Jumat, 14 Juni 2013

Imran bin Hushain al Khuzai RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

           Imran bin Hushain al Khuzai, seorang sahabat dari Bani Khuza’ah yang telah memeluk Islam pada saat Nabi SAW masih berdakwah di Makkah. Ayahnya, Hushain bin Ubaid al Khuzai adalah seorang pemuka dan juga ilmuwan di antara kaumnya, yang juga sangat dihargai oleh kaum Quraisy Makkah. Suatu ketika ia sedang bersama Nabi SAW dan sahabat-sahabat lainnya, ketika ayahnya itu datang menemui Nabi SAW, atas permintaan kaum Quraisy. Imran segera memalingkan muka dan bersikap sinis melihat ayahnya tersebut. Ia sangat tahu kepandaian dan keahlian ayahnya dalam berdebat, dan ia sangat tidak rela jika Rasulullah SAW dibantah oleh ayahnya itu.
            Tetapi setelah beberapa lamanya berbincang, akhirnya ayahnya tersebut menyerah dengan logika ketuhanan yang disampaikan Nabi SAW dan Hushain bin Ubaid mengucap syahadat menyatakan dirinya memeluk Islam. Imran kaget bercampur gembira, ia segera memeluk dan mencium kepala, tangan dan kaki ayahnya dengan penuh haru. Rasulullah SAW sendiri sampai ikut menangis melihat sikap Imran tersebut. Salah seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah??”
            Beliau bersabda, “Aku menangis melihat sikap Imran. Ketika ayahnya masuk ke sini dalam keadaan kafir, ia tidak menyambutnya, bahkan ia bersikap sinis dan memalingkan muka. Tetapi begitu ayahnya memeluk Islam, ia segera menunaikan kewajibannya sebagai anak, hal itu yang membuatku menangis terharu!!”
            Sebagian riwayat menyebutkan, Imran bin Hushain ini memeluk Islam pada saat perang Khaibar, yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Kalau mengacu dengan kisah keislaman ayahnya tersebut di atas, tentu saja hal itu sangat bertentangan.  Wallahu A’lam!!
            Imran bin Hushain sangat rajin menghadiri majelis pengajaran Rasulullah SAW, baik ketika berada di Makkah, terlebih lagi ketika telah hijrah ke Madinah. Karena itu ia termasuk salah satu sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Ia berusia lanjut hingga sempat mengalami jaman kejayaan Islam, di mana harta melimpah ruah di seluruh penjuru negeri. Namun demikian ia memilih tetap hidup sederhana dan zuhud seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.
            Pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Imran ditugaskan untuk menjadi pengajar bagi penduduk Bashrah. Salah satu yang menjadi muridnya adalah seorang ulama tabi’in yang terkenal, Hasan al Bahsri. Hasan al Bashri pernah berkata, “Tidak ada sahabat Nabi SAW yang datang ke Bashrah, yang keutamaannya melebihi Imran bin Hushain. Ia selalu menolak siapapun yang membuatnya lalai beribadah kepada Allah, ia layaknya malaikat yang berjalan di muka bumi!!”
            Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali dan Muawiyah, Imran bin Hushain memilih tidak berpihak kepada siapapun dari keduanya. Ia berkata, “Menggembala sekelompok kambing yang sedang menyusui anak-anaknya di puncak gunung yang terpencil sampai aku mati, lebih aku sukai daripada harus melepaskan anak panah ke salah satu kelompok kaum muslimin, baik mereka itu salah, apalagi mereka itu benar!!”
Pada masa akhir hidupnya, Imran bin Hushain menderita penyakit buang air selama tigapuluh tahun dan ia tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya. Akibatnya harus dibuatkan lubang di bawah tempat tidurnya untuk kencing dan buang air besarnya. Namun demikian, selama tiga puluh tahun tersebut ia tidak pernah mengeluh dan tetap bersabar dengan ujian Allah yang dialaminya. Ia juga tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat sesuai kemampuannya.
Suatu ketika salah satu saudaranya yang bernama Al Alaa' atau Mutharrif bin Asy Syikhkhir menjenguknya dan ia menangis melihat keadaan Imran yang begitu memprihatinkan. Ia tersenyum melihat reaksi saudaranya tersebut dan berkata, "Janganlah engkau menangis. Sesungguhnya aku suka dengan apa yang disukai Allah. Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu hal, yang semoga saja bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau ceritakan kepada orang lain sampai aku meninggal dunia."
Kemudian Imran menceritakan, bahwa karena sakitnya itu, para malaikat berziarah atau mengunjungi dirinya setiap harinya, dan memberi salam kepadanya, sehingga ia merasa senang dan selalu berdoa untuk tidak sembuh dari penyakitnya tersebut hingga ajal menjemputnya.
Jika ada orang yang menyarankan agar ia berobat atau akan mengobatinya, ia akan berkata, “Sesuatu yang paling aku cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah (yakni, ketentuan/takdir Allah kepada dirinya) !!”
            Ketika waktu ajalnya makin dekat, ia berpesan kepada orang-orang sekitarnya, “Jika kalian pulang setelah menguburkanku, hendaklah kalian sembelih beberapa ekor ternak untuk menjamu mereka, layaknya jamuan dalam pesta perkawinan!!”

Hudzaifah bin Yaman RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Hudzaifah bin Yaman adalah seorang sahabat yang secara khusus dididik Nabi SAW untuk mengenal kemunafikan. Semua itu berawal karena kebiasaannya yang berbeda dalam mengajukan pertanyaan kepada Nabi SAW. Umumnya para sahabat bertanya tentang berbagai macam amal kebaikan dan pahala-pahala yang dijanjikan, dan mereka berlomba-lomba untuk melakukannya. Sementara Hudzaifah cenderung bertanya tentang berbagai macam amal keburukan/kejahatan dan bahaya-bahayanya, karena ia ingin menjauhinya sejauh-jauhnya.
            Suatu ketika ia menghadap kepada Nabi SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam  kebodohan (jahiliah) dan diliputi kejahatan, kemudian Allah  mendatangkan kebaikan ini bagi kita. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejahatan lagi?"
            "Ada…!" Kata Nabi SAW.
            "Apakah setelah kejahatan itu, masih adakah kebaikan lagi, ya Rasulullah?"
            "Memang ada, tetapi keadaannya kabur dan penuh bahaya!!" Kata beliau lagi.
            "Apa bahaya itu, ya Nabiyallah?"
            "Yakni, segolongan ummat mengikuti sunnah yang bukan sunnahku, mengikuti petunjuk yang bukan petunjukku. Kenalilah mereka ini, ya Hudzaifah, dan cegahlah mereka semampumu…!!"
            "Setelah kebaikan tersebut, masih adakah kejahatan lagi, ya Rasulullah??"
            "Ada, yakni para penyeru di pintu neraka (yakni, yang mengajak kepada maksiat dan meninggalkan ibadah)…barang siapa menyambut seruannya, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka…!!"
            "Apa yang harus saya lakukan jika menemui masa seperti itu, ya Nabiyallah?"
            "Selalulah mengikuti jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka!!"
            "Bagaimana jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak pula pemimpin (yang sesuai teladanmu), ya Nabiyallah?"
            "Hendaklah engkau tinggalkan semua golongan itu, walaupun engkau harus tinggal sendirian di rumpun kayu, sampai engkau menemui ajal dalam keadaan seperti itu…"
            Keadaan dan kebiasaan Ibnu Yaman dalam meneliti dan mengamati kejahatan dan daya upayanya untuk menghindarinya, ternyata mendapat dukungan Nabi SAW, dan beliau terus-menerus membimbingnya. Beliau mengajarinya bagaimana mengenali kemunafikan, dan juga menunjukkan orang-orang munafik yang ada saat itu. Namun beliau berpesan agar semua itu dirahasiakannya, sekedar untuk bahan bagi dirinya agar ia bisa menghindar dan tidak terjatuh dalam lingkaran pergaulan mereka.
            Salah satu sahabat yang selalu memanfaatkan keistimewaannya ini adalah Umar bin Khaththab. Sepeninggal Nabi SAW, jika ada orang muslim yang meninggal, Umar selalu mengamati sikap Hudzaifah. Jika ia tidak mendatangi atau tidak menyalatkannya, maka Umar akan melakukan hal yang sama. Tetapi Umar-pun melakukan hal itu untuk dirinya sendiri, tidak mengekspose secara umum atau mengajak orang lain melakukan hal yang sama.
            Ketika menjadi khalifah, Umar pernah mendatangi Hudzaifah dan bertanya, "Wahai Hudzaifah, apakah engkau melihat adanya kemunafikan dalam diriku..."
            "Tidak ada, wahai Amirul Mukminin...!"
            "Janganlah engkau sungkan mengatakannya..." Kata Umar.
            "Sungguh tidak ada, hanya saja engkau masih menyimpan dua stel pakaian. Satu engkau pergunakan pada musim dingin, dan satunya lagi untuk musim panas....!!"
            Mendengar penjelasan tersebut, Umar segera menyedekahkan satu stel pakaian yang masih disimpannya, walau sebenarnya Hudzaifah tidak menyebut hal itu sebagai tanda adanya kemunafikan dalam diri Umar.
            Pengetahuan dan pemahaman tentang keburukan dan upaya kerasnya untuk menghindari, menyebabkan lidah dan kata-katanya tanpa disadarinya menjadi tajam, pedas dan kadang menyakitkan orang lain. Karena itu ia datang kepada Nabi SAW, ia berkata, "Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam kepada keluargaku, saya khawatir hal itu akan menjadi sebab saya  masuk neraka….!"
            Sebenarnya sah-sah saja hal itu dilakukannya, asal dalam rangka 'amar ma'ruf wan nahi 'anil munkar. Bahkan Nabi SAW  pernah menyatakan, "Jihad terbesar adalah kata-kata (nasehat) yang benar, terhadap penguasa yang dholim." Dan juga sabda beliau, "Katakanlah yang benar walaupun pahit didengar…!!"
            Namun bagi Hudzaifah, yang terbiasa meneliti lahiriah dan batiniahnya suatu masalah, hal itu tetap menjadi  ganjalan baginya. Rasulullah SAW tersenyum dan menanggapinya cukup sederhana, beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak beristighfar? Sungguh saya beristighfar kepada Allah, setiap harinya seratus kali!!"
            Seperti halnya sahabat-sahabat Nabi SAW lainnya, Hudzaifah hampir tidak pernah tertinggal dari pertempuran bersama Rasulullah SAW. Bahkan dalam Perang Uhud, ayahnya, Yaman bin Jabir (sebagian riwayat menyebutkan, namanya adalah Husail bin Yabir, ada juga riwayat, namanya  Hasan bin Jarwin. Sedang Yaman adalah penisbahan kepada  tempat asalnya) terbunuh oleh pasukan muslimin karena suatu kesalahan.
            Pada perang tersebut, Yaman bin Jabir dan Tsabit bin Waqsy bin Zaura sebenarnya tinggal di Madinah karena memang telah lanjut  usia. Tetapi kemudian mereka menyusul ke Uhud karena keinginan dan semangat berjihad bersama Nabi SAW tidak bisa ditahan lagi. Mereka tiba di Uhud ketika perang sedang berkecamuk, mereka tidak cukup dikenali oleh pasukan muslim, dan dianggap anggota pasukan musyrik sehingga langsung diserang. Ketika pedang hampir terhunjam pada tubuh Yaman bin Jabir, Hudzaifah melihatnya dan ia berseru, "Ayahku..ayahku…jangan dibunuh, ia ayahku…!!"
            Tetapi terlambat, qadha Allah telah menentukan kepastiannya. Dan seketika suasana berubah duka dan sunyi senyap padahal pertempuran masih terus berlangsung. Hudzaifah mendatangi sekelompok sahabat yang membunuh ayahnya dengan sikap kasih dan pandangan penuh pemaafan, dan berkata, "Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, sesungguhnya Dia adalah sebaik-baiknya Penyayang (ar Rahim)…"
            Setelah itu, Hudzaifah melanjutkan penyerangan ke tempat musuh dengan pedang terhunus. Usai peperangan, Nabi SAW menyuruh pembunuh Yaman bin Jabir untuk membayarkan diyat kepada Hudzaifah, tetapi Hudzaifah menolaknya dan memintanya untuk menyerahkan diyat tersebut kepada orang-orang fakir miskin yang membutuhkannya, bahkan ia menambahinya dengan hartanya sendiri.
            Perang Ahzab atau perang Khandaq lebih merupakan perang urat syaraf (Psy War), karena tidak pernah ada bentrokan pasukan secara langsung dan besar-besaran, kecuali hanya bentrokan kecil dari sekelompok pasukan Quraisy yang nekad menyeberangi parit dan dengan mudah dihalau oleh pasukan muslim. Pasukan sekutu dari kaum musyrik Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah hampir satu bulan, sementara kaum yahudi Bani Quraizhah yang sebenarnya terikat perjanjian damai dan kerjasama dengan kaum muslimin mengancam dari dalam.
            Suatu malam, hampir sebulan pengepungan Madinah, saat itu sangat gelap gulita, angin begitu kencang, suaranya menderu-deru seolah akan mencabut gunung-gunung yang tegak di padang pasir. Begitu gelap dan mencekamnya, sehingga jari sendiripun tidak kelihatan. Orang-orang munafik satu persatu minta ijin kepada Nabi SAW untuk pulang ke rumahnya, sebagian lagi pergi begitu saja tanpa pamit kepada beliau. Mereka berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami dalam keadaan terbuka, dan tidak ada lelaki yang menjaganya…"
            Setelah mereka semua pergi, Nabi SAW berjalan berkeliling di antara sahabat-sahabat yang masih tinggal. Tiba di hadapan Hudzaifah, beliau bertanya, "Siapa ini?"
            "Saya, ya Rasulullah, Hudzaifah!!"
            Saat itu ia sedang duduk sambil memeluk lutut untuk menghangatkan tubuhnya. Ia tidak memiliki perisai dan juga selimut kecuali hanya satu lembar pakaian kulit kambing milik istrinya, yang panjangnya tidak sampai lutut.
            "Hudzaifah?" Kata Nabi SAW, seakan memastikan. Suasana yang sangat gelap memang tidak memungkinkan beliau mengenali siapa yang di hadapan beliau.
            Hudzaifah yang sebenarnya enggan untuk berdiri, tetapi akhirnya ia berdiri juga di hadapan Nabi SAW dan berkata, "Benar, saya, ya Rasulullah!!"
            "Sesungguhnya ada sesuatu yang terjadi di pihak pasukan kaum musyrik," Kata Nabi SAW, "Pergilah kepada mereka, dan bawalah berita tentang keadaan mereka…"
            Sebenarnyalah Hudzaifah dalam ketakutan dan kedinginan yang tak tertahankan, tetapi perintah telah diberikan dan tak ada alasan baginya untuk menolak titah Rasulullah SAW.
            Baru beberapa langkah berjalan, ia mendengar Nabi SAW berdoa, "Ya Allah, jagalah dia dari depan dan belakangnya, dari kanan dan kirinya, dari atas dan bawahnya…"
            Segera setelah doa itu selesai, Hudzaifah tidak lagi merasakan ketakutan dan kedinginan, ia berpaling ke arah Nabi SAW, dan  beliau bersabda, "Hai Hudzaifah, jangan melakukan apapun di kaum itu sampai engkau kembali kepadaku…"
            Hudzaifah menyeberangi parit dan berjalan ke pasukan kaum musyrik. Suasana yang gelap membantunya  menyelusup di sela-sela perkemahan tanpa diketahui. Tiba-tiba datang tiupan angin kencang berputar-putar di perkemahan, memadamkan semua lampu penerangan mereka, suasana makin gelap saja. Tiba-tiba terdengar teriakan, yang diduganya adalah suara Abu Sufyan, "Hai segenap golongan Quraisy, hendaknya setiap kalian memperhatikan kawan duduknya, dan memegang tangannya dan juga mengetahui namanya…."
            Hudzaifah berfikir cepat. Segera ia masuk satu kemah dan memegang tangan salah seorang dari mereka dan menanyakan namanya. Kalau ia kedahuluan yang ditanya, pasti ia akan ketahuan. Ia-pun aman di antara mereka dalam suasana gelap. Angin masih terus bertiup memporak-porandakan perkemahan dan perlengkapan mereka. Tak lama kemudian ia mendengar Abu Sufyan berkata, "Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi, kuda-kuda dan unta-unta kita banyak yang  binasa. Bani Quraidhah juga mengkhianati kita sehingga kita mengalami hal yang tidak kita inginkan. Apalagi angin topan ini memporak-porandakan perkemahan kita…Berkemaslah dan segera berangkat pulang…!!!"
            Tidak berapa lama Abu Sufyan menaiki ontanya dan meninggalkan tempat tersebut, diikuti oleh anggota pasukan lainnya. Sempat terpikir oleh Hudzaifah untuk memanah Abu Sufyan, tetapi ia ingat pesan Rasulullah SAW untuk tidak berbuat apapun sampai kembali menemui beliau.
            Ia beringsut, perlahan menjauhi tempat tersebut dan berjalan kembali ke tempat pasukan muslim berkumpul. Tetapi tiba-tiba saja ada sekitar duapuluh orang penunggang kuda yang memakai sorban berhenti di hadapannya. Hudzaifah kaget setengah mati, salah satu dari mereka berkata, "Beritahu sahabatmu (Nabi SAW), sesungguhnya Allah telah menjaganya…"
            Setelah itu mereka berlalu, dan hilang secepat ketika mereka hadir di hadapannya. Hudzaifah segera pulang ke tempat Nabi SAW dengan penuh tanda tanya tentang sekelompok penunggang kuda tersebut.
            Tiba di tempat Nabi SAW, dilihatnya beliau sedang shalat sambil memakai selimut, seketika itu tubuhnya kembali merasakan kedinginan sampai menggigil seperti ketika ia belum berangkat menunaikan tugas Nabi SAW. Sambil meneruskan shalat, Nabi SAW memanggilnya dengan isyarat tangan dan mengulurkan selimut yang beliau pakai. Hudzaifah mendekat dan menerima selimut tersebut lalu memakainya untuk mengurangi rasa dingin yang menyerangnya.
            Usai Nabi SAW shalat, ia melaporkan dengan detail apa yang dilihat dan dialaminya. Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan, bahwa sekitar duapuluh penunggang kuda tersebut adalah para malaikat yang dikirim Allah untuk memporak-porandakan perkemahan pasukan musyrik, sehingga mereka ketakutan dan segera pulang.
            Usai bercerita, ia tertidur berselimutkan selimut Nabi SAW tersebut, dan dibangunkan beliau menjelang waktu subuh. Atas peristiwa ini, turunlah Surah al Ahzab ayat 9 - 25.
            Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, ia dipilih untuk menjadi wali negeri (Amir) di Madain, salah satu wilayah Persia yang jatuh ke tangan pasukan muslimin, di mana ia sendiri menjadi salah satu komandan pasukan. Sikap zuhud dan sederhana terhadap dunia yang menjadi ciri kehidupannya menjadi salah satu alasan Umar untuk memilihnya. Ia datang sebagai Amir dengan mengendarai keledainya yang beralaskan kain usang. Tangannya memegang roti dan garam untuk perbekalannya. Sebagian penduduk Madain menyambutnya dengan kebingungan, benarkah seseorang yang begitu sederhana dan tampak sangat fakir, yang menjadi wali negeri mereka? Tetapi seketika itu Hudzaifah berkata, “Wahai kaum muslimin, hindarilah tempat-tempat fitnah!!”
            Salah seorang berkata, “Wahai Abu Abdillah, apakah tempat-tempat fitnah itu??”
            Hudzaifah berkata, “Yakni, pintu-pintu para penguasa, salah seorang dari kalian datang kepada seorang amir atau wali negeri (gubernur). Lalu ia membenarkan amir tersebut dengan kedustaan, dan memujinya dengan sesuatu yang tidak layak baginya!!”
            Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di Madain, banyak sekali kaum muslimin yang sakit karena pengaruh iklim daerah tersebut. Maka Hudzaifah memerintahkan mereka untuk pindah ke Kufah, dan di sana mereka sehat kembali seperti sediakala.
            Hudzaifah wafat pada tahun 36 hijriah pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketika orang-orang datang menjenguk saat sakaratul mautnya, ia bertanya, “Apakah kalian membawa kain kafan??”
            Salah satu dari mereka berkata, “Ada!!”
            “Coba kulihat!!” Kata Hudzaifah.
            Mereka menunjukkannya, suatu kain kafan baru, dari bahan yang agak mewah. Seketika tersirat senyuman pahit, pertanda ia tidak senang. Ia berkata, “Kain kafan ini tidak cocok bagiku!! Cukuplah dua kain putih biasa saja, tanpa baju!! Tidak lama aku di dalam kubur, setelah itu akan diganti dengan kain yang lebih baik, atau mungkin yang lebih jelek!!”.
            Tidak lama setelah itu maut menjemputnya, tampak sekali kesenangan dan kegembiraan tersirat di wajahnya, karena sesungguhnya ia telah lama memendam kerinduan untuk bisa segera kembali bertemu dengan Rasulullah SAW.

Minggu, 05 Mei 2013

Mu'adz bin Jabal RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW, Yang Paling Tahu tentang Halal dan Haram

Mu'adz bin Jabal termasuk sahabat Anshar pada periode awal, ia telah memeluk Islam pada Ba'iatul Aqabah ke dua, sehingga ia termasuk dari golongan as sabiqunal awwalun. Sejak keislamannya ia aktif mendakwahkan Islam kepada kaumnya, Bani Salimah. Saat itu salah satu pemuka kaumnya, Amr bin Jamuh masih teguh dengan agama jahiliahnya, yakni menyembah berhala. Maka Ibnu Jabal bersama putra Amr sendiri yang juga sahabatnya, Mu’adz bin Amr bin Jamuh, bersiasat untuk mengubah keyakinannya tersebut.
Amr bin Jamuh mempunyai berhala sesembahan yang diberi nama ‘Manat’ dan diletakkan di tempat terhormat. Suatu malam dua pemuda itu mengambil dari tempatnya dan dibuang ke tempat pembuangan kotoran. Ketika Amr mengambilnya kembali dan membersihkannya, dua pemuda tersebut secara diam-diam mengambilnya dan membuangnya lagi. Hingga tiga kali dalam tiga hari peristiwa itu berulang, akhirnya Amr bin Jamuh menyadari kalau ‘Manat’ yang selama ini dipuja dan disembahnya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk membela dirinya sendiri. Kesadarannya itu pula yang pada akhirnya membawanya memeluk Islam, sebagaimana sebagian besar kaumnya.
Masa mudanya dihabiskan untuk bisa mengikuti Nabi SAW, baik ketika berjuang di medan jihad dan berbagai perjalanan lainnya, ataupun ketika tinggal di Madinah, dalam berbagai majelis pengajaran beliau. Kecerdasan otaknya membuat dirinya dengan mudah menyerap dan memahami ilmu-ilmu keislaman.
Mu’adz bin Jabal termasuk sahabat yang berani mengemukakan buah pikirannya, seperti halnya Umar bin Khaththab, namun demikian ia tetap seorang yang rendah hati. Ia tidak pernah begitu saja mengemukakan pendapat atau pemikirannya (ijtihadnya) kecuali jika diminta atau diberi waktu mengemukakannya. Karena begitu luas dan mendalamnya pengetahuan yang dimilikinya, terutama menyangkut hukum-hukum Islam (Ilmu Fikih), Nabi SAW pernah bersabda tentang dirinya, "Ummatku yang paling tahu akan halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal…"
Pada kesempatan lain, Nabi SAW juga pernah bersabda, “Ambillah (pelajarilah) Al Qur’an dari empat orang, yakni (Abdullah) Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal dan Zaid bin Tsabit…!!”
Atas dasar sabda Nabi SAW inilah banyak sahabat-sahabat yang menjadikan Mu'adz sebagai rujukan jika ada permasalahan menyangkut hukum-hukum Islam (Fikih). Bahkan Umar bin Khaththab, yang diakui kecerdasannya oleh Nabi SAW, pada saat menjadi khalifah banyak meminta pendapat dan buah fikiran Mu'adz dalam memutuskan suatu permasalahan. Sampai akhirnya Umar berkata, "Kalau tidaklah karena Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar…"
Ketika Nabi SAW akan mengirimnya ke Yaman untuk membimbing dan mengajarkan seluk-beluk keislaman kepada penduduk di sana, beliau bertanya kepada Mu'adz, "Apa yang menjadi pedoman bagimu untuk mengadili dan memecahkan suatu masalah, ya Mu'adz?"
"Kitabullah, ya Rasulullah!" Jawab Mu'adz.
"Jika tidak engkau temukan dalam Al Qur'an?"
"Akan saya cari pemecahannya berdasarkan sunnah-sunnahmu, ya Rasulullah!!"
"Jika tidak engkau dapatkan juga??"
"Saya akan menggunakan fikiran saya untuk berijtihad, dan saya tidak akan berlaku sia-sia (dholim, tidak untuk kepentingan pribadi dan duniawiah)…"
Bersinarlah wajah Rasulullah SAW pertanda bahwa beliau puas dan senang dengan penjelasan Mu'adz, kemudian beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah, sebagaimana yang diridhai Rasulullah..."
Menjelang keberangkatannya, Nabi SAW mengiringinya dengan doa, “Semoga Allah menjagamu (wahai Mu’adz), dari depan dan dari belakangmu, dari kanan dan dari kirimu, dari atas dan dari bawahmu, serta (engkau) dapat menaburkan kegembiraan di kalangan manusia dan jin!!”   
Suatu malam Mu'adz bermaksud menemui Rasulullah SAW, tetapi ternyata beliau sedang mengendarai unta, entah hendak pergi kemana?? Melihat kedatangannya, beliau meminta Mu'adz untuk naik ke belakang beliau, berboncengan berdua, unta pun melanjutkan perjalanan. Beliau memandang ke langit, setelah menyanjung dan memuji Allah SWT, beliau bersabda kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, aku akan menceritakan suatu kisah kepadamu, jika engkau menghafalnya akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika engkau meremehkannya, engkau tidak akan punya hujjah (argumentasi) di hadapan Allah kelak."
Nabi SAW menceritakan, bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Setelah bumi dan langit tercipta, Allah menempatkan tujuh malaikat tersebut pada pintu-pintu langit, menurut derajat dan keagungannya masing-masing. Allah juga menciptakan malaikat yang  mencatat dan membawa amal kebaikan seorang hamba ke langit, menuju ke hadirat Allah, yang disebut dengan malaikat hafadzah.
Suatu ketika malaikat hafadzah membawa ke langit, amalan seorang hamba yang berkilau seperti cahaya matahari. Ketika sampai di langit pertama, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit pertama itu berkata, "Tamparkan amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah penjaga (penyeleksi) orang-orang yang suka mengumpat (Ghibah, jawa: ngerasani). Aku ditugaskan untuk menolak amalan orang yang suka ghibah. Allah tidak mengijinkannya melewatiku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat banyak dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah. Ketika sampai di langit kedua, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke dua itu berkata, "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, sebab ia beramal dengan mengharap duniawiah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan seperti ini dan melarangnya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat memuaskannya, penuh dengan sedekah, puasa dan berbagai kebaikan lainnya, yang dianggapnya sangat mulia dan terpuji. Ia berhasil melalui langit pertama dan kedua karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah dan tidak mengharapkan balasan duniawiah.
Ketika sampai di langit ke tiga, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tiga itu berkata, "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga kibr (kesombongan), Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka sombong (bermegah-megahan) dalam majelis. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Saat yang lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar seperti bintang kejora, bergemuruh dengan penuh dengan tasbih, puasa, shalat, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama, ke dua dan ke tiga karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah dan juga tidak sombong.
Ketika sampai di langit ke empat, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke empat itu berkata "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat ujub. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang disertai ujub. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat yang lain, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat mulia, terdiri dari jihad, haji, umrah dan berbagai kebaikan lainnya sehingga sangat cemerlang seperti matahari. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke empat, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong dan juga tidak ujub dalam beramal.
Ketika sampai di langit ke lima, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke lima itu berkata "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat hasud (iri dengki). Meskipun amalannya sangat baik, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Itu artinya ia membenci Allah yang memberikan kenikmatan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang sangat sempurna dari wudhu, shalat, puasa, haji dan umrah. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke lima, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, dan juga tidak suka hasud pada orang lain.
Ketika sampai di langit ke enam, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke enam itu berkata, "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga sifat rahmah. Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan jika ada orang yang ditimpa musibah, ia merasa senang. Allah tidak mengijinkannya melewati aku untuk mencapai langit berikutnya."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat lain lagi, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba yang bersinar-sinar seperti kilat menyambar dan bergemuruh laksana guruh menggelegar, terdiri dari shalat, puasa, haji, umrah, wara’, zuhud dan berbagai amalan hati lainnya. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke enam, karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, dan juga seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya.
Ketika sampai di langit ke tujuh, malaikat hafadzah memuji amalan yang dibawanya di hadapan para malaikat yang tinggal di sana. Tetapi malaikat penjaga pintu langit ke tujuh itu berkata, "Berhenti!! Tamparkanlah amalan ini ke muka pemiliknya!! Aku adalah malaikat penjaga sifat sum’ah (suka pamer). Allah menugaskan aku untuk menolak amalan orang yang suka memamerkan amalannya untuk memperoleh ketenaran, derajad dan pengaruh terhadap orang lain. Amalan seperti ini adalah riya', dan Allah tidak menerima ibadahnya orang yang riya'. Allah tidak mengijinkannya melewati aku  untuk sampai ke hadirat Allah SWT."
Maka para malaikat yang menghuni langit itu melaknat pemilik amalan tersebut.
Pada saat lainnya, malaikat hafadzah membawa ke langit, amal saleh seorang hamba berupa shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak mulia, pendiam suka berdzikir, dan beberapa lainnya yang tampak sangat sempurna. Ia berhasil melalui langit pertama hingga ke tujuh karena pemiliknya bukan seorang yang suka ghibah, tidak mengharapkan balasan duniawiah, tidak sombong, tidak ujub dalam beramal, tidak suka hasud pada orang lain, seorang yang penuh kasih sayang (rahmah) pada sesamanya, dan juga tidak suka memamerkan amalannya (sum’ah). Para malaikat dibuat terkagum-kagum sehingga mereka ikut mengiring amalan itu itu sampai di hadirat Allah SWT.
Ketika amal tersebut dipersembahkan malaikat hafadzah, Allah berfirman, "Hai malaikat hafadzah, Aku-lah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku tetapi untuk selain  Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian, dan Aku laknat mereka yang menipu orang lain dan menipu kalian (malaikat hafadzah, dan malaikat-malaikat lainnya yang menganggapnya sebagai amalan hebat), tetapi Aku tidak akan tertipu olehnya. Aku-lah yang mengetahui hal-hal ghaib, Aku mengetahui isi hatinya. Yang samar, tidaklah samar bagi-Ku, Yang tersembunyi, tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku  atas segala yang telah terjadi, sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang belum terjadi. Ilmu-Ku atas segala  yang telah lewat, sama dengan Ilmu-Ku atas segala yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang terdahulu, sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang kemudian. Aku yang paling mengetahui segala sesuatu yang samar dan rahasia, bagaimana bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa saja mereka menipu mahluk-Ku tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib….tetaplah laknat-Ku atas mereka…!!"
Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat juga berkata, "Ya Allah, kalau demikian keadaannya, tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka….!!"
Kemudian para malaikat dan seluruh penghuni langit berkata, "Ya Allah,  tetaplah laknat-Mu dan laknat orang-orang yang melaknat atas mereka…!!"
Begitulah, panjang lebar Nabi SAW menceritakan kepada Mu'adz bin Jabal, dan tanpa terasa ia menangis tersedu-sedu di boncengan unta beliau. Ia berkata di sela tangisannya, "Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan itu??" 
"Wahai Mu'adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan!!" Kata Nabi SAW.
"Engkau adalah Rasulullah, sedangkan aku hanyalah Mu'adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari semua itu…" Kata Mu'adz.
"Memang begitulah,” Kata Nabi SAW, “Jika ada kelengahan dalam ibadahmu, jagalah lisanmu agar tidak sampai menjelekkan orang lain, terutama jangan menjelekkan ulama….."
Panjang lebar Nabi SAW menasehati Mu'adz bin Jabal, yang intinya adalah menjaga lisan dan hati, jangan sampai melukai dan menghancurkan pribadi orang lain. Akhirnya beliau bersabda, "Wahai Mu'adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Bencilah (larilah) dari sesuatu yang engkau membencinya (yakni, akibat buruk yang diceritakan Nabi SAW  di atas), niscaya engkau akan selamat…!"
Rasulullah SAW tahu betul bahwa Mu'adz bin Jabal sangat mengetahui hukum-hukum Islam (Fikih), yang pada dasarnya bersifat lahiriah. Dengan menceritakan kisah tersebut, beliau ingin melengkapi pengetahuan dan pemahamannya dari sisi batiniah, sehingga makin sempurna pengetahuan keislamannya. Dan tak salah kalau kemudian Nabi SAW pernah bersabda, "Mu'adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari kiamat….!"
Sebagaimana umumnya para sahabat Anshar, Mu’adz hampir tidak pernah terlewat dalam berbagai perjuangan dan jihad bersama Rasulullah SAW. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan berbagai pertempuran lain diterjuninya. Ia sangat merindukan untuk bisa memperoleh kesyahidan, tetapi dengan ilmu dan pemahamannya yang begitu luas tentang keislaman, tampaknya Allah lebih memilihnya untuk tetap hidup dan berjuang dengan pengetahuannya tersebut.
Ketika Nabi SAW mengirimnya ke Yaman sebagaimana dikisahkan di atas, tepatnya pada tahun 10 hijriah, beliau juga sempat bersabda, “Wahai Mu’adz, boleh jadi engkau tidak akan bertemu lagi dengan aku sesudah tahun ini, dan boleh jadi engkau hanya akan lewat di masjidku ini, dan juga kuburanku!!”
Mu’adz menangis sejadi-jadinya. Kalau saja boleh memilih, tentulah ia ingin tetap tinggal di Madinah untuk mengisi waktu-waktu yang tersisa selalu bersama Rasulullah SAW. Tetapi tugas telah ditetapkan dan ia tidak mungkin menolak perintah beliau. Setidaknya dengan sabda beliau itu, Nabi SAW telah berpamitan kepadanya selagi ada kesempatan bertemu.
Ketika Nabi SAW wafat, Mu’adz sedang berada di Yaman untuk mengemban tugas Nabi SAW. Ia menjadi Qadhi dan pemungut zakat, sekaligus mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada penduduknya, yang kebanyakan memeluk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah SAW. Mu’adz sendiri meninggal pada masa Khalifah Umar bin Khaththab akibat wabah penyakit thaun (kolera) yang melanda kota Amwas, antara Ramalah dan Baitul Maqdis, termasuk wilayah Syam.

Abu Said al Khudri RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

Abu Said al Khudri adalah seorang sahabat Anshar, dari kalangan anak-anak. Ia dibawa ayahnya menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam saat masih berusia sepuluh tahun. Ketika terjadi perang Uhud, Abu Said al Khudri baru berusia 13 tahun, tetapi telah ia diajak ayahnya untuk ikut bergabung dengan pasukan yang siap berangkat membela panji-panji keimanan. Sayangnya keberadaannya ini diketahui oleh Rasululllah SAW, dan beliau melarangnya mengikuti pertempuran ini. Ayahnya berdalih bahwa anaknya ini kuat, mempunyai ketrampilan bertempur dan semangat tinggi untuk berjihad, tetapi beliau tetap saja menolak karena usianya yang masih sangat muda.
Dalam Perang Uhud itu ayahnya menemui syahidnya, dan tidak meninggalkan harta yang mencukupi untuk anak-anaknya yang masih kecil. Karena itu Abu Said berniat meminta bantuan keuangan kepada Nabi SAW untuk menunjang kehidupannya. Tetapi ketika ia sampai di majelis Rasulullah SAW, ia mendengar beliau bersabda, "Barang siapa yang meminta kesabaran, maka ia akan memperoleh kesabaran. Barang siapa yang meminta kesucian, maka ia akan memperoleh kesucian. Dan barang siapa yang menginginkan kekayaan, maka Allah akan memberikan kekayaan kepadanya…"
Abu Said merenungi sabda Nabi SAW tersebut. Walaupun ia belum menyampaikan maksudnya, tetapi ia merasa sabda beliau itu ditujukan kepada dirinya, karena itu ia memutuskan untuk membatalkan keinginannya meminta bantuan keuangan. Ia kembali pulang dengan diam-diam. Sepertinya Nabi SAW, secara tidak langsung, ‘memberikan’ pilihan kepada dirinya untuk memilih duniawiah seperti keinginannya semula, atau pilihan akhirat, di mana ia harus bersabar dan menyucikan jiwanya. Dan Abu Sa’id sepertinya lebih condong untuk memilih kehidupan akhirat seperti dicontohkan Nabi SAW dan umumnya para sahabat lainnya.
Abu Said menjalani kehidupan dengan apa adanya seperti air mengalir, karena ia meyakini pada dasarnya rezeki telah dijamin Allah. Seperti kebanyakan sahabat yang hidup dalam keadaan miskin, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah dan menghadiri majelis pengajaran Rasulullah SAW. Ketika ada pasukan yang akan dikirim untuk suatu pertempuran, maka ia akan ikut serta, karena ia sangat menginginkan bisa memperoleh kesyahidan seperti ayahnya. Tetapi tampaknya Allah mempunyai rencana yang lain untuk dirinya selain kesyahidan.
Dengan usianya yang muda, ia lebih mudah menyerap dan merekam pengajaran dan contoh perilaku Nabi SAW. Ia mengalami pergantian khalifah demi khalifah, dan pengenalannya akan Rasulullah SAW menjadikan dirinya salah satu sahabat yang menjadi sumber rujukan bagi mereka yang ingin mengenal beliau lebih dalam, khususnya bagi mereka yang belum pernah bertemu Nabi SAW. Itulah sebabnya di kemudian hari Abu Sa'id al Khudri menjadi salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Ia meninggal di masa Daulah Umayyah, yakni pada pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Senin, 08 April 2013

Abdullah bin Umar RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW, Peniru Nabi SAW yang (Hampir) Sempurna

Abdullah bin Umar adalah putra Umar bin Khaththab, dan ia telah memeluk Islam semenjak kanak-kanak ketika masih di Makkah. Ia bergaul dengan Rasulullah SAW sepanjang masa anak-anak dan remajanya. Pada saat terjadinya Perang Uhud, bersama beberapa orang pemuda/remaja lainnya ia menghadap Rasulullah SAW untuk ikut serta dalam pertempuran tersebut, tetapi beliau tidak mengijinkan mereka. Saat itu usianya memang belum genap 15 tahun.
Dalam usianya yang masih sangat muda, Ibnu Umar sangat mencintai Nabi SAW. Dalam setiap kesempatan yang dimilikinya, ia selalu mengamati dan mengikuti aktivitas Nabi SAW. Ia melihat ada seorang lelaki yang selalu mendatangi Nabi SAW untuk menceritakan mimpinya jika ia bermimpi. Karena itu ia sangat ingin bisa bermimpi, agar bisa menceritakan mimpinya kepada Nabi SAW seperti lelaki tersebut. 
Suatu ketika ia tidur di masjid, dan memimpikan sesuatu yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Ia merasa memegang suatu kain sutera, dan tidaklah tergerak di hatinya suatu tempat di surga, kecuali kain sutera itu akan menariknya (membawanya) terbang ke tempat tersebut. Tiba-tiba ada dua malaikat datang dan membawanya ke neraka. Di sana ia melihat bangunan seperti sumur yang mempunyai dua cabang, dan di dalam sumur tersebut banyak orang yang dikenalinya. Muncul kekhawatiran dalam dirinya, sehingga ia berkata, "Semoga Allah melindungiku dari neraka ini…!"
Kemudian datang malaikat yang lain, yang mengatakan agar ia tidak takut dengan neraka tersebut. Setelah itu ia terbangun dari tidurnya.
Walau keinginannya untuk bermimpi telah terpenuhi, ternyata Ibnu Umar tidak punya keberanian untuk menceritakan mimpinya tersebut kepada Nabi SAW seperti yang diinginkan sebelumnya. Karena itu ia menceritakannya kepada kakaknya yang juga istri Nabi SAW, Hafshah. Ketika Hafshah menceritakan mimpi tersebut kepada Nabi SAW, beliau bersabda, "Abdullah bin Umar adalah anak yang baik, saya berharap semoga ia selalu melaksanakan shalat malam."
Setelah Hafshah menyampaikan sabda Nabi SAW tersebut, Ibnu Umar selalu mengerjakan shalat malam, dan tidur hanya sebentar saja. 
Abdullah bin Umar dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meneladani Nabi SAW, dalam sikap dan perilaku beliau, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tak berarti. Ia selalu memperhatikan apa yang dilakukan Nabi SAW, dan kemudian menirunya dengan cermat dan teliti, agar semaksimal mungkin bisa sama. Misalnya ia melihat Nabi SAW shalat di suatu tempat, maka di tempat yang sama, ia akan melakukan shalat seperti beliau. Jika Nabi SAW berdoa dengan berdiri, ia juga akan berdoa dengan berdiri di tempat tersebut.
Pernah, di suatu tempat di Makkah, ia melihat Nabi SAW berputar dua kali dengan untanya sebelum turun dan shalat dua rakaat. Maka setiap kali ia melewati tempat itu, ia akan memutar untanya dua kali, kemudian turun dan shalat dua rakaat seperti yang pernah dilakukan Nabi SAW. Padahal bisa saja unta Nabi SAW itu memutar sekedar untuk mencari tempat yang tepat untuk berhenti dan beristirahat.
Begitulah kesetiaan Abdullah bin Umar dalam mengikuti jejak langkah Nabi SAW, sehingga Ummul Mukminin, Aisyah RA pernah berkata,  "Tak seorangpun mengikuti jejak Rasulullah SAW di tempat-tempat pemberhentian beliau, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar…."
Hampir tidak ada suatu perilaku Nabi SAW, yang diketahuinya yang tidak ditirunya. Setelah beberapa tahun berlalu sepeninggal Nabi SAW, ia ingat sesuatu yang ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh beliau dan ia belum menirunya. Waktu Fathul Makkah, beliau masuk ke dalam Ka'bah. Yang diketahuinya beliau menghancurkan berhala-berhala, setelah itu ia tidak tahu. Karenanya ia segera mencari Bilal bin Rabah yang saat itu mengikuti beliau masuk ke dalam Ka'bah untuk menanyakan hal tersebut. Atas pertanyaannya ini Bilal berkata, "Beliau berdiri di antara dua tiang Ka'bah dan shalat dua rakaat…."
Mendengar penjelasan ini Abdullah bin Umar menangis penuh penyesalan, beberapa kali ia mengunjungi dan masuk ke dalam Ka'bah, tetapi ia tidak pernah shalat dua rakaat seperti itu. Ia sangat sedih dan merasa telah gagal meneladani Nabi SAW, seolah-olah sekian banyak ibadah, jihad, kedermawanan dalam membelajakan hartanya di jalan Allah, dan berbagai amal kebaikan yang dilakukannya tidak bisa menebus kelalaiannya dalam mengamalkan dua rakaat yang dilakukan Nabi SAW di dalam Ka'bah tersebut.
Karena ‘kebiasaan uniknya’ tersebut, banyak sekali sahabat atau orang-orang yang tidak sempat bertemu Nabi SAW, berdoa, “Ya Allah, panjangkanlah usia Abdullah bin Umar selama Engkau menetapkanku untuk bisa meneladaninya. Karena sesungguhnya aku tidak mengetahui seseorang yang perilakunya paling menyerupai Rasulullah SAW selain dirinya!!”
Beberapa sahabat lainnya berkata, “Tidak ada seorangpun dari sahabat Nabi SAW yang sangat berhati-hati terhadap hadits, seperti hati-hatinya Abdullah bin Umar!!”
Dengan kesetiaannya meneladani Nabi SAW dan mengikuti pengajaran-pengajaran beliau, Abdullah bin Umar tumbuh menjadi seorang yang alim, abid dan zuhud, sebagaimana ayahnya, Umar bin Khaththab. Banyak sekali sahabat Nabi SAW mengakui ketaqwaannya, hingga ketika Umar hampir wafat, mereka mengusulkan agar putranya tersebut yang menjadi khalifah. Tetapi dengan tegas Umar berkata, “Cukuplah satu orang saja dari keluarga Umar yang akan dihisab (dituntut) dalam urusan (memimpin kaum muslimin) ini, yakni Umar…!!”
Begitu juga ketika Umar kesulitan mencari seseorang untuk menjabat gubernur Kufah, para sahabat mengusulkan Abdullah bin Umar karena kemampuan, kesalehan dan kealimannya. Tetapi lagi-lagi Umar menolak, walau ia yakin putranya tersebut mampu menjalankannya. Bukan berarti ia tidak sayang, justru karena sangat sayangnya kepada Abdullah bin Umar, maka sebisa mungkin ia menghindarkan putranya tersebut dari ‘lingkaran’ pemerintahan, agar langkahnya (hisabnya) di akhirat kelak menjadi ringan.
Saat Utsman bin Affan menjadi khalifah, ia menunjuk Ibnu Umar menjadi qadhi (hakim). Tetapi seperti pendidikan yang diberikan ayahnya, ia segera menolak jabatan tersebut. Ketika Utsman berkata, “Apakah engkau tidak taat kepadaku??”
Ibnu Umar berkata, “Bukan begitu, wahai Amirul Mukminin, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah SAW mengatakan, bahwa hakim itu terbagi tiga. Hakim yang memutuskan perkara dengan kebodohannya, maka ia masuk neraka. Hakim yang memutuskan perkara dengan hawa nafsunya, maka ia masuk neraka juga. Dan satu lagi hakim yang memutuskan dengan ijtihad, dan ijtihadnya itu benar, maka baginya tidak ada dosa dan tidak pula pahala baginya!!”
Ketika Utsman wafat terbunuh dan kaum muslimin mulai terpecah belah, beberapa orang sahabat mendatanginya dan berkata, “Wahai Ibnu Umar, engkau adalah pemimpin umat, dan putra dari pemimpin umat, keluarlah bersama kami, dan kami akan mengajak ummat untuk memba’iat engkau sebagai khalifah!!”
Tetapi seperti ketegasan dan keteguhan yang ditanamkan ayahnya, serta merta ia menolak tawaran tersebut, dan menyibukkan diri dengan ibadah demi ibadah kepada Allah.
Abdullah bin Umar berusia panjang hingga melewati masa-masa fitnah. Ketika terjadi pertentangan antara Ali dan Muawiyah, ia memilih untuk abstain, tidak memihak kepada ke dua belah pihak. Sebenarnya Ali bin Abi Thalib sendiri yang mendatanginya untuk bergabung, tetapi Ibnu Umar berkata, “Saya telah berjanji kepada Allah untuk tidak membunuh seseorang yang telah mengakui (bersyahadat, bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!!”
Setelah mengetahui penolakannya terhadap ajakan Ali, Muawiyah mengirim seorang utusan yang memintanya untuk bergabung dengannya. Tetapi Ibnu Umar menjawab dengan tegas dan lebih ‘pedas’ kepadanya, “Apa yang kamu harapkan daripadaku (yakni dukungan Ibnu Umar), adalah sesuatu yang menjadikan engkau seperti dirimu yang sekarang ini, bahkan lebih (yakni, ambisinya terhadap kekuasaan dan kesombongan). Aku tidak menyertai Ali bukan karena curiga kepadanya, demi Allah yang nyawaku di tangan-Nya, aku sama sekali tidak setaraf dengan Ali bin Abi Thalib (yakni, jauh lebih rendah), baik dalam keimanan, hijrah ataupun kedudukannya di sisi Rasulullah SAW, serta perjuangannya melawan kemusyrikan…. Akan tetapi apa yang terjadi sekarang ini belum terjadi di masa Nabi SAW, sehingga saya bersikap tidak memihak. Janganlah pernah mencoba untuk mempengaruhi saya lagi!!”
Setelah itu Abdullah bin Umar memilih menyendiri, sibuk beribadah serta melazimi sunnah dan perilaku Nabi SAW seperti yang selama ini banyak dilakukannya. Tetapi kondisi ‘politik’ dan kekuasaan Islam saat itu makin memanas setelah Ali bin Abi Thalib terbunuh. Para pemegang kekuasaan tidak lagi meneladani Nabi SAW dan para sahabat terdahulu, tetapi lebih seperti para Kaisar Romawi ataupun Kisra Persia, kedzaliman yang merajalela karena jabatannya. Banyak sekali peristiwa ‘hitam’ dalam sejarah Islam yang terjadi saat itu, sehingga membuat Ibnu Umar harus mengkritisi mereka. Mungkin tidak banyak berarti, tetapi setidaknya ia telah menyampaikan kebenaran yang diketahuinya dari Nabi SAW, dan itu adalah jihad yang sangat besar. Perkataan atau kalimat yang benar, yang disampaikan di hadapan penguasa yang dzalim.
Setelah meninggalnya khalifah Muawiyah bin Yazid pada tahun 64 hijriah, Marwan bin Hakam, salah seorang tokoh dan sesepuh Bani Umayyah, meminta Abdullah bin Umar untuk menjadi khalifah. Ibnu Umar memang bukan dari Bani Umayyah, tetapi salah satu keponakan (anak saudaranya) perempuannya ada yang dinikahi oleh putra Marwan, Abdul Azis bin Marwan. Atas dasar kedekatan hubungannya (dari perkawinan) inilah Ibnu Umar diminta untuk menjadi khalifah, yang tentu saja ditolaknya mentah-mentah. Apalagi ‘track record’ kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Muawiyah sangat buruk di kalangan para sahabat yang saleh-saleh.
Dengan tegas ia berkata kepada Marwan, “Siapa yang berseru : Mari kita shalat, maka aku akan menyambutnya. Siapa yang berseru : Mari kita mencapai kemenangan (di akhirat, hayya ‘alal falaah), maka aku menyambutnya. Tetapi siapa yang berseru : Mari kita membunuh saudara kita se-Islam, dan mengambil hartanya, maka aku akan berkata : Tidak!!”
         Setelah itu Ibnu Umar memisahkan diri dari dua kelompok kaum muslimin yang terus bertikai, semaksimal mungkin menghindarkan diri untuk tidak terjatuh dalam fitnah yang terus saja berkembang. Ia meninggal beberapa tahun kemudian pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Hanya saja ia sempat berkata sebelum ajal menjemputnya, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu dari dunia ini, kecuali penyesalanku karena tidak bergabung dengan Ali bin Abi Thalib dalam memerangi para pembangkang!!”

Jabir bin Abdullah al Anshari RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Jabir bin Abdullah adalah seorang sahabat Anshar yang cukup banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW. Ia putra salah seorang pahlawan Uhud yang syahid dalam pertempuran tersebut, yaitu Abdullah bin Amr bin Haram. Ketika menghimpun pasukan ke Uhud, ia sebenarnya ikut “mendaftarkan diri” menjadi mujahid dalam pertempuran tersebut bersama ayahnya, tetapi Nabi SAW hanya mengijinkan salah satunya. Akhirnya Jabir mengalah dan mendahulukan ayahnya untuk mengikuti Perang Uhud. 
            Sepulangnya dari perang Uhud, hanya semalam tinggal di Madinah, Nabi SAW kembali menghimpun pasukan untuk mengejar kaum musyrikin Makkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Cukup banyak yang ingin bergabung, termasuk sekitar tigaratus kaum munafiqin pimpinan Abdullah bin Ubay, yang dalam perang Uhud mereka “ngacir’ (pulang dahulu, desersi) sebelum pertempuran dimulai. Tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, "Yang boleh bergabung dalam pasukan ini, hanyalah orang-orang yang sebelumnya mengikuti perang Uhud." 
            Jabir datang kepada Nabi SAW dan meminta ijin untuk mengikuti pasukan tersebut, ia berkata, "Ya Rasulullah SAW, aku sangat senang bila senantiasa mengiringi engkau berjuang di jalan Allah. Tetapi kemarin itu ayahku meminta agar aku tinggal di rumah mengurusi saudara-saudaraku. Karena itu, ijinkanlah aku mengikuti peperangan kali ini, sebagai ganti ayahku yang telah syahid di medan Uhud."
            Sebenarnya Nabi SAW mengijinkan mereka yang dalam kesedihan karena kehilangan anggota keluarganya di Uhud untuk tetap tinggal di Madinah. Karena itu beliau menyarankan Jabir untuk tidak menyertai pasukan ini. Tetapi Jabir tetap memaksa sehingga beliau mengijinkannya ikut serta. Peperangan yang dikenal dengan nama Hamra'ul Asad ini, akhirnya tidak sampai terjadi kontak bersenjata, karena pasukan kaum Quraisy ketakutan, dan lebih memilih kembali ke Makkah.
            Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram atau dikenal dengan nama Abu Jabir, gugur di Uhud dengan meninggalkan hutang, maka Jabir datang kepada Nabi SAW untuk minta tolong membebaskan hutang-hutangnya. Beliau-pun menyampaikan permintaan Jabir tersebut, tetapi para pemberi hutang tersebut enggan untuk memenuhinya. Karena itu Nabi SAW bersabda pada Jabir, “Pergilah, atur kurmamu yang bermacam-macam itu, ajwah sebagian, azqa zaid sebagian, dan beberapa lainnya. Beritahukanlah kepadaku jika selesai!" 
            Jabir melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi SAW dan segera diberitahukan kepada Nabi SAW setelah selesai. Beliau memerintahkan Jabir untuk memanggil semua orang yang menghutangi ayahnya. Ketika mereka semua telah berkumpul, beliau duduk di atas atau di tengah-tengah kurma tersebut dan beliau bersabda kepada Jabir, "Takarlah, dan bayarkan kepada mereka yang berpiutang kepada ayahmu…!"
            Mereka yang menagih hutang ayahnya maju satu persatu, Jabir menakar dan memberi tambahan secukupnya, sehingga semua tanggungan ayahnya dapat diselesaikan, dan anehnya kurma-kurmanya yang berada di sekitar Nabi SAW duduk tidak berkurang sedikitpun. 
            Sungguh suatu peristiwa menakjubkan dimana mu’jizat Nabi SAW membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Jabir bin Abdullah. Ada satu peristiwa lagi, dimana mu’jizat Nabi SAW ikut “campur tangan” sehingga niat baik Jabir yang sebenarnya kecil dan sederhana saja, menjadi berdampak besar dan bermanfaat bagi banyak orang.
            Peristiwa ini terjadi saat penggalian parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, sebagai benteng pertahanan atas rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy Makkah dan sekutunya. Penggalian parit dengan panjang 30 km, sedalam 3 meter dan lebarnya 7 meter tersebut berlangsung selama hampir satu bulan. Tidak jarang para sahabat yang menegrjakan penggalian parit ini dilanda kelaparan karena keterbatasan makanan, termasuk juga Nabi SAW.
            Suatu ketika Jabir melihat Nabi SAW dalam keadaan sangat lapar. Memang, ia tidak melihat Nabi SAW memakan sesuatu dalam tiga hari terakhir, kecuali hanya air putih. Bahkan beliau telah mengganjal perut beliau dengan batu untuk mengurangi efek lapar. Jabir memiliki seekor kambing kecil yang tidak terlalu gemuk, dan ia ingin mempersembahkannya untuk Rasulullah SAW, karena itu ia diam-diam pulang. Ia menyembelih dan membakar kambing tersebut, dan menyuruh istrinya untuk membuat roti dari gandum. 
            Setelah makanan siap, dengan diam-diam ia mengundang Rasulullah SAW saja untuk datang ke rumahnya. Begitu menerima undangan Jabir, Beliau meminta seseorang mengumumkan undangan itu, "Pergilah kalian semua ke rumah Jabir."
            Jabir-pun terkejut dan menggumam, "Innalillahi wa innaa ilaihi rooji'un." 
            Tetapi ia tidak berkata apa-apa dan mengiringi Rasulullah SAW berjalan ke rumahnya, diikuti semua orang yang menggali parit. Istri Jabir begitu terkejut melihat rombongan besar itu dan bertanya kepada suaminya, tetapi Jabir berkata, “Rasulullah SAW lebih tahu apa yang beliau lakukan!!” 
            Istri Jabir segera menghidangkan roti dan daging yang tidak seberapa itu. Rasulullah SAW duduk menghadapi makanan, setelah berdoa dan membaca basmalah, beliau mulai menyantap. Setelah selesai, Nabi SAW menyuruh satu rombongan, sebanyak sepuluh orang, masuk untuk makan. Setelah mereka ini kenyang dan keluar rumah Jabir, satu rombongan lagi diperintahkan masuk untuk makan sekenyang-kenyangnya. Begitu seterusnya berulang-ulang hingga semua sahabat pekerja khandaq terobati rasa laparnya, dan memiliki tenaga baru untuk menggali parit pertahanan. Sungguh keberkahan karena doa Rasulullah SAW dan keikhlasan Jabir bin Abdullah.
            Jabir selalu menyertai Rasulullah SAW dalam berbagai pertempuran setelah Perang Uhud tersebut. Tidak jarang ia mengalami dan meyaksikan peristiwa luar biasa (mu’jizat) Rasulullah SAW seperti dalam perang Khandaq tersebut. Pernah dalam suatu perjalanan atau pertempuran, mereka masuk waktu shalat asar di tengah ‘belantara’ padang pasir yang gersang. Persediaan air yang ada hanya satu geriba, hanya mencukupi untuk berwudhu dan minum beberapa orang saja.  Beberapa sahabat pergi menyebar, tetapi tidak ditemukan sumber air untuk berwudhu ataupun minum.
            Akhirnya Nabi SAW memerintahkan agar air tersebut dituang ke dalam wadah (baskom), sambil berdoa beliau memasukkan tangan beliau ke dalam wadah tersebut dan membuka jari-jarinya. Dan sungguh mencengangkan, dari sela jari-jari beliau mengalir air sehingga air dalam wadah tersebut meluap. Beliau bersabda, “Marilah, siapa yang ingin berwudhu dan minum, ini adalah berkah dari Allah!!”
           Satu persatu para sahabat datang untuk berwudhu dan minum. Setelah semua selesai, mereka mengisi tempat-tempat air (geriba)-nya hingga penuh. Setelah tidak ada lagi yang mengambil airnya, Nabi SAW mengeluarkan tangan beliau dari wadah tersebut dan air-pun berhenti mengalir. Nabi SAW berwudhu dan minum dari wadah tersebut, dan Jabir yang memang berada di sebelah beliau yang menuangkannya.
           Sewaktu Jabir meriwayatkan peristiwa ini, ada yang menanyakan berapa jumlah sahabat yang ikut dalam pasukan tersebut. Jabir berkata, “Sekitar seribu empatratus orang sahabat!!”
           Jabir bin Abdullah berusia lanjut, dan sempat mengalami masa-masa fitnah, hanya saja tidak ada (atau, saya belum menemukan) penjelasan bagaimana sikap dan perannya saat itu. Bisa jadi ia memilih berada di luar wilayah pertikaian, karena sebagian besar sahabat Anshar seperti dirinya memang ‘terabaikan’ oleh pemerintahan muslim saat itu. Satu hal yang memang telah pernah ‘diramalkan’ jauh sebelumnya oleh Nabi SAW, yakni setelah selesainya Perang Hunain. Ia meninggal di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah. 

Sabtu, 09 Maret 2013

Abu Musa al Asy'ari RA (Abdullah bin Qais), Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

Abdullah bin Qais RA, atau lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Musa al Asy'ari telah memeluk Islam ketika Nabi SAW masih berada di Makkah. Abu Musa yang berasal dari kabilah Bani Asy’ari (Kaum Asy’ariyyiin) di Yaman ini, sejak awal memang tidak menyukai kebiasaan orang-orang Arab jahiliah menyembah berhala. Karena itu, setelah mendengar adanya seseorang yang menyeru kepada agama tauhid dan mencela berhala-berhala, ia segera memacu tunggangannya mengarungi padang pasir luas menuju Makkah.
Setelah bertemu dengan Nabi SAW dan mendengar penjelasan beliau tentang Risalah Islam yang beliau bawa, tanpa keraguan sedikitpun Abu Musa berba'iat memeluk Islam. Ia tinggal beberapa waktu di Makkah untuk memperoleh pengajaran Nabi SAW, kemudian beliau menyuruhnya kembali dahulu ke daerahnya, sampai nanti Islam telah memperoleh kemapanan. Akan berbahaya baginya kalau tetap tinggal di Makkah saat itu, karena kaum kafir Quraisy tidak henti-hentinya melakukan halangan dan penyiksaan kepada mereka yang mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah SAW.
Beberapa tahun berlalu, Abu Musa berhasil mendakwahkan Islam di kabilahnya di Yaman. Ia juga mendengar bahwa Nabi SAW dan kaum muslimin telah tinggal di Madinah dan memperoleh kemapanan di sana. Ketika ia mendengar Nabi SAW menghimpun pasukan untuk menyerang Khaibar, bersama limapuluh orang lebih, termasuk  dua saudara kandungnya, Abu Ruhum dan Abu Burdah, ia memutuskan berhijrah ke Madinah. Ia berharap bisa bergabung dan berjihad bersama beliau dalam peperangan tersebut.
Abu Musa dan kaum muslimin yang bersamanya, memutuskan melalui jalur lautan dengan perahu karena dianggapnya lebih cepat daripada harus mengarungi padang pasir. Tetapi perahu mereka terdampar di Habasyah karena mengalami kerusakan. Ja'far bin Abu Thalib yang masih tinggal di sana menjumpai rombongan tersebut di pesisir, ia berkata kepada Abu Musa, "Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kami tinggal di sini, maka menetaplah bersama kami di sini!"
Tidak ada pilihan lain bagi Abu Musa kecuali memenuhi tawaran Ja'far, sambil memperbaiki perahu mereka. Tetapi belum lama tinggal di sana, datang utusan Rasulullah SAW yang memerintahkan mereka agar segera berhijrah ke Madinah. Dua rombongan inipun kembali berperahu menyeberangi Laut Merah, kemudian menyeberang padang pasir menyusul Rasulullah SAW yang masih berada di Khaibar. Mereka berharap masih bisa ikut berjihad melawan kaum Yahudi di sana, tetapi ternyata mereka bertemu Nabi SAW ketika pasukan muslim telah menaklukan Khaibar. Beliau menyambut gembira dua rombongan muhajirin ini dan memberikan bagian ghanimah perang Khaibar kepada mereka.
Nabi SAW menggelari kelompok Abu Musa sebagai kaum Asy'ari atau Asy'ariyyin, dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Beliau memberi gambaran tentang mereka, "Kaum Asy'ariyyin ini, bila mereka ditimpa kekurangan makanan dalam pertempuran atau dilanda paceklik, mereka mengumpulkan semua makanan yang tersisa pada selembar kain, lalu mereka membagi rata. Mereka ini termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka…!!"
Suatu ketika Umar bin Khaththab mendatangi rumah putrinya yang juga istri Rasulullah SAW, Hafshah. Di sana ia bertemu dengan Asma binti Umais, yang ikut berhijrah ke Habasyah. Ia menanyakan kepada Hafshah siapa tamunya tersebut. Setelah dijelaskan sebagai Asma binti Umais, Umar berkata, "Apakah yang berhijrah ke Habasyah dan berlayar di lautan itu?"
Asma mengiyakan. Umar berkata lagi, "Kami telah mendahului kalian dalam berhijrah (ke Madinah), sehingga kami lebih berhak kepada Rasulullah SAW daripada kalian."
Asma binti Umais tidak terima dengan pernyataan Umar dan membantahnya. Ia juga berkata kepada Umar  bahwa akan mengadukan perkara ini kepada Nabi SAW. Tak lama setelah Umar pulang, Nabi SAW datang. Asma  menceritakan perbedaan pendapat antara dirinya dan Umar dengan lengkap dan terperinci. Beliau bersabda, "Umar tidak lebih berhak kepadaku daripada kalian, karena ia dan sahabat-sahabatnya hanya berhijrah sekali, sementara kalian turut serta dalam rombongan perahu dan berhijrah dua kali."
Ketika mendengar peristiwa Asma dan Umar tersebut, Abu Musa dan kaum Asy'ariyyin lainnya segera mendatangi Asma, dan memintanya menceritakan lagi berulang-ulang. Mereka ikut merasa bangga karena mereka bersama-sama dalam satu kapal dengan para sahabat yang berhijrah dari Habasyah.
Abu Musa al Asy'ary merupakan tipikal sahabat yang lengkap. Seorang yang saleh dan alim, rajin beribadah dan menuntut ilmu ketika sedang mukim (tidak sedang berjihad), dan seorang prajurit yang perkasa, cerdik dan arif  ketika sedang terjun dalam berbagai pertempuran, tanpa kehilangan keikhlasannya.
Allah memberikan karunia suara yang luar biasa kepada Abu Musa al Asy'ary. Kalau ia membaca Al Qur'an, suaranya akan mendayu menggetarkan hati. Para sahabat enggan meninggalkan masjid kalau ia sedang melantunkan kalam Ilahi, seakan ada magnit yang menahan mereka untuk mendengarkan bacaannya sampai selesai. Nabi SAW pernah bersabda tentang suaranya ini, "Sungguh, Abu Musa telah diberi Allah seruling dari seruling-seruling keluarga Daud…!!"
Nabi Daud AS memang seorang nabi yang dikaruniai Allah SWT suara yang luar biasa indahnya. Ketika beliau sedang mengaji (melantunkan bacaan) Zabur atau sedang berdzikir, pastilah burung-burung, gunung-gunung, dan berbagai binatang lainnya mendengarkan dan ikut serta bertasbih kepada Allah, mengiringi alunan suara beliau.
Ketika menjabat khalifah, Umar bin Khaththab seringkali memanggil Abu Musa dan berkata, "Bangkitkanlah kerinduan kami kepada Tuhan kami, wahai Abu Musa….!!"
Dari seorang hamba yang sedang khusyu' beribadah, bahkan terkadang ia menangis dalam tawajuh-tawajuhnya, tiba-tiba Abu Musa berubah menjadi prajurit tangguh di garis depan, ketika ia terjun dalam pertempuran. Sejak bergabung dengan Nabi SAW di Madinah, ia hampir selalu mengikuti berbagai pertempuran untuk menegakkan panji-panji Islam, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Sebagai gambaran bagaimana semangatnya dalam terjun di medan jihad ini, ia berkata, "Kami pernah mengikuti suatu pertempuran bersama Rasulullah SAW hingga terompah (sepatu) kami pecah dan berlobang, begitu juga dengan sepatuku, sehingga kuku jariku habis terkelupas. Terpaksa kami harus membalut telapak kaki-kaki kami dengan sobekan kain…!!"
Peristiwa yang dimaksudkan Abu Musa itu adalah perang Dzatur Riqa, yang terjadi pada tahun 7 hijriah. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan yang dirasakan para sahabat tersebut, apalagi dalam perjalanan di padang pasir yang panas menyengat. Mengenai kegigihan Abu Musa di medan jihad ini, Nabi SAW bersabda, "Pemimpin dari orang-orang yang berkuda (dalam pertempuran) adalah Abu Musa….!!"
Di masa khalifah Umar, Abu Musa diangkat sebagai pemimpin dari pasukan untuk membebaskan Isfahan dari belenggu tirani Persia. Setelah bertempur beberapa waktu lamanya dan pasukan Persia hampir kalah, mereka minta berdamai dan berjanji untuk membayar upeti, tetapi mereka meminta tempo waktu untuk mengumpulkan hartanya. Abu Musa memenuhi permintaan tersebut, namun demikian ia memerintahkan pasukannya untuk tetap siaga dan tidak menurunkan kewaspadaan. Ia mencium siasat busuk dalam permintaan damai pasukan Persia ini. Benarlah apa yang diperkirakan Abu Musa, pada waktu yang tidak terduga, pasukan Persia melakukan penyerangan mendadak terhadap pasukan muslim. Disangkanya pasukan muslim sedang terlena dan tidak bersiaga, tetapi mereka salah besar, dan akhirnya dengan mudah pasukan Persia dikalahkan, jatuhlah Isfahan ke pelukan Islam.
Di masa Khalifah Umar juga, Abu Musa ikut terjun dalam pasukan besar untuk menyerang Tustar, benteng terakhir imperium Persia. Setelah makin banyak wilayah Persia yang jatuh atau bergabung dengan Islam, seluruh pasukan Persia ditarik mundur ke kota Tustar. Kota yang dikelilingi dengan benteng ini dipertahankan habis-habisan oleh pasukan Persia yang dipimpin oleh Hurmuzan.
Pasukan muslim mengepung kota tersebut selama berhari-hari, tetapi tidak mudah untuk menerobos dan melumpuhkannya.  Ketika banyak cara yang dicoba untuk menerobos benteng Persia mengalami kegagalan, Abu Musa menyusun suatu siasat. Ia mengirim beberapa prajurit perintis yang menyamar sebagai pedagang, dan beberapa prajurit lainnya lagi sebagai pengembala. Dengan membawa duaratus ekor kuda dan beberapa domba, mereka mulai berjalan  dari tempat yang cukup jauh dari batas kota Tustar. Sementara itu pasukan induk bersembunyi di sekitar pintu gerbang benteng. Ketika sekelompok "pedagang dan penggembala" ini tiba di pintu gerbang, pasukan Persia membukakan pintu untuk mereka. Tetapi sebelum sempat mereka menutup kembali, pasukan perintis yang menyamar ini melakukan penyerangan, diikuti kemudian oleh pasukan induk yang menerobos pintu gerbang Kota Tustar. Terjadi pertempuran dahsyat antara kedua pasukan, sampai akhirnya pasukan Persia menyerah kalah.
Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali dan Muawiyah, yang kemudian berakhir dengan perang Shiffin, Abu Musa memilih untuk tidak terlibat dalam kedua belah pihak, sebagaimana sikap beberapa orang sahabat. Ia melihat, penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali telah berkembang menjadi pertentangan antara dua wilayah Islam, penduduk Syam yang mendukung Muawiyah dan penduduk Irak yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Memang, sejak diangkat menjadi khalifah, Ali memindahkan ibukota Islam dari Madinah ke Kufah di Irak.
Perang Shiffin berakhir dengan peristiwa Tahkim (lihat peristiwanya dalam kisah "Amr bin Ash RA"), Muawiyah mengirimkan Amr bin Ash sebagai wakilnya, dan Ali mengirimkan Abu Musa al Asy'ari untuk melakukan perundingan. Sebenarnya Ali ingin mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai wakilnya dalam perundingan, karena ia sangat mengenal tipikal Muawiyah dan Amr bin Ash yang suka sekali bersiasat, sementara Abu Musa adalah tipikal sahabat saleh yang tulus ikhlas dan tidak pernah berprasangka buruk kepada sesama muslim. Tetapi karena mayoritas pendukungnya memilih Abu Musa dalam tahkim tersebut, Ali menerimanya, walaupun ia bisa menduga kesudahannya.
Pada dasarnya Abu Musa mengetahui bahwa Ali berada di pihak yang benar, tetapi perkembangan situasi  mengarah pada perpecahan umat, karena itu ia menginginkan agar umat Islam kembali bersatu dan meninggalkan pertentangan antara Ali dan Muawiyah. Biarlah mereka memilih kembali pemimpinnya secara demokratis. Tetapi sebaliknya dengan Amr bin Ash, ia hanya punya tujuan agar Muawiyah tetap menjadi khalifah.
Dengan kelicinan siasatnya, Amr berhasil "memanfaatkan" kesalehan dan ketulusan Abu Musa untuk mencapai tujuannya tersebut. Wakil dari dua kubu tersebut, Abu Musa dan Amr bin Ash bersepakat bahwa Ali dan Muawiyah harus melepaskan jabatan masing-masing, setelah itu melakukan ‘pemilihan langsung’, siapakah khalifah yang dikehendaki oleh mayoritas. Amr bin Ash meminta Abu Musa untuk terlebih dahulu ‘melucuti’ jabatan Ali, baru dirinya ‘melucuti’ jabatan Muawiyah. Tetapi ternyata, setelah Abu Musa melakukannya, Amr bin Ash bukannya melucuti, bahkan menetapkan dan mengukuhkan Muawiyah sebagai khalifah kaum muslimin. Tentu saja Abu Musa tidak berkutik, dan tidak mungkin baginya ‘menjilat kembali’ perkataannya kepada kaum muslimin, walau dicurangi seperti itu.
Ia hanya bisa mendebat Amr bin Ash, tetapi tidak mungkin membalikkan keadaan. Inilah petikan apa yang dikatakan Abu Musa dalam peristiwa tahkim tersebut. Ketika Amr bin Ash berkata bahwa Muawiyah berhak atas kekhalifahan karena ia orang yang mulia, dan pewaris serta penuntut balas yang tepat atas terbunuhnya Khalifah Utsman, Abu Musa berkata, "Mengenai kemuliaan Muawiyah, kalau kekhalifahan bisa diperoleh karena kemuliaan, maka yang paling berhak adalah Abrahah bin Shabah, karena ia keturunan dari Raja-raja Yaman Attababiah, yang menguasai bagian barat dan timur dari bumi ini. Dan, apalah artinya kemuliaan Muawiyah dibandingkan dengan Ali bin Abi Thalib…Dan, mengenai Muawiyah sebagai wali Utsman, tentulah lebih utama puteranya sendiri, Amr bin Utsman…!!"
Abu Musa terus melakukan bantahan dan kata-kata sengit, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk diucapkannya, atau oleh kaum Asy'ariyyin lainnya yang berhati lembut, kepada Amr bin Ash. Setelah itu ia meninggalkan  tempat tersebut dan mengasingkan diri ke Makkah. Ia tinggal di dekat Masjidil Haram dan menghabiskan sisa usianya dengan ibadah demi ibadah hingga maut menjemputnya, masih di masa pemerintahan Muawiyah ini.
Di saat-saat terakhir kehidupannya, ia berpesan, “Jika aku telah meninggal, janganlah ada tangisan yang mengiringiku, dan dalamkanlah ruang kuburku!!”