meminta ijin untuk beribadah sebanyak dan seberat mungkin. Dalam soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya agar berpuasa tiga hari dalam sebulan, tetapi Abdullah minta tambahan, diberi dua hari dalam seminggu, masih minta tambahan lagi, akhirnya ditetapkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka, yakni puasanya Nabi Dawud AS.
Begitu juga dalam soal mengkhatamkan Al Qur'an, pertama Nabi SAW menyarankannya untuk khatam sebulan sekali saja. Abdullah melakukan penawaran, sehingga Nabi SAW menetapkan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekali, dan seminggu sekali. Tetapi Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, akhirnya Nabi SAW menetapkannya untuk khatam Al Qur’an setiap tiga hari sekali (dalam riwayat lain, lima hari sekali). Begitu juga soal shalat malam, beliau melarang Abdullah menghabiskan waktu malam untuk shalat sunnah terus-menerus, harus ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur, dan mempergauli istrinya.
Walau telah dinasehati langsung oleh Nabi SAW, semangatnya untuk beribadah tidak segera mengendor begitu saja, tetapi ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dengan intensitas tinggi masih saja berlangsung tanpa bisa dihalangi lagi. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW akhirnya bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi Allah akan memanjangkan umurmu...!!"
Benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak mampu menyangga tubuhnya dalam waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqomah yang telah "dijanjikannya" kepada Nabi SAW di masa mudanya. Ia jadi menyesal mengapa tidak menerima nasehat beliau saat mudanya itu. Ia seringkali berkata, "Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak aku ikuti keringanan yang diberikan Rasulullah SAW…!!"
Abdullah bin Amr mempunyai kebiasaan mencatat apapun yang disabdakan Nabi SAW, dalam sebuah catatan yang disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan agar ia mudah menghafalkannya. Rasulullah SAW memang pernah melarang para sahabat untuk mencatat sabda-sabda beliau karena dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Al Qur'an. Tetapi kemudian Nabi SAW secara khusus menugaskan beberapa orang sahabat untuk mencatat firman-firman Allah tersebut, dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk di dalamnya sehingga beliau membiarkannya.
Beberapa sahabat juga berkata, "Rasulullah SAW juga manusia biasa, terkadang beliau marah, dan dalam marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. Begitu juga terkadang beliau hanya bercanda dalam ucapannya itu. Karena itu jangan engkau mencatat apapun yang beliau sabdakan!!"
Karena nasehat mereka ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Tetapi tampaknya ia merasa ‘gatal’ jika sesaat saja tidak ‘merekam’ apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Karena itu ia bertanya kepada Nabi SAW tentang apa yang dilakukannya, termasuk nasehat beberapa orang sahabat, maka beliau bersabda, "Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dalam keadaan marah, ataupun senang."
Abu Hurairah juga pernah berkomentar atas kebiasaan Abdullah bin Amr ini, "Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits Nabi SAW, kecuali Ibnu Amr bin Ash, karena dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan Nabi SAW, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja."
Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sesungguhnya ia tidak ingin berpihak kepada kedua kelompok sebagaimana dianut beberapa sahabat seperti Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan beberapa sahabat lainnya. Tetapi menjelang terjadinya perang Shiffin, ayahnya, Amr bin Ash yang berpihak kepada Muawiyah mendatanginya dan mengajaknya berperang di pihaknya. Abdullah bin Amr  berkata, "Bagaimana mungkin? Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku untuk tidak menaruh pedangku di leher seorang muslim untuk selama-lamanya…..!!"
Bukan Amr bin Ash namanya kalau tidak mampu bersiasat, ia mengemukakan berbagai alasan, terutama menyangkut "menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan". Setelah beberapa argumen ayahnya mampu dipatahkannya, akhirnya Amr bin Ash berkata, "Ingatkah engkau wahai Abdullah wasiat terakhir Nabi SAW, beliau mengambil tanganmu dan meletakkan di atas tanganku, dan memerintahkan engkau untuk taat kepada ayahmu ini? Dan sekarang saya menghendaki engkau turut bersama kami, berperang bersama kami….!!"
Mendengar argumen ini, Abdullah bin Amr dilanda kebimbangan yang amat sangat. Jauh di dalam hatinya, kebenaran yang sangat diyakininya, ia tidak ingin terlibat dalam pertikaian itu. Tetapi ia seakan tidak punya kekuatan menolak ketika diingatkan akan pesan Nabi SAW dan janjinya untuk melaksanakannya. Akhirnya ia mengikuti pertempuran tersebut dengan setengah hati dan berada di pihak Muawiyah. Ia mengetahui bahwa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali, dan masih jelas terngiang nubuwat Nabi SAW tentang kematian Ammar bin Yasir di tangan para pendurhaka. Ia hadir juga dalam penggalian parit khandaq ketika Nabi SAW menyabdakan hal itu.
Sebagian riwayat menyebutkan, ia tidak pernah mengangkat senjatanya walau ia berada di antara personal pasukan Muawiyah. Tetapi begitu ia mendengar kabar bahwa Ammar bin Yasir telah terbunuh, ia langsung berteriak keras, "Apa? Ammar telah terbunuh, dan kalian pembunuhnya? Kalau demikian kalianlah kaum pendurhaka itu, kalian berperang di jalan yang salah…..!!"
Abdullah bin Amr berjalan berkeliling sambil meneriakkan kata-kata tersebut sehingga melemahkan semangat pasukan Muawiyah. Ketika hal itu dilaporkan kepada Muawiyah, ia memanggil Amr bin Ash dan anaknya tersebut, dan berkata  kepada Amr bin Ash, "Kenapa tidak engkau bungkam anakmu yang gila ini..!!"
Amr bin Ash hanya diam, tetapi justru Abdullah berkata dengan tegas tanpa ketakutan sedikitpun, "Aku tidak gila, tetapi aku telah mendengar Nabi SAW bersabda kepada Ammar, bahwa ia akan dibunuh oleh kaum yang durhaka atau aniaya…!!"
"Kalau begitu, kenapa engkau ikut bersama kami??" Tanya Muawiyah.
"Tidak, " Kata Abdullah bin Amr, "Aku hanya mengikuti wasiat Nabi SAW untuk taat kepada ayahku, dan aku  telah menaatinya dengan pergi kesini, tetapi aku tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!"
Di tengah pembicaraan tersebut, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr langsung berkata, "Suruhlah dia masuk, dan sampaikan kabar gembira kepadanya, dia akan menjadi umpan api neraka…!!"
Muawiyah menjadi murka mendengar perkataannya tersebut, tetapi Abdullah bin Amr tetap bertahan dengan perkataannya tersebut, bahwa pembunuh Ammar bin Yasir adalah kaum yang durhaka dan berperang di jalan yang salah, begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun-tahun sebelumnya, dan ia meyakini akan kebenarannya. Ia berpaling kepada ayahnya dan berkata, "Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjalanan ayah ke sini, dan kini saya telah memenuhi wasiat beliau…"
Setelah itu Abdullah bin Amr kembali ke Madinah dan mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis-habisnya menyesali keterlibatannya di perang Shiffin dan berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis dan mengeluh, "Wahai, apa perlunya aku ke Shiffin…apa perlunya aku memerangi kaum muslimin…!!!"
Suatu hari ia duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat, lewatlah Husein bin Ali. Setelah menyampaikan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata, "Tahukah kalian penduduk bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yang baru saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara denganku…Sungguh, ridhanya kepadaku lebih aku sukai daripada barang berharga apapun juga…!!"
Ia meminta tolong kepada sahabat Abu Sa'id al Khudri untuk bisa bertemu dengan Husein, dan mereka diijinkan untuk berkunjung ke rumah cucu kesayangan Rasulullah SAW itu. Terjadilah berbagai macam pembicaraan, sampai akhirnya Husein bertanya, "Apa yang membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?"
Abdullah bin Amr berkata, "Ayahku pernah mengadukan aku kepada Rasulullah karena berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam dan mengkhatamkan al Qur'an setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kepadaku, 'Hai Abdullah puasalah dan berbuka, shalatlah malam dan tidurlah, bacalah Qur'an dan berhentilah, dan taatilah ayahmu…' Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendatangiku dan memaksaku mengikutinya dengan membawa wasiat Nabi SAW tersebut…tetapi demi Allah, aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut…."
Abdullah bin Amr juga menjelaskan apa yang dilakukannya terhadap Muawiyah setelah terbunuhnya Ammar bin Yasir, dan sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein akhirnya ridha kepadanya setelah semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru.
            Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 tahun di mushalla rumahnya, ketika itu ia baru selesai menjalankan shalat dan sedang bermunajat kepada Allah. Sungguh saat akhir yang amat indah (khusnul khotimah) yang amat dirindukan oleh semua kaum muslimin.

Kamis, 27 Desember 2012

Anas bin Malik RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Anas bin Malik RA, siapapun yang sedang membaca atau mempelajari kitab-kitab Hadist Nabi SAW, pastilah akan menemukan nama sahabat yang satu ini, karena ia termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau. Tidak heran, karena sejak awal Nabi SAW menginjakkan kakinya di Madinah, ibunya, Ummu Sulaim (Rumaisha binti Milhan) menyerahkan anaknya yang masih berusia 10 tahun tersebut (riwayat lainnya, usianya belum sampai 10 tahun) untuk menjadi pelayan Nabi SAW, dan beliau menerimanya dengan gembira. Dan Anas bin Malik terus menjadi pelayan Nabi SAW hingga beliau berpulang ke Rahmatullah.
Sebelum kehadiran Islam di Madinah, keluarga Anas bin Malik diliputi kebahagiaan, kedua orang tuanya, Rumaisha binti Milhan dan Malik bin Nadhar termasuk pasangan yang ideal walaupun mereka masih saudara sepupu, hidupnya rukun tanpa diwarnai pertengkaran. Tetapi ketika cahaya Islam mulai menyinari Madinah, saat itu Nabi SAW belum berhijrah dan Agama Islam didakwahkan oleh utusan beliau, Mush'ab bin Umair dengan didampingi salah satu tokoh Madinah, As'ad bin Zurarah, rumah tangga orang tuanya mulai goncang. Ibunya, yang lebih dikenal  dengan nama Ummu Sulaim ternyata mengikuti dakwah dua orang tersebut dan memeluk Islam tanpa diketahui oleh suaminya.
Ketika Malik bin Nadhar mengetahui keislaman istrinya, ia sangat marah, tetapi keyakinan Ummu Sulaim sudah sangat menguat. Suaminya berkata, "Apakah engkau sudah murtad?"   
"Aku tidak murtad, tetapi justru aku telah beriman…!!" Kata Ummu Sulaim.
Saat itu Ummu Sulaim sedang bersama putra kesayangannya, Anas, yang segera saja ia merengkuhnya dan berkata, "Wahai Anas, ucapkanlah : Asyhadu an laa ilaaha illallaah…!!" 
Anas mengikuti perintah ibunya mengucap syahadat tersebut dengan lancar. Ayahnya berkata, "Janganlah engkau merusak keyakinan anakku!!"
"Aku tidak merusaknya," Kata Ummu Sulaim, "Bahkan aku telah mengajar dan mendidik dirinya dengan kebenaran…!"
Kemudian Ummu Sulaim berpaling lagi kepada putranya dan berkata, "Ucapkanlah : Asyhadu anna muhammadar rasulullah…!!"
Sekali lagi Anas mengikuti perintah ibunya dan mengulang ucapan tersebut dengan lancar. Ayahnya makin marah melihat sikap ibunya tersebut, dan ia mengancam akan meninggalkannya. Tetapi keyakinan Ummu Sulaim seakan tidak bergeming, bahkan ia terus mengajari Anas untuk mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut berulang-ulang. Kemarahan Malik bin Nadhar makin memuncak dan akhirnya meninggalkan rumah, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sebagian riwayat menyebutkan ia pergi ke Syam dan meninggal di sana, dan riwayat lain menyatakan, ketika keluar tersebut ia bertemu dengan musuh lamanya dan terbunuh dalam suatu perkelahian. 
Tentu ada kesedihan pada diri Ummu Sulaim dan anak-anaknya, terutama pada diri Anas yang masih kecil, kehilangan ayah yang menjadi pilar keluarganya, dan juga kebahagiaan keluarganya yang dahulu dinikmatinya. Apalagi kemudian mereka mendapat kabar kalau ayahnya telah meninggal. Tetapi sesungguhnya tidak ada kenikmatan yang lebih baik dan lebih utama daripada kenikmatan merasakan manisnya keimanan, mungkin itu yang dirasakan Ummu Sulaim, dan itu membuatnya tetap tegar menjalani kehidupan. 
Ketika Nabi SAW telah hijrah dan tinggal di Madinah, Ummu Sulaim menemui beliau dan menawarkan anak kesayangannya, Anas bin Malik menjadi pelayan beliau, dan beliau menerimanya dengan senang hati. Beliau juga berdoa untuk Anas atas permintaan ibunya, "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan juga anak-anaknya, serta berkahilah ia di dalamnya…!!"
Doa Nabi SAW ini dikabulkan Allah, Anas berumur panjang dan hartanya melimpah ruah, tetapi ia tetap hidup dalam kezuhudan sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW. Beberapa orang anak dan cucunya telah meninggal sementara ia tetap dalam keadaan sehat dan selalu dalam kesalehannya.
Anas bin Malik memang bukan satu-satunya pelayan Nabi SAW, ada beberapa sahabat lainnya yang membaktikan hidupnya untuk melayani Rasulullah SAW seperti Bilal bin Rabah, Rabi'ah bin Ka'b, dan lain-lainnya. Tetapi ia memiliki kebiasaan unik, ia selalu bergegas menampung dan mengambil air bekas mandi Rasulullah SAW, lalu air tersebut digunakannya sendiri untuk mandi. Ia juga selalu mengumpulkan rambut-rambut Rasulullah yang terjatuh/ rontok, sebagaimana beberapa sahabat lainnya melakukannya, termasuk Khalid bin Walid, kemudian berpesan kepada orang-orang di sekitarnya agar rambut-rambut beliau tersebut disertakan/dimasukkan ke dalam kafannya kalau ia telah meninggal dan akan dikuburkan, termasuk surban Rasulullah SAW.
Sepanjang masa kanak-kanak hingga remajanya ia tinggal bersama Rasulullah SAW,  hal ini membuat dirinya bisa mengingat dan merekam banyak hal tentang beliau. Apalagi Nabi SAW memperlakukan dirinya seperti putra beliau sendiri. Dalam konteks sekarang ini, sejak SD hingga lulus SMA, Anas bin Malik hanya menerima satu pelajaran dari satu guru saja, yakni pelajaran keislaman dengan berbagai seginya, dari guru yang pertama dan utama, yakni Rasulullah SAW. Tidak ada hal lain yang harus dikerjakannya dan menyibukkannya, kecuali melayani beliau sehingga tak heran, setelah Nabi SAW wafat, ia menjadi rujukan pertanyaan para sahabat tentang kehidupan beliau sehari-harinya, baik dalam hal akhlak maupun ibadah. Padahal usianya masih sangat muda.
Abu Hurairah pernah berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang shalatnya lebih mirip dengan shalatnya Rasulullah SAW kecuali shalatnya putra Ummu Sulaim (yakni, Anas bin Malik)…"
Anas bin Malik juga terjun dalam berbagai medan jihad bersama Rasulullah SAW, tentunya tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai pelayan beliau. Setelah wafatnya Nabi SAW, barulah ia bisa terjun dengan maksimal di medan jihad, di samping ia memang sudah cukup dewasa. Di masa Umar bin Khatthab, ketika ia mengikuti pasukan yang mengepung benteng Tustar, seolah-olah  ia berada di ujung tanduk, sudah dekat sekali dengan pintu kematiannya. Tetapi karena Rasulullah SAW telah mendoakannya untuk berusia panjang, maka ada saja jalan yang menyelamatkannya.
Pasukan Persia yang mempertahankan kota Tustar menggunakan besi panas berkait untuk menyerang pasukan muslim yang mengepungnya. Tentara muslim yang terkena kaitan akan diangkat ke atas benteng dan dibunuh. Saat itu Anas bin Malik terkena kaitan besi panas tersebut dan mulai ditarik ke atas. Melihat keadaan tersebut, saudara Anas, Barra' bin Malik, yang memang bertubuh kecil tetapi mempunyai semangat dan kekuatan jihad yang luar biasa, meminta beberapa orang untuk melemparkannya ke arah kaitan besi panas yang membawa saudaranya tersebut. Gambarannya mungkin seperti aksi cheerleader yang melemparkan salah satu temannya pada struktur teratas. Barra' berhasil merengkuh kaitan besi, walau tangannya melepuh tidak diperdulikannya lagi. Ia berhasil melepaskan Anas dari kaitan tersebut dan menjatuhkan diri di kumpulan pasukan muslim, dan mereka berdua selamat.
Dengan usianya yang panjang, Anas menjadi salah satu ‘sumber’ pengetahuan keislaman bagi ulama-ulama tabi’in. Khalifah demi khalifah berganti, berbagai konflik dan gejolak tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam yang wilayahnya makin meluas, tetapi Anas bin Malik tetap menjadi salah satu sumber rujukan utama ketika mereka ingin mengetahui berbagai hal tentang Rasulullah SAW.  
Anas bin Malik pernah didatangi seorang lelaki yang memberitahukan kalau daerahnya dilanda kekeringan  dan tanahnya sangat gersang. Ia mendatangi daerah tersebut, kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di suatu tanah lapang yang tandus, kemudian memanjatkan doa. Atas ijin Allah, beberapa saat kemudian awan datang berarak dan turun hujan di tempat itu. Padahal saat itu adalah musim panas.
Hal yang paling berkesan baginya tentang Nabi SAW, diungkapkan dalam perkataannya, "Selama sepuluh tahun saya berkhidmad kepada Rasulullah SAW, saya tidak pernah melihat beliau memukul seorang pelayan ataupun seorang wanita. Beliau juga tidak pernah menegur (atau mempertanyakan) : Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau lakukan? Mengapa engkau tidak lakukan ini? Mengapa engkau tidak tinggalkan itu?"
            Anas bin Malik meninggal dalam usia sekitar 100 tahun, yakni pada tahun 90-an hijriah, pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Karena kewafatannya ini, para ulama pada masa itu berkata, "Telah hilang dari kita separuh dari ilmu…!!"