Senin, 08 April 2013

Jabir bin Abdullah al Anshari RA, Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits Nabi SAW

            Jabir bin Abdullah adalah seorang sahabat Anshar yang cukup banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW. Ia putra salah seorang pahlawan Uhud yang syahid dalam pertempuran tersebut, yaitu Abdullah bin Amr bin Haram. Ketika menghimpun pasukan ke Uhud, ia sebenarnya ikut “mendaftarkan diri” menjadi mujahid dalam pertempuran tersebut bersama ayahnya, tetapi Nabi SAW hanya mengijinkan salah satunya. Akhirnya Jabir mengalah dan mendahulukan ayahnya untuk mengikuti Perang Uhud. 
            Sepulangnya dari perang Uhud, hanya semalam tinggal di Madinah, Nabi SAW kembali menghimpun pasukan untuk mengejar kaum musyrikin Makkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Cukup banyak yang ingin bergabung, termasuk sekitar tigaratus kaum munafiqin pimpinan Abdullah bin Ubay, yang dalam perang Uhud mereka “ngacir’ (pulang dahulu, desersi) sebelum pertempuran dimulai. Tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, "Yang boleh bergabung dalam pasukan ini, hanyalah orang-orang yang sebelumnya mengikuti perang Uhud." 
            Jabir datang kepada Nabi SAW dan meminta ijin untuk mengikuti pasukan tersebut, ia berkata, "Ya Rasulullah SAW, aku sangat senang bila senantiasa mengiringi engkau berjuang di jalan Allah. Tetapi kemarin itu ayahku meminta agar aku tinggal di rumah mengurusi saudara-saudaraku. Karena itu, ijinkanlah aku mengikuti peperangan kali ini, sebagai ganti ayahku yang telah syahid di medan Uhud."
            Sebenarnya Nabi SAW mengijinkan mereka yang dalam kesedihan karena kehilangan anggota keluarganya di Uhud untuk tetap tinggal di Madinah. Karena itu beliau menyarankan Jabir untuk tidak menyertai pasukan ini. Tetapi Jabir tetap memaksa sehingga beliau mengijinkannya ikut serta. Peperangan yang dikenal dengan nama Hamra'ul Asad ini, akhirnya tidak sampai terjadi kontak bersenjata, karena pasukan kaum Quraisy ketakutan, dan lebih memilih kembali ke Makkah.
            Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram atau dikenal dengan nama Abu Jabir, gugur di Uhud dengan meninggalkan hutang, maka Jabir datang kepada Nabi SAW untuk minta tolong membebaskan hutang-hutangnya. Beliau-pun menyampaikan permintaan Jabir tersebut, tetapi para pemberi hutang tersebut enggan untuk memenuhinya. Karena itu Nabi SAW bersabda pada Jabir, “Pergilah, atur kurmamu yang bermacam-macam itu, ajwah sebagian, azqa zaid sebagian, dan beberapa lainnya. Beritahukanlah kepadaku jika selesai!" 
            Jabir melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi SAW dan segera diberitahukan kepada Nabi SAW setelah selesai. Beliau memerintahkan Jabir untuk memanggil semua orang yang menghutangi ayahnya. Ketika mereka semua telah berkumpul, beliau duduk di atas atau di tengah-tengah kurma tersebut dan beliau bersabda kepada Jabir, "Takarlah, dan bayarkan kepada mereka yang berpiutang kepada ayahmu…!"
            Mereka yang menagih hutang ayahnya maju satu persatu, Jabir menakar dan memberi tambahan secukupnya, sehingga semua tanggungan ayahnya dapat diselesaikan, dan anehnya kurma-kurmanya yang berada di sekitar Nabi SAW duduk tidak berkurang sedikitpun. 
            Sungguh suatu peristiwa menakjubkan dimana mu’jizat Nabi SAW membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Jabir bin Abdullah. Ada satu peristiwa lagi, dimana mu’jizat Nabi SAW ikut “campur tangan” sehingga niat baik Jabir yang sebenarnya kecil dan sederhana saja, menjadi berdampak besar dan bermanfaat bagi banyak orang.
            Peristiwa ini terjadi saat penggalian parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, sebagai benteng pertahanan atas rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy Makkah dan sekutunya. Penggalian parit dengan panjang 30 km, sedalam 3 meter dan lebarnya 7 meter tersebut berlangsung selama hampir satu bulan. Tidak jarang para sahabat yang menegrjakan penggalian parit ini dilanda kelaparan karena keterbatasan makanan, termasuk juga Nabi SAW.
            Suatu ketika Jabir melihat Nabi SAW dalam keadaan sangat lapar. Memang, ia tidak melihat Nabi SAW memakan sesuatu dalam tiga hari terakhir, kecuali hanya air putih. Bahkan beliau telah mengganjal perut beliau dengan batu untuk mengurangi efek lapar. Jabir memiliki seekor kambing kecil yang tidak terlalu gemuk, dan ia ingin mempersembahkannya untuk Rasulullah SAW, karena itu ia diam-diam pulang. Ia menyembelih dan membakar kambing tersebut, dan menyuruh istrinya untuk membuat roti dari gandum. 
            Setelah makanan siap, dengan diam-diam ia mengundang Rasulullah SAW saja untuk datang ke rumahnya. Begitu menerima undangan Jabir, Beliau meminta seseorang mengumumkan undangan itu, "Pergilah kalian semua ke rumah Jabir."
            Jabir-pun terkejut dan menggumam, "Innalillahi wa innaa ilaihi rooji'un." 
            Tetapi ia tidak berkata apa-apa dan mengiringi Rasulullah SAW berjalan ke rumahnya, diikuti semua orang yang menggali parit. Istri Jabir begitu terkejut melihat rombongan besar itu dan bertanya kepada suaminya, tetapi Jabir berkata, “Rasulullah SAW lebih tahu apa yang beliau lakukan!!” 
            Istri Jabir segera menghidangkan roti dan daging yang tidak seberapa itu. Rasulullah SAW duduk menghadapi makanan, setelah berdoa dan membaca basmalah, beliau mulai menyantap. Setelah selesai, Nabi SAW menyuruh satu rombongan, sebanyak sepuluh orang, masuk untuk makan. Setelah mereka ini kenyang dan keluar rumah Jabir, satu rombongan lagi diperintahkan masuk untuk makan sekenyang-kenyangnya. Begitu seterusnya berulang-ulang hingga semua sahabat pekerja khandaq terobati rasa laparnya, dan memiliki tenaga baru untuk menggali parit pertahanan. Sungguh keberkahan karena doa Rasulullah SAW dan keikhlasan Jabir bin Abdullah.
            Jabir selalu menyertai Rasulullah SAW dalam berbagai pertempuran setelah Perang Uhud tersebut. Tidak jarang ia mengalami dan meyaksikan peristiwa luar biasa (mu’jizat) Rasulullah SAW seperti dalam perang Khandaq tersebut. Pernah dalam suatu perjalanan atau pertempuran, mereka masuk waktu shalat asar di tengah ‘belantara’ padang pasir yang gersang. Persediaan air yang ada hanya satu geriba, hanya mencukupi untuk berwudhu dan minum beberapa orang saja.  Beberapa sahabat pergi menyebar, tetapi tidak ditemukan sumber air untuk berwudhu ataupun minum.
            Akhirnya Nabi SAW memerintahkan agar air tersebut dituang ke dalam wadah (baskom), sambil berdoa beliau memasukkan tangan beliau ke dalam wadah tersebut dan membuka jari-jarinya. Dan sungguh mencengangkan, dari sela jari-jari beliau mengalir air sehingga air dalam wadah tersebut meluap. Beliau bersabda, “Marilah, siapa yang ingin berwudhu dan minum, ini adalah berkah dari Allah!!”
           Satu persatu para sahabat datang untuk berwudhu dan minum. Setelah semua selesai, mereka mengisi tempat-tempat air (geriba)-nya hingga penuh. Setelah tidak ada lagi yang mengambil airnya, Nabi SAW mengeluarkan tangan beliau dari wadah tersebut dan air-pun berhenti mengalir. Nabi SAW berwudhu dan minum dari wadah tersebut, dan Jabir yang memang berada di sebelah beliau yang menuangkannya.
           Sewaktu Jabir meriwayatkan peristiwa ini, ada yang menanyakan berapa jumlah sahabat yang ikut dalam pasukan tersebut. Jabir berkata, “Sekitar seribu empatratus orang sahabat!!”
           Jabir bin Abdullah berusia lanjut, dan sempat mengalami masa-masa fitnah, hanya saja tidak ada (atau, saya belum menemukan) penjelasan bagaimana sikap dan perannya saat itu. Bisa jadi ia memilih berada di luar wilayah pertikaian, karena sebagian besar sahabat Anshar seperti dirinya memang ‘terabaikan’ oleh pemerintahan muslim saat itu. Satu hal yang memang telah pernah ‘diramalkan’ jauh sebelumnya oleh Nabi SAW, yakni setelah selesainya Perang Hunain. Ia meninggal di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar